Persatuan adalah Syarat Mutlak Kebangkitan

Beberapa hari terakhir ini, publik Indonesia dihebohkan dengan kedatangan salah seorang ulama paling berpengaruh di dunia yaitu Grand Syekh Ahmad Thayyib. Beliau adalah pimpinan tertinggi institusi Al-Azhar yang membawahi seluruh lembaga pendidikan Al-Azhari di seluruh provinsi di Mesir.

Jabatan Grand Syekh Al-Azhar atau Syekh Al-Azhar adalah jabatan setingkat perdana menteri saat ini. Oleh sebab itu, kedatangan beliau ke Indonesia dibuat dengan penjagaan yang sangat ketat lengkap dengan ‘paspamres’-nya.

Di masa pergolakan politik dulu, jabatan ini diincar oleh para penguasa saat itu. Banyak yang mencoba ingin menduduki jabatan Grand Syekh Al-Azhar karena melihat pengaruhnya yang sangat luas di dunia internasional. Namun usaha itu gagal sehingga independensi Al-Azhar masih sangat terjaga hingga saat ini.

Dalam kunjungan Syekh Ahmad Thayyib ke Indonesia, ada tiga hal penting yang beliau sampaikan untuk mewujudkan persatuan umat Islam dunia, yaitu:

  1. Menjauhi tindakan mengkafirkan muslim lain yang bersyahadat

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah Saw telah mewanti-wanti umatnya untuk tidak terperosok dalam jurang takfiri. Sebab, jurang takfiri ini berpotensi besar untuk menghancurkan persatuan umat Islam. Sayangnya, itulah yang dialami umat Islam saat ini.

Dalam agama Islam diajarkan bahwa yang berhak memberi gelar kafir atau murtad hanyalah dua lembaga saja yaitu Pengadilan dan Lembaga Fatwa. Selain dua lembaga ini, tidak ada satupun pihak yang berhak memberikan gelar kafir kepada muslim lainnya tanpa terkecuali, baik itu ulama, penguasa ataupun orang awam.

Untuk menetapkan kekafiran seseorang pun dibutuhkan beberapa langkah. Petama adalah pernyataan langsung dari yang bersangkutan.

Hal ini sesuai dengan kaidah yang berbunyi:
من ثبت اسلامه بيقين لا يخرج من الدين الا بيقين
Siapa yang telah ditetapkan keislamannya dengan cara yang yakin maka tidak keluar dari agama (murtad) kecuali dengan keyakinan pula

Setelah ia menyatakan dirinya murtad, maka langkah kedua adalah meminta konfirmasi secara langsung dan diberi nasihat. Bahkan kata Imam Al-Tsauri, “Ditunda (menyatakan bahwa seseorang kafir) selama diinginkan taubatnya”. Setelah semua tahapan ini dilalui, barulah keputusan untuk menghukumi seorang muslim adalah kafir bisa dikeluarkan.

Inilah langkah-langkah yang harus dilalui untuk mengkafirkan seseorang. Sekali lagi, ini hanyalah kewenangan Pengadilan dan Lembaga Fatwa, bukan kita.

Oleh sebab itu,  jangan sampai kita masuk ke dalam golongan akhir zaman yang paling ditakutkan oleh Rasullah yaitu golongan orang yang dengan gampang mengkafirkan orang lain.

Bahkan lebih dari itu, dari segi adab dan sopan santun, menurut Syekh Yusuf Al-Qaradhawi, disarankan mengganti kata “kafir” dengan “non muslim” untuk menunjukkan rasa persaudaraan yang dilandaskan atas rasa kemanusiaan.Tujuannya tidak lain adalah untuk memperlihatkan bahwa Islam itu adalah agama kasih sayang untuk seluruh manusia.

  1. Bersikap objektif terhadap kelompok Syiah

Isu sektarian Sunni-Syiah juga merupakan isu adu domba yang digunakan barat untuk menghancurkan umat Islam. Sebagai Sunni, kita harus memahami bahwa semua kelompok Syiah tidak berlandaskan pemikiran yang sama. Ada yang ekstrim dan ada yang moderat, sama halnya seperti Sunni sendiri. Lalu apakah pantas kita menggeneralisir bahwa semua Syiah itu adalah ekstrim? Kalau iya berarti tidak ada bedanya dengan orang yang menggeneralisir bahwa Sunni itu juga ekstrim. Intinya, semua ada tingkatannya.

التعميم بالحكم ظلم ولا يصدر ذلك الا ممن غلبت شهوته على علمه

“Menggeneralisir hukum (tehadap seseorang atau kelompok) merupakan sebuah pebuatan zalim. Hal ini tidak dilakukan kecuali bagi orang yang hawa nafsu-nya lebih mendominasi dai pada ilmunya

Meski sesat, tidak laik jika kita mencap bahwa Syiah adalah golongan murtad dan kafir sebab mereka masih bersyahadat. Kalaupun diperkirakan atau diyakini bahwa ada kesalahan mendasar yang dipahami oleh kelompok Syiah, maka yang  berhak mengeluarkan mereka dari Islam bukanlah kita namun Pengadilan atau Lembaga Fatwa.

Kembali kepada kunjungan Syekh Al-Azhar Ahmad Thayyib ke Indonesia.

Sebenarnya deklarasi perdamaian yang disampaikan oleh Grand Syekh Al-Azhar bukanlah barang baru. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2004, sebuah ijmak (konsensus) telah dilakukan oleh para pembesar umat Islam. Lebih dari 500 orang yang ulama, pemikir dan tokoh Islam lintas mazhab dan golongan dari 84 negara di dunia ikut menandatangani dan mengakui konsensus tersebut.

Konsensus yang dibuat tersebut bernama Risalah Amman. Risalah Amman adalah sebuah deklarasi yang diterbitkan pada 9 November 2004 (27 Ramadan 1425 H) oleh Raja Abdullah II bin Al-Hussein dari Yordania yang menyerukan toleransi dan persatuan dalam umat Islam.

Risalah ini berisi 3 pasal yang mengangkat masalah: siapa seorang Muslim itu; pengasingan dalam Islam (takfir), dan; dasar-dasar yang berkaitan dengan pengeluaran fatwa.

Sewaktu Deklarasi atau Risalah Amman ini dibuat, Syekh Ahmad Thayyib masih menjabat sebagai Rektor Al-Azhar. Artinya, beliau hanya mengulang apa yang telah disepakati di masa lalu. Untuk hasil kesepakatan tersebut bisa diunduh di:http://bit.ly/1OwCqjY. Oleh sebab itu, jika ada pihak yang mencoba memurtadkan golongan yang ada pada deklarasi tersebut maka ia telah melanggar Ijmak ulama saat ini.

Salah satu isi Risalah Amman adalah menyatakan bahwa golongan yang ada dalam Islam seperti pengikut empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), pengikut mazhab Ja’fari, mazhab Zaidi, mazhab Ibadhi dan mazhab Zhahiri berada di dalam agama Islam dan tidak boleh dikafirkan. Begitu juga dengan golongan Tasawwuf dan golongan Salafi sejati. Semuanya tidak boleh dikafirkan.

  1. Menjauhi sikap berlebihan dalam beragama.
    Dahulu ketika Rasulullah Saw. masih ada, beliau sangat marah kepada salah seorang sahabat yang memiliki sikap berlebihan dalam beragama. Beliau disebutkan sangat marah kepada sikap sahabat tersebut. Lalu apa masalahnya? Kenapa sahabat tersebut dicap oleh Rasulullah Saw seperti itu?

Dalam Hadits riwayat Abu Masud Al-Anshari Ra., ia berkata:

Seorang lelaki datang menemui Rasulullah Saw. dan berkata, “Saya sengaja datang terlambat shalat Subuh karena si fulan memperlambat shalatnya saat mengimami kami.” Kemudian aku belum pernah melihat Nabi Saw. marah dalam memberikan nasehat seperti marahnya beliau (memberikan nasehat) pada hari itu.

Beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya di antara engkau ada yang membuat orang lari (jera). Barang siapa di antara kalian menjadi imam, maka hendaklah ia meringkas, sebab di belakangnya ada orang tua, orang lemah dan orang yang punya keperluan”.

Inilah salah satu poin dalam berislam yang sering terlupa. Hendaklah kita memberi kemudahan dalam beragama karena memang pada dasarnya memberi kemudahan dan kelapangan adalah perintah Rasulullah Saw.

Sejalan dengan hal ini, kita juga dilarang untuk menganggap wajib hal yang sunnah,  menganggap ijmak (kesepakatan ulama) hal yang diperdebatkan oleh para ulama dan juga berbohong untuk menegakkan politik Islam. Ketiga hal ini adalah bentuk berlebihan dalam beragama dan harus kita jauhi karena hanya akan menimbulkan kehancuran bagi agama itu sendiri.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Dalam hal ini, Syekh Usamah menjelaskan sebuah fenomena di balik runtuhnya Daulah Abbasiah di Baghdad. (Lengkapnya:http://bit.ly/1KN4i8T)

Pada waktu itu, Imam Nawawi masih berumur sekitar 20-an tahun. Lalu apakah dengan kajatuhan Khilafah Abbasiah lantas beliau langsung bertolak ke Baghdad untuk berjihad dengan penuh emosi?

Ternyata tidak. Beliau malah semakin giat dan tekun mendalami ilmu hingga seolah-olah semua kitab yang dibakar oleh bangsa Tartar waktu itu ditulis kembali oleh beliau dam bisa kita manfaatkan saat ini.

Saat ini, sikap Imam Nawawi inilah yang patut kita tiru. Kita harus tetap menyibukkan diri dalam bidang kita masing-masing tanpa tejebak dalam isu adu domba. Peradaban hanya bisa dikembalikan dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi bukan dengan peperangan. Mari kita lihat kembali sejarah Islam pada abad pertengahan.

Di era kerapuhan ini, jangan terburu-buru dalam memutuskan sesuatu (apalagi sampai mengkafirkan karena hal inilah yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah Saw). Bayangkan kalau pada saat itu Imam Nawawi bertolak ke Baghdad, barangkali kita tidak bisa menikmati hasil jerih payah beliau saat ini.

Begitulah, politik adu domba memang sangat ampuh untuk menghancurkan sebuah negeri karena pihak luar tidak perlu mengotori tangannya secara langsung. Mereka cukup menghembuskan isu sektarian dan menjual senjata atau memberikan bantuan kepada pihak yang berseteru hingga keduanya sama-sama hancur. Setelah semua pihak hancur dan kekuatan internal umat Islam melemah, pihak barat dengan mudah menguasai daerah umat Islam.

Persatuan adalah syarat mutlak untuk bangkit dan menjatuhkan politik barat. Kalau tidak, kita jangan bermimpi bisa mengembalikan Panggung Peradaban ke tangan Islam seperti dulu lagi.

Hadannallhu wa iyyakum ajma’in

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: