Pergerakan Dinamis al-Qur’an dan Komunikasi Efektif ala Nabi

Al-Qur’an muncul sebagai petunjuk bagi Nabi Muhammad SAW untuk menuntun setiap langkah beliau dalam menyebarkan pesan-pesan Ilahi kepada manusia. Proses penyampaian pesan-pesan Tuhan yang sering dikenal dengan istilah “wahyu” ini selalu bergerak dinamis sembari mengiringi setiap kondisi yang melingkupi perjalanan kehidupan Nabi. Pola-polanya yang senantiasa berubah menjadi indikasi bahwa al-Qur’an turun sesuai dengan kebutuhan Nabi. Hal itu dilakukan demi tercapainya tujuan beliau dalam menyampaikan risalah, yakni agar dapat diterima oleh orang-orang yang menjadi obyek interaksi.

Tatkala Nabi hidup di Mekkah, ayat-ayat al-Qur’an turun dengan pola yang singkat dan puitis, persis seperti pola yang sering digunakan oleh penyair-penyair Arab ketika berorasi di hadapan masyarakat. Kentalnya popularitas penyair Quraisy di kalangan masyarakat Arab membuat mereka merasa di atas angin. Kehebatan seorang penyair dalam merangkai kata-kata juga menjadi daya pikat tersendiri bagi masyarakat, sekaligus menjadi tolak ukur diterimanya pesan-pesan yang mereka sampaikan. Singkatnya, kelihaian dalam merangkai syair merupakan sebuah prestasi yang paling membanggakan kala itu. Hadirnya al-Qur’an dengan pola ayat yang singkat dan puitis di tengah kondisi yang seperti ini tentunya merupakan hal yang sangat tepat dan efektif. Tujuannya jelas, yakni agar Nabi mampu bersaing dengan penyair-panyair ternama Quraisy jika pesan-pesan yang beliau bawa ingin dierima di tengah kehidupan masyarakat.

Pasca hijrahnya Nabi ke Madinah, pola ayat-ayat al-Qur’an berubah secara drastis. Jika sewaktu di Makkah menggunakan pola yang singkat dan puitis, maka di Madinah tidak lagi demikian. Ayat-ayat yang disajikan menggunakan pola yang panjang dan tidak puitis. Meskipun pada bagian akhir dari satu ayat dengan ayat yang sebelum atau sesudahnya terkadang menggunakan pola yang puitis, namun itu tidak lagi kentara. Karena untuk menaklukkan hati masyarakat Madinah, tidak perlu menggunakan syair-syair yang pendek dan puitis. Mereka adalah orang-orang yang telah berikrar untuk menjadi pengikut Nabi sejak kedatangan beliau pertama kali ke Madinah. Sehingga, penyajian dalam bentuk narasi saja sudah cukup bagi Nabi untuk memahamkan ayat-ayat al-Qur’an kepada masyarakat Madinah.

Pola penyajian ayat-ayat al-Qur’an yang dinamis dan fleksibel ini tentunya juga berdampak pada kehidupan Nabi. Di berbagai kesempatan dalam kehidupan beliau, Nabi sering mempraktekkan metode tersebut tatkala berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, pada suatu waktu Nabi didatangi oleh seseorang yang kaya. Ia menanyakan kepada Nabi mengenai amalan apa yang paling disukai oleh Allah. Mengingat bahwa yang bertanya ini adalah orang yang kaya, maka Nabi menjawab bahwa amalan yang paling disukai Allah adalah bersedekah. Di lain kesempatan, seseorang yang miskin datang kepada Nabi dengan menanyakan hal yang sama. Namun nabi memberikan jawaban yang berbeda dengan yang sebelumnya. Kepada si miskin, Nabi menginformasikan  bahwa amalan yang paling disukai oleh Allah adalah kerja keras mencari penghasilan yang halal.

Dalam hal ini Nabi memberikan jawaban yang berbeda atas pertanyaan yang sama. Hal tersebut sekaligus mengindikasikan bahwa Nabi merupakan orang yang sangat bijak dalam berkomunikasi. Kebijaksanaan ini pula yang kemudian membuat pesan-pesan yang disampaikannya dapat diterima oleh masyarakat. Polanya persis seperti cara al-Qur’an dalam menyampaikan pesan-pesan nya kepada si penerima pesan, yang dalam hal ini adalah masyarakat Arab yang hidup bersama Nabi kala itu. Maka bentuk komunikasi yang digunakan oleh Nabi dalam kasus di atas merupakan cerminan dari Bahasa al-Qur’an yang komunikatif.

Lantas apa hikmah yang dapat diambil oleh orang-orang yang hidup di zaman kontemporer ini? Tentunya kita bisa mengadopsi pola-pola komunikasi yang dipraktekkan oleh al-Qur’an dan Nabi tatkala berkomunikasi kepada siapa saja. Dengan artian, jika pesan yang hendak kita sampaikan ingin diterima dengan baik, maka sampaikanlah dengan cara yang bijak dan tidak ceroboh. Perhatikan konteks dan situasi yang melingkupi proses komunikasi yang tengah dilakukan, baik dari kondisi orang yang menjadi lawan dalam berkomunikasi, kondisi pertanyaan, atau lain sebagainya. Hal ini juga dapat menjadi jembatan penengah antara orang-orang yang terlalu gampang mendakwakan sesuatu tanpa melakukan proses berpikir panjang atau terhadap orang yang terlalu takut dalam menyampaikan sesuatu disebabkan kebimbangan yang berlebihan. Intinya, kebijaksanaan adalah modal utama dalam berkomunikasi. Karena komunikasi bukan hanya berbicara tentang kata-kata, namun ia juga mempunyai konteks dan situasi tersendiri yang menuntut si penutur untuk benar-benar bijak dalam mengungkapkan kata-kata  tersebut.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: