Perjumpaan dengan Quraish Shihab

Bapak itu sudah cukup berumur. Kakek, mungkin sebutan yang lebih pantas. Mulai terlihat ringkih, ia berjalan sedikit tertatih berbantu tongkat. Ia melangkah masuk ke ruangan, dan beberapa orang mengiringinya dari belakang berniat membantunya berjalan. Senyumnya ramah, wajahnya bersih dan cerah. Ia menolak untuk ditolong.  “Tidak apa, saya bisa berjalan sendiri.”

Di ruangan itu, ada beberapa ulama dan intelektual kenamaan di negari ini. Ada wajah familiar di TV, ada kyai, peneliti, dan dosen-dosen. Mereka bersidang. Mereka membincang dan merumuskan formulasi terjemahan Al-Quran yang paling pas.

Menerjemahkan terkadang memang lebih rumit daripada menafsirkan, malah mungkin jauh lebih berat. Dalam tafsir, mereka bisa berbicara panjang lebar untuk menjelaskan kedalaman dan kerumitan makna Al-Quran. Dalam terjemah, mereka bersaing dengan jumlah kata dan keterbatasan lembaran kertas. Diskusi alot, tapi tidak minim canda dan tawa renyah.

Panitia sengaja membuka pintu ganda itu secara penuh. Menyadari beliau masuk, para peserta diam sejanak. Beberapa berdiri, menyambut kedatangannya. Saya berada di barisan itu. Dengan senyum lagi, ia berkata, “Duduk saja, tidak usah begitu!” Sungguh kerendahan hati yang hebat. Quraish Shihab, nama kakek itu.

Saya tidak memiliki kemewahan belajar langsung darinya. Interaksi fisikal paling dekat dengannya adalah dia duduk di depan sebagai pembicara, sementara saya duduk jauh di belakang di kerumunan pendengar, atau ia berceramah di tv dan saya tiduran di kosan sebagai penonton. Selain itu, saya hanya membaca buku-bukunya.

Hari itu, untuk kali pertama saya duduk tidak jauh dari kursinya, melihat dan mendengar dari dekat. Bukan ceramah monolog, tapi diskusi dialogis berjawab-jawaban. Entah mengapa, saya merasa ini suatu hal yang berbeda. Seorang Quraish Shihab berceramah dan dirinya berbincang dan berdiskusi berjawab-jawaban dalam sebuah forum, bagi saya memberikan kesan yang berbeda. Sebuah pelajaran yang belum tertuliskan untuk saat ini.

Tapi ada beberapa kesan yang sangat jelas. Mereka, para ulama, kyai, dan intelektual itu, menaruh rasa hormat yang tinggi kepadanya. Saya merasa kerdil di ruangan itu. Apalah saya di antara mereka. Saya jadi tersenyum miris mengingat netizen ‘buta literasi’ begitu ringan berbagi cacian dan hinaan terhadapnya.

Ia dituduh Syi`ah. Ah, mahasiswa yang belajar metodologi hadis dan tafsir dasar saja mungkin akan menertawakan tuduhan itu. Apakah karena ia menulis tentang relasi Sunni-Syi`ah? Ia menganjurkan berdamai dengan sejarah. Apakah karena ia di beberapa tempat mengutip tafsir Tantawi Jawhari? Tafsir itu memang ditulis seorang ulama Syi`ah. Akan tetapi kitab itu diterima secara luas di dunia intelektual Sunni. Pun Syaikh Tantawi juga terbuka dengan rujukan-rujukan Sunni. Bahwasanya produk pemikirannya ada yang berbeda dengan yang lain, itu hanyalah hal lumrah. Itu harus dihormati. Mau setuju boleh, mau tidak ya silahkan.

Jadi tuduhan-tuduhan murahan tersebut hanyalah serakan sampah yang ditiup angin ke sana-kemari dalam dunia internet. Tapi memang aneh, ternyata banyak dari kita yang suka makan sampah. Ia bahkan telah menantang para penebar sampah itu. “Jika tuduhan-tuduhan kalian itu benar, adili saya selayaknya Nasr Hamid Abu Zayd!”, lebih kurang begitu. Tantangan itu di abaikan, tapi masih saja doyan sampah. Kan aneh!

Itu yang pertama. Yang kedua, sudah saya sampaikan di atas, peserta sidang adalah para pakar yang tidak diragukan lagi kompetensi mereka. Bapak Quraish Shihab bukan salah satu dari peserta sidang. Ia sepertinya hanyalah tamu kehormatan yang diundang untuk berkonsultasi. Untuk memahami kitab-kitab tafsir atau menjelaskan makna ayat, para peserta sidang tersebut sudah sangat mumpuni. Itu sangat terlihat jelas.

Baca juga:  Memperkenalkan UIN Jogja kepada Ust. Khalid Basalamah

Banyak kepala banyak pula ragam pikirannya. Mereka beradu argumen, mendukung yang satu atau menolak yang lainnya. Beberapa titik terasa rumit sehingga perdebatannya cukup sengit. Hal yang wajar saja. Tapi menariknya, dalam banyak kesempatan, kerumitan tersebut terlihat sederhana di tangannya. Pandangan saya, bukan hanya pemahaman yang mendalam, tapi pengalamannya dalam dunia tafsir dan penerjemahan juga jadi faktor pembeda.

Ketika waktu istirahat tiba, Ia diantar ke ruang makan dan para peserta lainnya mengiringi. Saya ikut di dalamnya. Beliau langsung duduk. Panitia berasumsi bahwa mereka harus menyajikan makanan untuknya. Salah seroang bertanaya, “Bapak mau diambilkan apa?”

“Tidak usah, saya ambil sendiri. Saya tau, kalau kamu yang mengambilkan, pasti sedikit. Kamu kan tidak tahu saya makannya banyak.” jawabnya sambil berkelakar.

Di meja makan, saya beruntung bisa duduk persis di sebelah beliau. Di situ, saya mengikuti pembicaraan yang lebih ringan tapi tetap bermakna. Ia ditanya dan bercerita tentang banyak hal. Tentang masa sekolahnya, anak-anaknya, dan cucu-cucunya.

Satu pertanyaan menarik muncul, “Tidak adakah keturunan Bapak yang mengikuti jejak Bapak?”

“Saya tidak pernah menyuruh anak saya sekolah di bidang ini atau itu. Mereka yang milih sendiri. Hanya ada cucu saya, yang sekarang sedang kuliah di Amerika, ia tertarik sama bidang agama. Desember ini dia mau pulang. Ia minta ketemuan sama Gus Mus.”

Baca juga:  Terjemah Al-Qur`an: Dulu Ditolak, Sekarang Dibela

Ia merogoh saku mengambil HP.

“Ini kemarin saya sms Gus Mus. Saya bilang ‘Gus, ini cucu saya yang lagi kuliah di Amerika ngefans sama Antum. Ia mau ketemu. Nanti ia pulang mau saya bawa ke Rembang’. Gus Mus balas gini, ‘Sebuah kehormatan, perintahkan saja saya, kapanpun saya siap menyambut.’”

Saya terpana. Begitulah begitulah dua figur hebat saling menghormati. Saya teringat lagi masalah sampah-sampah internet tadi. Ah, sudahlah! Toh saya yakin, mereka tidak terganggu sama sampah-sampah itu.

Cerita meja makan masih berlanjut. Satu lagi cerita menarik muncul. Beliau bercerita, mantan rektor UI pernah berbincang dengannya. Beberapa kyai pesantren pernah mendatanginya, meminta UI juga menerima mahasiswa-mahasiswa dari pesantren. Singkat cerita, pak rektor ini menilai bahwa ternyata mahasiswa-mahasiswa dari pesantren ini lebih tangguh dan lebih berhasil di kampus.

“Katanya, itu karena anak-anak pesantren itu belajarnya komprehensif. Mereka belajar banyak hal. Jadi kalau dari kecil pendidikan sudah dikotakkan dalam penjurusan, wawasan dan pengetahuan mereka semakin sempit.” lanjutnya.

Saya mensyukuri perjumpaan itu. Memang tidak lama. Hanya saja, saya membuktikan apa yang beberapa saat yang lalu saya sampaikan kepada beberapa adik kelas. “Duduk bersama orang hebat itu, meskipun hanya 5 menit, selalu ada pelajaran yang bisa diambil.” begitulah kira-kira.[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: