Perpisahan: Awal pergerakan, bukan Akhir Perjuangan

Perpisahan merupakan sebuah sunnatullah. Ada hitam ada putih, ada siang ada malam, begitu juga dengan pertemuan pasti ada perpisahan. Perpisahan adalah sesuatu yang kadang tak diinginkan tapi tak terelakkan. Sejatinya, perpisahan dapat dijadikan sebagai langkah awal pergerakan bukan akhir dari suatu perjuangan.

Setiap insan yang pernah merasakan manisnya ilmu pengetahuan di Parabek pasti memiliki kenangan tersendiri, begitu juga halnya dengan kami. Kenangan belajar  dengan ustadz/ustadzah nan mulia, suka duka dalam pertemanan dan bermimpi bersama yang terlalu panjang untuk dijabarkan.

Tak muluk-muluk yang disampaikan inyiak Masrur saat kami menggenggam tangan beliau sewaktu menerima piagam penghargaan, singkat namun penuh makna, persis seperti yang beliau ajarkan kepada kami tentang iijaz dalam balaghah

Tetap Istiqamah taruih yo, Shalat jan pernah tingga”

Ya, nasihat untuk selalu istiqamah dan agar tidak meninggalkan shalat yang beliau pesankan karena memang itulah yang paling azas dalam kehidupan.

Buya Deswandi juga menyampaikan filosofi dari lagu Andaikan Aku Punya Sayap yang kami lantunkan. Salah satu baitnya berbunyi, ”Satu-satu daun daun berguguran tinggalkan tangkainya”. Buya menjelaskan bahwa itu mengandung makna yang sangat dalam, bahwa para guru dan masyayikh sesepuh kita yang memiliki keilmuan mendalam telah pergi meninggalkan kita seperti yang kami temui masanya. Inyiak Ghaffar dan Inyiak Muzakkir dan baru-baru ini meninggalkan kita. Tugas kita selanjutnya adalah menghijaukan kembali dengan menghasilkan ulama baru.

Satu-satu brung kecil tinggalkan sarangnya” …Andaikan aku punya sayap ku kan terbang jauh mengelilingi angkasa”. Sekarang tibalah masa kami untuk meninggalkan sekolah ini maka capailah cita-cita setinggi mungkin, raih kesuksesan dan menjadi orang yang bermanfaat.

Dalam nasihatnya Buya Deswandi juga mengingatkan tentang pesan Syekh Ibrahim Musa dahulu yang dicantumkan dalam Ijazah saisuak yaitu Ajraukum ‘anil fatwa, ajraukum ‘anin naar. Berhati-hati dalam berfatwa, tidak mudah untuk menyalahkan orang lain. Menjadi ulama yang berkantor di hati masyarakat, berbakti kepada orangtua juga tak luput beliau pesankan kepada kami.

Ustadz Ilham dalam sambutanya juga mengingatkan agar kami selalu memakai pakaian ketaqwaan dimanapun kami berada, menjaga adab seperti pesan dari Abdullah bin Mubarak yang menjadi kata-kata wisuda dan perpisahan kami Nahnu ilal aqalli minal adab ahwaju ilal katsiiri minal ‘ilmi.

Dari pesan-pesan dari para masyayikh tersebut kami menyadari bahwa perpisahan bukanlah untuk terus ditangisi, bukan akhir dari perjuangan namun awal dari sebuah pergerakan. Menjadi alumni bukanlah suatu hal yang mudah karena dituntut untuk menjaga almamater dahulu dan bergerak untuk kemajuan sekolah kedepan. Bagi kami menjadi alumni dituntut untuk selalu berjuang dalam menghadapi aral dan rintangan walau bagaimanapun keadaan persis seperti yang kami doakan dalam nami kami “Taratai Putiah” kakak-kakak kami dari ASABA 106 pun memberikan filosofinya dengan Mekar Meski Di Lumpur, Putih Meski Dicampur.

Baiklah, Kami Alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan Taratai Putiah 107 siap berjuang menjadikan perpisahan sebagai awal pergerakan bukan akhir perjuangan.

Terimakasih untuk guru-guru kami, adik-adik kami, senior-senior kami, dan seluruh civitas akademika pondok pesantren Sumatera Thawalib Parabek. Barakallahu Fiikum, Jazakumullah khairal jazaa’, Nuhibbukum Fillah.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: