Peran dan Fungsi yang Terkikis

 

Ada hal yang menarik ketika terjadi perbincangan dengan seorang teman yang kebetulan berasal etnis Tionghoa campuran Tapanuli beberapa waktu yang lalu. Perbincangan dari jam dua belas yang berakhir jam dua malam. Banyak hal yang kita diskusikan,namun yang lebih dominan adalah tentang etnid Minang. Teman  ini sangat mengagumi orang Minang yang menurutnya hebat-hebat, ia begitu serius dan menggebu menyatakan itu. Kekagumannya itu sungguh-sungguh dia ungkapkan dengan menceritakan riwayat beberapa tokoh nasional yang berasal dari Ranah Bundo. Dia begitu hafal dengan riwayat perjuangan mereka, diantara yang ia sebut itu adalah H. Agus Salim, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Buya Hamka, Imam Bonjol, Rasuna Said, Dahlan Djambek.  Saya  sedikit terheran-heran kok segitu amat teman saya ini mengagumi tokoh-tokoh ini yang mungkin saja sebahagian besar di Ranah Minang sendiri dari generasi saya ke bawah sebahagian besar mungkin hanya mengenal nama namun tidak mengenal seperti apa perjuangan mereka itu.

Saya bertanya kenapa begitu kagumnya ia kepada orang Minang. Jawabnya orang Minang itu hebat. Dia sangat meyakini ada tokoh-tokoh hebat lainnya diluar yang telah dikenal itu dan mendorong saya untuk bisa menuliskan tentang sejarah mereka biar menjadi pengetahuan bagi orang lain. Saya hanya tersenyum menanggapi itu. Teman saya ini bertanya kenapa ya bisa orang Minang ini hebat-hebat, apa yang melatarbelakanginya. Bagi saya tentu saja ada sedikit rasa bangga sebagai orang Minang ketika ia menyebutkan orang Minang hebat. Saya mencoba untuk menjelaskan sebisa dan sebatas pengetahuan yang saya miliki.

Menurut saya kenapa orang Minang bisa hebat? Jawaban saya adalah karena “adatnya”. Ada sebahagian orang Minang sendiri alergi dengan adat Minang itu. Kenapa itu bisa terjadi, jawabannya adalah karena ketidakpahaman mereka tentang intisari ajaran adat itu sendiri. Ketika saya berdiskusi dengan orang tua-tua dan sebahagian generasi yang seangkatan yang sering diutarakan bahwa adat itu adalah, adat nan sabana adat, adat yang teradatkan, adat istiadat yang setiap orang mempunyai penjelasan yang berbeda beda tentang itu. Begitu juga ketika ditanyakan apa sih yang sebetulnya dimaksud dengan “adat basandi syara’, syara’ basandikan kitabullah” penjelasan ini juga berbeda beda satu dengan lainnya. Ada juga yang mengungkapkan adat dan syara’ itu seperti aua jo tabiang, saliang sanda manyanda.

Orang Minang sangat terhina dan marah sekali bila ada orang yang menyebutkan dia tidak beradat, kalau dibilang kafir ia masih bisa cengengesan ketawa. Kenapa bisa demikian, karena semuanya paham bahwa jika disebut tidak beradat, berarti ia tidak berakhlak, tidak memiliki raso jo pareso. Jadi apa sesungguhnya pengertian dari adat itu? Tentu saja Akhlak itu sendiri. Itulah sebabnya menurut pemahaman saya kenapa Islam begitu mengakar di Ranah ini, karena adat dan Islam dalam satu tujuan yang sama, menjadikan manusia itu berakhlak. Karena itulah ungakapan adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah itu yang saya pahami adalah akhlak, akhlak orang Minang berlandaskan kepada syara’ dan syara’ tersebut berlandasakan kepada kitab Allah.

Intisari dari ajaran adat Minang adalah menanamkan rasa malu, saling menghargai dan menghormati, kepedulian, kebersamaan, ke hati-hatian, menjaga kemuliaan kaum perempuan, memahami peran dan fungsi, berfikir untuk generasi yang akan datang. Inilah jawaban kenapa generasi terdahulu itu begitu hebat, karena mereka memahami betul intisari dari ajaran adat itu sendiri.

Seiring dengan pergantian waktu, rasanya tidak lagi banyak kita menemukan tokoh-tokoh dari Ranah ini sehebat generasi terdahulu ini. Tekanan politik dari satu orde ke orde berikutnya telah telah sedikit demi sedikit mengikis ajaran adat. Budaya Pragmatisme  seakan menjadi kultur baru. Tidak kuatnya menahan tekanan politik setidaknya menurut saya telah menghancurkan sendi-sendi adat itu sendiri. Beberapa fungsi dan peran yang strategis mulai tergerus. Perpindahan bentuk pemerintahan Nagari menjadi Desa diakui atau tidak, setelah tahun 1983 memarginalkan peran dan fungsi perangkat adat yang ada.

Ninik Mamak sebagai orang yang menentukan hitam putihnya Nagari terpinggirkan fungsinya dengan memaksa mereka hanya berperan di Kerapatan Adat, fungsi mereka dalam menjaga wibawa Nagari telah dipotong sedemikian rupa. Semakin berjalannya waktu yang ada hanyalah memfungsikan Ninik Mamak dalam acara-acara seremonial belaka. Ninik Mamak tidak lagi mempunyai wibawa, karena sudah tercerai berai dengan jorong-jorong yang telah menjelma menjadi Desa yang di masing jorong-jorong itu sudah memilki aturan pemerintahan sendiri, yakni pemerintahan Desa. Adat yang balaku di salingka Nagari mulai hilang secara perlahan-lahan karena hanyalah bentuk sebuah pemerintahan yang abstrak ketika itu. Hanya tinggal dalam bentuk prosesi-prosesi belaka.

Begitu juga dengan peran dari Alim Ulama. Masjid tidak lagi menjadi pusat yang menentukan dinamika kehidupan masyarakat. Banyak Masjid yang tidak lagi mempunyai perangkat yang berfungsi sebagaimana dalam sistem adat Minang itu. Sebutlah misalnya Qadhi (yang sebagian daerah disebut dengan Angku Kali), tidak lagi berperan dalam memutuskan perkara di Nagari. Begitu juga dengan Imam dan Khatib.

Walaupun pada saat ini, bentuk pemerintahan sudah dikembalikan lagi ke dalam sistem pemerintahan Nagari. Kenyataannya sistem pemerintahan itu belumlah lagi sepenuhnya utuh kembali kepada sistem pemerintahan Nagari yang benar-benar mengakar seperti kultur yang ada ditengah kehidupan masarakat Minangkabau. Sistem ini setidaknya merupakan bentuk lain dari Desa yang berlaku di Jawa. Tapi setidaknya sudah ada sedikit perubahan.

Disisi lain, Ninik Mamak juga mengalami fungsi yang menyempit dan peran yang sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Secara umum, Mamak itu adalah saudara kandung laki-laki dari Ibu, baik kakak maupun adiknya. Namun, pengertian seorang Mamak tidaklah hanya sebatas itu. Mamak adalah laki-laki dewasa yang terbagi dalam hubungan kekerabatan berdasarkan sistem adat Minangkabau. Ada namanya, Mamak nan saparuik, sa payuang, sasuku, sakaum dan sanagari. Pengertian yang saparuik adalah hubungan pertalian darah dalam keluarga yang dihitung dari dua generasi di atasnya dan satu generasi ke bawahnya. Setelah itu hubungan itu akan berubah menjadi hubungan sapayuang kemudian sasuku dan kumpulan terakhir disebut dengansakaum. Peran dan fungsinya ditentukan oleh kedekatan hubungan kekerabatan itu. Semakin dekat hubungan kekerabatan tersebut, maka peran dan fungsi Mamak semakin besar, begitu juga tanggung jawab yang diembannya.

Mamak merupakan instrumen yang sangat penting dalam adat Minangkabau. Kualitas masyarakatnya sangat ditentukan oleh kualitas para Mamaknya. Peran dan fungsinya adalah menjaga nilai dan kultur adat Minang itu sendiri. Tanggungjawab dan peran itu tertuang dalam pepatah adat, Kaluak paku kacang balimbiang,Tampuruang lenggang lenggokan, Di baok anak ka saruaso, Anak di pangku kamanakan dibimbiang, Urang kampuang dipatenggangkan, Tenggang nagari jan binaso. Dari penjelasan peran Mamak dalam ungkapan pepatah adat itu, peran Mamak diperjelas dan dirincikan lagi dalam undang adat, Ka pai tampaik batanyo, Ka pulang tampaik babarito, Kusuik nan ka manyalasai, Karuah nan ka mampajaniah. Tanggung jawab tersebut menuntut bagi Mamak di Minangkabau untuk menjadi pembelajar yang baik.

Sebagai makhluk sosial yang selalu berdinamika di dalam kehidupan sosial tentu saja persoalan-persoalan dalam kehidupan terus saja berkembang menurut alur zamannya. Karena itulah alam takambang manjadi guru. Secara tuntuan Islam tugas dan fungsi Mamak itu sesuai dengan Maqashid Syari’ah dalam memelihara kebutuhandharuri yang lima, menjaga Jiwa (Hifzh an-Nafs), menjaga agama (Hifzh ad-Din), menjaga akal (Hifzh al-‘Aql),menjaga keturunan (Hifzh al-nasl), menjaga harta (Hifzh al- Mal).

Pada akhirnya, menjadi orang Minang adalah menjadi orang yang beragama sekaligus beradat. Menjadi orang yang paham akan fungsi pribadi dan peran dalam masyarakat. Orang Minang dahulu bisa jadi sedemikian hebat karena paham akan fungsi dan peranannya. Jika orang Minang hari ini mengabaikan fungsi dan peran itu, mungkinkah kita akan menemukan Hamka-Hamka baru, Hatta-Hatta baru, Syahrir-Syahrir baru?

Wallahu A’lam

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: