Pergi untuk Pulang Nanti

Ayah senang menggendongku di bahunya.

Kenangan kecil itu melekat erat. Mungkin karena ayah baru menghentikan kebiasaannya satu ini saat tubuhku sudah terlalu besar untuk digendong, atau mungkin karena tubuhnya yang makin berumur. Entahlah. Apapun alasannya, aku sadar suatu hari aku tak akan duduk lagi di bahu ayah.

Orang bilang kami jauh berbeda. Seperti dua sisi yang berada pada satu koin. Ayah tak senang keramaian. Dia lebih senang membaca buku di taman belakang, atau sekedar menghabiskan waktu dengan merawat tumbuhan herbal. Namun aku berbeda. Aku menantang keramaian. Membusungkan dada saat aku berhasil mendapatkan sesuatu yang mereka bilang mustahil untukku. Aku puas pada tatapan mata kagum mereka. Tidak pada tatapan yang biasanya memandang iba.

Terlepas dari seluruh perbedaan kami, kami sama senang memancing. Pertama kali ayah mengajakku memancing adalah saat umurku empat tahun. Waktu itu kami hanya memancing di kolam belakang rumah. Lalu ayah mulai mengajak ke tempat pemancingan dengan dangau-dangau yang luas dan sepi. Umurku masih tujuh tahun waktu itu. Mendapat ikan dan sebuah elusan ringan di kepala membuatku melayang. Ayah selalu memujiku dengan caranya tersendiri.

Sejak kelas 6 SD ayah mulai mengajakku ke sungai. Memancing di sungai jelas amat berbeda dari kolam belakang rumah, atau kolam di tempat pemancingan mana pun yang pernah kami kunjungi. Riak sungai tak memberi tahu dimana ikan itu bersembunyi. Terkadang pun pancingan terasa berat akibat sampah yang tersangkut. Kami menaklukkan satu sungai, lalu mencoba peruntungan di sungai yang lain. Ayah pernah berjanji akan membawaku memancing ke laut suatu hari. Mataku berbinar. Meski sampai kini janji itu belum terpenuhi, tapi aku masih yakin. Aku menyayangi ayah. Sangat.

“Lebih baik kau lanjut kuliah, Yu. Ada banyak kuliahan bagus di luar sana. Hanya orang yang merantau yang bakal dirindui kampung halamannya. Jaman sekarang uang bukan masalah lagi. Kau tinggal daftar beasiswa. Insyaallah kalau lulus tes, pasti cukup semua kebutuhanmu di rantau nanti.”

Ustad Ghafar menasehatiku seperti malam-malam sebelumnya. Anak yang lain sudah pulang lepas shalat isya. Tinggal aku, Ustad Ghafar, dan Bang Hasan –garin baru surau yang masih mengaji di dekat mihrab.

Pandanganku tertuju pada pola kain sarung. Aku takut mengangkat kepala. Takut Ustad menemukan keraguan dalam mataku.

“Ayahmu akan baik-baik saya, Nak! Dia orang baik, niscaya baik pula orang kepadanya” lanjut Ustad seolah bisa membaca pikiranku.

Aku menghela nafas.

Aku tak kenal ibuku. Hidupku selalu dengan ayah, tanpa yang lain. Selalu ayah. Selalu. Karena itu aku tak pernah bisa membayangkan kehidupanku yang tak bersama ayah. Ayah tak senang pergi ke pasar, lalu siapa yang akan memastikan ada bahan untuk dimasak? Ayah juga tak senang keramaian, tidak senang duduk berkumpul di warung kopi, lalu siapa yang akan menemaninya membaca? Siapa yang akan menemaninya memancing? Siapa yang bisa memastikan dia tidak kesepian?

Hanya aku kan? Hanya aku yang bisa.

“Aku pulang dulu, Ustad, Bang Hasan! Assalamualaikum.”

Jawaban salam mereka tak terdengar. Aku sudah terlebih dahulu memacu diri menuju rumah. Entah kenapa aku begitu ingin melihat wajah ayah.

Ayah sedang duduk menonton tv saat aku pulang. Di meja kecil dekatnya terdapat dua cangkir teh, dan cemilan. Saat melihatku, ayah langsung menunjuk kamar, tanda menyuruhku ganti baju. Aku paham. Ayah selalu membuat dua cangkir teh saat ia perlu bicara denganku.

Sengaja aku berlama-lama di kamar. Ada bagian hatiku yang berontak ingin lari, tanganku gemetar. Namun ada pula bagian lain yang menuntutku untuk lekas keluar menemui ayah. Perutku bergejolak. Ini aneh. Padahal aku tak sedang akan membacakan puisi di depan kelas.

Tv sudah dimatikan saat aku keluar kamar. Di tangan ayah ada beberapa brosur. Aku mendekat, duduk di hadapan ayah. Brosur-brosur itu ayah letakkan di depan kami. Tanganku mengepal. Aku ingin berteriak, tapi tahu itu percuma.

Baru kali ini aku merasa begitu kesal pada ayah.

Mata ayah berkilat senang. Di hadapan kami berbagai brosur universitas ternama. Ayah gantian memandangiku dan brosur itu. Tangannya menyentuh tanganku, memintaku menunjuk universitas mana yang ku mau. Namun aku malah menepis tangan ayah.

Ayah tampak terkejut, tampak marah. Aku berlari ke kamar. Dadaku sesak. Aku tak ingin pergi. Aku tak ingin pergi. Aku tak ingin pergi! Apa ayah mengusirku? Apa ayah tak senang aku selalu di sini? Malam itu aku terlelap dengan air mata yang membasahi bantal.

Hari-hari berikutnya ayah mendiamkanku. Ayah tak merespon isyaratku. Bahkan dia tak mau mengantar kepergianku ke sekolah. Aku kacau.

“Wajahmu kusut, Wahyu” komentar Bang Hasan. Malam ini Usta Ghafar sedang pengajian di mesjid kota sebelah. Seperti biasa, masjid lengang selepas isya.

“Ayah marah, Bang!” jawabku. Aku baru kenal Bang Hasan, tapi aku percaya dia pantas mendengar ceritaku.

“Ayahmu memang sedikit berbeda, tapi aku yakin dia tak mau merasa jadi penghalangmu. Coba lihat dari sudut pandangnya. Jangan kau saja,” saran Bang Hasan.

Aku tak tahu apa saja yang pernah ayah lihat, ayah rasakan. Mungkin saja ia sudah melihat tatapan iba dan cemooh orang akibat perbedaannya. Mungkin saja ayah memang ingin aku sukses. Bukan hanya untukku, namun juga untuknya.

“Pulanglah! Minta maaf pada ayahmu! Turuti maunya.”

Aku mengangguk. Berlari lagi ke rumah.

Ayah sedang menonton tv saat aku pulang. Di meja dua cangkir teh dan cemilan. Aku tersenyum senang. Ayah mengundangku untuk duduk bersama dengannya. Tanpa berganti pakaian aku duduk mendekati ayah. Di tangannya sudah ada sebuah buku kecil dan pulpen. Dia menyerahkannya padaku, memberi isyarat bahwa aku boleh memberitahu apa pun isi kepalaku.

Tanganku gemetar hebat. Sesekali air mataku jatuh. Ayah membantu menghapusnya, namun tak berniat menghentikanku menulis.

Tanganku jujur memberitahu semua. Tentang keraguanku, rasa takut, cemas, bahkan kesedihanku. Ayah membacanya dengan tenang. Ia tak menulis apa pun. Ia ganti memelukku erat, mengelus puncak kepalaku. Aku tertawa ringan. Aku tak kecil lagi. Bermanja pada usia segini membuatku malu. Namun aku senang. Entahlah! Air mataku pun belum berhenti, namun aku benar-benar ingin tertawa.

Orang-orang menyebut ayahku bisu tuli. Ayah tak bisa mendengar, tidak pula bicara.

Namun malam itu aku seolah bisa mendengar suaranya dengan jelas. Datang entah dari mana. Memantik suatu rasa hangat yang menyesakkan, namun menyenangkan.

“Pergilah, Nak! Lalu pulanglah kembali nanti! Aku menunggu.”[]

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: