HomePojok MadrasahOpiniPerpustakaan Ponpes Sumatera Thawalib Parabek di Generasi Keberapa?

Perpustakaan Ponpes Sumatera Thawalib Parabek di Generasi Keberapa?

Opini Pojok Madrasah 0 0 likes 20 views share

Lagi-lagi perkembangan teknologi menjadi “kambing hitam” pada setiap perkembangan yang ada di dunia ini. Itu artinya, manusia sudah mengalami “ketergantungan” dengan teknologi. Perkembangan yang semakin pesat memaksa manusia untuk mengikuti perkembangannya. Perkembangan ini tentu juga berimbas kepada setiap aspek, termasuk perpustakaan.

Perkembangan perpustakaan agaknya sangat signifikan. Perkembangan perpustakaan ini kemudian dirumuskan kepada perkembangan generasi-generasi perpustakaan. Generasi pertama disebut dengan generasi collection centric. Pada generasi ini, perpustakaan fokus kepada jumlah koleksi yang dimilikinya. Kesuksesan perpustakaan dinilai dari seberapa banyak koleksi yang dimilikinya.

Perpustakaan yang memiliki koleksi terbanyak dinilai sebagai perpustakaan terbaik kala itu. Dengan orientasi kepada jumlah koleksi, perpustakaan generasi ini didominasi oleh koleksi yang sangat banyak. Perpustakaan generasi ini penuh dengan rak-rak dan cenderung memberikan ruang yang terbatas kepada pemustaka untuk sekedar membaca di dalamnya. Pada generasi pertama ini, kerap kali dijumpai tulisan berupa “silent area”, “dilarang berisik’, “dilarang membawa makanan dan minuman ke ruangan perpustakaan”, dan sebagainya.

Dengan perkembangannya, perpustakaan masuk kepada generasi selanjutnya yaitu generasi kedua yang biasa disebut dengan client-focused. Pada generasi kedua ini, perpustakaan yang tadinya didominasi oleh jumlah koleksi yang sangat banyak, akhirnya mulai memperhatikan minat dan kebutuhan permustakanya.

Koleksi yang tertata di perpustakaan disesuaikan dengan kebutuhan informasi pemustakanya. Pada generasi ini, perpustakaan tidak lagi dinilai dari berapa banyak koleksi yang dimilikinya, melainkan kepada seberapa terpakainya koleksi yang dimiliki perpustakaan tersebut.

Baca juga:  Surau Parabek, Literasi, dan Intelektualitas Kita?

Berbeda lagi dengan perpustakaan generasi ketiga, dimana perpustakaan mulai terfokus kepada seberapa banyak pengalaman baru yang diberikan kepada pemustaka. Generasi ini biasa dikenal dengan generasi experience-centered dimana pustakawan mengharapkan tanggapan yang luar biasa dari pemustakanya.

Tanggapan yang diberikan dapat berupa “wow, ternyata begini ya kalo minjem buku di perpustakaan”, “peminjaman buku di perpustakaan ternyata gampang sekali, cepat, dan gak harus antri lama”, “ternyata peminajaman koleksi, kita buka OPAC dulu, setelah itu baru ke rak, biar nyarinya gak susah” dan sebagainya.

Pada generasi ini, perpustakaan mulai mempertimbangkan kualitas layanan yang dimilikinya. Kualitas layanan yang diberikan bisa berupa seberapa tepat koleksi sesuai dengan kebutuhan, seberapa efisien waktu yang diberikan dalam pelayanan.

Pada generasi ini muncullah software dan hardware yang mendukung kinerja pustakawan. Software berupa sistem informasi perpustakaan, sistem otomasi perpustakaan, yang memberikan efisien waktu kepada pemustaka dalam penelusuran, peminjaman, pengembalian dan sebagainya.

Selain itu, pustakawan juga diberikan ruang yang lebih efektif dalam melakukan pelayanan kepada pemustaka. Pada era ini, perkembangan teknologi berupa pemanfaatan radio frequence sudah tidak asing lagi digunakan. Pada generasi inilah, kepuasan pemustaka terhadap koleksi dan layanan yang diberikan dapat diukur dan dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan perpustakaan.

Baca juga:  Tuan Guru Bajang di Masjid Jami’ Parabek

Perkembangan perpustakaan selanjutnya, masuk kepada pemustaka yang mulai melek dengan apa yang ditelusuri. Artinya, pemustaka mulai dapat menghubungkan pengalaman yang didapat di perpustakaan dengan hal yang dia dapatkan di luar perpustakaan. Generasi ini disebut dengan generasi connected learning experience.

Setelah generasi ke-4, perpustakaan sudah mulai menghadirkan suatu wadah pemustaka dapat berkarya. Generasi ini disebut dengan perkembangan generasi makerspace. Pada generasi ini, perpustakaan hadir dengan satu atau lebih ruangan yang memungkinkan pemustaka menghasilkan sesuatu.

Sebagai contoh, perpustakaan pada sekolah fashion, designer, selain menyediakan koleksi terkait designer, fashion, perpustakaan ini juga menyediakan sebuah “bengkel” yang berisi berbagai macam alat jahit, mulai dari mesin jahit, benang, dan sebagainya. Dengan adanya “bengkel makerspace” ini pemustaka diberikan ruang untuk mengaplikasikan apa yang mereka dapatkan pada koleksi yang dimiliki di perpustakaan tersebut. Tidak hanya mesin jahit, konsep makerspace ini juga melahirkan bengkel robotic, cooking library, bengkel enginerring, carpentry, furniture making, dan sebagainya.

So, dari generasi yang telah dipaparkan, perpustakaan Sumatera Thawalib Parabek berada pada generasi keberapa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *