Pergi ke Pasar itu Sunnah Para Rasul

Masih ingat kisah sahabat Nabi yang bernama Abdurrahman bin’Auf setelah hijrah ke Madinah? Sahabat yang dikenal sebagai pedagang sukses di Makkah ini hijrah ke Madinah dengan meninggalkan semua harta dan barang perniagaannya. Memang para sahabat yang hijrah ke Makkah terpaksa meninggalkan harta mereka karena tidak mungkin dibawa semua mengingat ketatnya pengawasan kaum Quraisy di setiap pintu keluar kota Makkah. Harta-harta yang mereka tinggalkan dirampas oleh kaum musyrik Quraisy. Ada yang berpendapat bahwa tindakan kaum Quraisy merampas harta kaum Muhajirin inilah yang mendorong terjadinya penghadangan kafilah dagang Quraisy di dekat kota Madinah. Salah satu penghadangan itu akhirnya menjadi penyebab terjadinya Perang Badr al-Kubra.

Menghadapi persoalan ini, kebijakan Rasulullah SAW sungguh tepat. Kebijakan ini belum pernah diduplikasi oleh pemerintah manapun dalam menyelesaikan persoalan pengungsi bahkan oleh NHCR, badan PBB yang menangani persoalan pengungsian. Apa kebijakannya? Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Gunanya adalah untuk menyelesaikan persoalan tempat tinggal dan ekonomi. Rasulullah Saw dan kaum Muslim belum memiliki dana publik untuk menanggulangi persoalan para muhajir. Mereka butuh tempat tinggal yang layak, kebutuhan pokok, dan sanitasi. Dengan mempersaudarakan masing-masing muhajir dengan penduduk Madinah (kaum  Anshar) maka persoalan tersebut dapat diatasi. Saudara Anshar mereka akan memberikan tempat tinggal dan membantu pemulihan ekonomi kaum Muhajir.

Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan Sa’d bin Rabi’ al-Anshari. Sa’ad termasuk sahabat yang cukup mampu dari golongan Anshar. Ia bermaksud membagi dua kekayaannya dan sebagian diberikan kepada Abdurrahman bin ‘Auf. Ia juga bermaksud menceraikan salah seorang istrinya dan menjodohkannya dengan Abdurrahman. Namun pemberian tulus itu ditolak Abdurrahman dengan halus. Ia berkata, “Terimakasih, tapi cukup tunjukkan kepadaku di mana letak pasar di kota ini.”

Sa’ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka mulailah Abdurrahman berniaga di sana. Belum lama menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata, “Saya ingin menikah, ya Rasulullah,” katanya. 

“Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?” tanya Rasul SAW.

 “Emas seberat biji kurma,” jawabnya.

 Rasulullah saw bersabda, “Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu.”

  Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki ‘Sahabat Bertangan Emas’.

“Tunjukkan kepadaku di mana letak pasar,” kalimat ini mengandung “magis” untuk mendapatkan penghasilan. Di pasar terjadi berbagai macam transaksi yang mendatangkan added value bagi pelakunya seperti jual beli, sewa menyewa, pengupahan, pinjam meminjam, dan sebagainya. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa di pasar juga terjadi pencurian, rebut rampas, pungutan liar, dan sebagainya. Namun di pasar lah tempat untuk mendapatkan penghasilan dengan lebih cepat.

Abdurrahman bin ‘Auf, setelah ditunjukkan dimana letak pasar, segera ke sana. Ketika pulang sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW ini membawa minyak dan makanan. Tidak butuh waktu yang lama, perniagaan Abdurrahman bin ‘Auf mulai bergiat lagi.

Coba kalau dia minta ditunjukkan di mana letak tanah yang dapat ditanami, belum tentu dia dapat membawa hasil yang instan. Bertani atau berkebun harus menunggu sekian lama untuk memetik hasilnya.

Semangat mendatangi pasar pula yang diterapkan oleh para perantau seperti para perantau Cina, Minang, Bugis, Batak, Arab, dan sebagainya. Di tanah rantau mereka membuka usaha perdagangan di pasar-pasar setempat. Meski ada juga yang menjadi pekerja di berbagai sektor. Namun bagi mereka yang tidak tertampung atau tidak ingin jadi pekerja, berniaga adalah pilihan utama.  Mereka memulai dengan usaha kecil-kecilan karena modal yang terbatas. Berbekal keuletan dan kesabaran akhirnya mereka dapat hidup mapan meskipun jauh dari tanah kelahiran.

Jadi kurang tepat kalau dikatakan bahwa munculnya kewirausahaan karena faktor genetis belaka. Yang lebih tepat adalah karena faktor “hijrah”. Hal ini karena para pengusaha tidak hanya berasal dari etnis-etnis yang dikenal banyak melahirkan para saudagar, namun ada juga dari etnis lain. Semangat untuk bertahan hidup dan kegigihan meraih kesuksesan adalah di antara faktor yang mendorong mereka untuk maju.

 

Sunnah para Nabi dan Rasul

  Salah satu hal yang mengherankan kaum Yahudi dan musyrik lainnya terhadap para nabi dan rasul adalah kemandirian mereka. Bagi kaum Yahudi, seorang nabi dan rasul seharusnya tinggal di dalam kuil, mengerjakan aneka ritual, dan rezeki datang dengan sendirinya atau dari para jamaah. Bukan dengan berdagang, bertani, beternak, atau tukang kayu. Menurut mereka, pekerjaan-pekerjaan itu terlalu kotor dilakukan oleh para nabi dan rasul. Kalau perlu mereka mempunyai asisten berupa malaikat yang selalu mendampingi dan memenuhi semua keinginannya. Bahkan nabi dan rasul tidak pantas makan seperti layaknya manusia biasa dan jalan-jalan di pasar.

Hal ini terekam dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 7:

 Dan mereka berkata pula, “Mengapa Rasul ini memakan makanan dan jalan-jalan di pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya malaikat untuk memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?

Dalam film “Maryam” kita melihat keheranan para rahib Yahudi mengapa Allah memilih Zakaria a.s. sebagai seorang rasul, bukan salah seorang di antara mereka. Padahal Zakaria a.s tidak “seshaleh” mereka yang sebagian besar berada di dalam kuil. Sementara Zakaria a.s. tetap bekerja sebagai tukang kayu. Zakaria a.s. bukan pula seorang yang kaya.

Para nabi dan rasul bukanlah orang-orang yang tidak bekerja dan berusaha. bukan lantaran mereka jadi utusan Tuhan, rezeki datang dengan sendirinya tanpa berusaha. Dalam kasus Nabi Musa a.s., Allah SWT menurunkan rezeki untuk Bani Israil dari langit berupa manna dan salwa (QS Albaqarah: 57).

Boleh dikata semua nabi dan rasul adalah wirausaha. Mari kita lihat tabel berikut:

No Nama Pekerjaan
1 Adam a.s Pertanian dan peternakan
2 Idris a.s Tukang jahit dan aneka kerajinan
3 Nuh a.s Tukang kayu
4 Hud a.s Peternak
5 Shalih a.s Peternak
6 Ibrahim a.s Peternak
7 Luth a.s Peternak
8 Isma’il a.s Pedagang
9 Ishaq a.s Peternak
10 Ya’qub a.s Pedagang
11 Yusuf a.s Pembesar Mesir bidang ekonomi
12 Ayyub a.s Pertanian dan peternakan
13 Syu’aib a.s Peternakan
14 Musa a.s Peternak
15 Harun a.s Peternak
16 Zulkifli a.s Raja
17 Daud a.s Raja dan Pandai besi
18 Sulaiman a.s Raja dan Arsitek
19 Ilyas a.s n.a
20 Ilyasa a.s n.a
21 Yunus a.s n.a
22 Zakaria a.s Tukang kayu
23 Yahya a.s Tukang kayu
24 Isa a.s Tukang kayu
25 Muhammad saw Pedagang

 

Menariknya, usaha mereka tersebut bukanlah usaha yang kecil. Tidak mungkin Nabi Adam a.s mempunyai satu atau dua ekor hewan ternak. Tidak mungkin pertaniannya hanya sepetak tanah. Hal ini karena jumlah anak Nabi Adam a.s dan Hawa 40 pasang atau 80 orang plus 1 nabi Syist a.s. Jumlah anggota keluarga sebanyak itu tentu membutuhkan sumber makanan yang cukup banyak.

Demikian pula dengan Nabi Daud a.s yang pandai membuat baju besi. Tidak mungkin usahanya itu dalam skala kecil karena ia adalah seorang raja yang memiliki prajurit yang banyak. Semuanya memerlukan baju besi dan peralatan perang lainnya.

Demikian pula dengan Nabi Muhammad saw. Beliau mengelola harta perniagaan yang tidak sedikit karena istrinya Khadijah telah dikenal sebagai saudagar besar sebelum mereka berumah tangga. Ditambah lagi beliau juga diamanahi mengelola harta perniagaan penduduk Makkah lainnya dengan sistem bagi hasil. Sudah barang tentu beliau menyinggahi banyak pasar yang ada di Jazirah Arab waktu itu.

Jalan-jalan di pasar mendapat perhatian dalam Al-Qur’an sebagai salah satu karakter para nabi dan rasul. Hal ini juga menunjukkan bahwa keluar masuk pasar adalah hal yang biasa dilakukan para nabi dan rasul. Dari kebiasaan ini mereka mengetahui apa yang terjadi di pasar dan apa yang biasa dilakukan oleh para penjual dan pembeli dan orang-orang yang ada di pasar.

Dari sinilah muncul pemahaman mereka tentang apa yang seharusnya dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta dampaknya bagi perekonomian masyarakat. Pengetahuan ini dikuatkan oleh perintah dan larangan Allah SWT yang terkait dengan aktivitas ekonomi seperti larangan riba, larangan menumpuk harga, larangan mengurangi timbangan, larangan berbuat curang, anjuran menepati janji, menjaga amanah, anjuran melakukan administrasi utang-piutang, dan sebagainya. Misalnya kebiasaan umat nabi Syu’aib a.s. yang biasa mengurangi timbangan.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: