Ramadhan (bukan) Mie Instan

Instan menjadi pola pikir yang disenangi. Segala sesuatu inginnya cepat. Pun, tidak ada yang ingin hasil asal-asalan. Kombinasinya, ‘gapapa cepat asal hasilnya luar biasa dan mencengangkan.’ Kaya cepat, menipu, memproduksi air zam-zam atau beras palsu; cantik cepat, ke dokter kecantikan, abal-abal pun tak apa; pinter cepat, beli ijazah palsu, dan seterusnya.

Pola pikir ini merasuk pada banyak aspek, termasuk memahami ajaran agama. Belakangan salah satu ustadz selebriti menyampaikan, hanya dengan membaca ‘marhaban ya ramadhan,’ maka akan terhindar dari neraka. Dalam contoh lain, dengan puasa ini dan itu, terhapus semua dosa; dengan sedekah, akan kaya; dengan shalat, terhindar dari perbuatan keji, dan seterusnya.

Tidak dipungkiri, semua itu diajarkan baik dalam Alquran maupun hadis. Akan tetapi, problemnya bukan di situ, melainkan pola pikir instan yang digunakan utk memahami ajaran-ajaran tersebut. Yang muncul kemudian adalah relasi mistis antara usaha dan hasil, yang juga berpotensi bermuara pada pandangan bahwa memang nature agama itu mistis.

Di samping itu, pola pikir instan ini mereduksi ibadah-ibadah hanya pada sisi performatif atau selebrasi semata. Ibadah menjadi tontonan. Doa hanya sebagai ucapan, shalat hanya bacaan dan gerakan, dan seterusnya. Dengan cara pikir instan, manusia merasa tidak perlu capek-capek berproses perlahan dan terus menerus meresapi dan melatih nuansa-nuansa spiritual dalam setiap ibadah tersebut.

Ramadhan adalah bulan yang sarat spiritualitas, tapi cara pikir instan menjadikannya kosong. Ingat, ‘Allahumma barik lana’ tidak akan bikin kenyang. Kita tetap harus menyuap nasi masuk ke mulut, dikunyah, lalu ditelan. Dari sana lah kenyang datang. Begitu juga dengan shalat, ia tidak akan menghindari diri dari perbuatan keji dan mungkar. Training spiritual yang terus menerus dalam shalat lah yang menjadikan pikiran kita jernih menghadapi hidup. Dari sana lah kekejian dan kemungkaran bisa teratasi.

Ramadhan tentu juga demikian, ia tidak akan membebaskan diri dari neraka. Jangan bayangkan Ramadhan jadi cara instan untuk mengeluarkan diri dari neraka. Taqwa tidak seperti bayar hutang. Jika saya punya hutang 30 juta dalam jangka waktu 3 tahun, hutang itu lunas seketika jika di hari terakhir tahun ketiga saya bayar dengan nominal yang cukup. Akan tetapi, taqwa itu seperti bermain bola. Kita harus selalu bermain, latihan setiap saat, hingga kemudian jadi jago. Jika ada pertandingan 3 bulan dari sekarang, tidak mungkin saya bisa tampil bagus jika tidak latihan dalam rentang waktu tersebut. Saya tidak bisa langsung begitu saja masuk ke lapangan layaknya bawa nominal uang 30 juta dan tampil hebat. Memahami Ramadhan secara instan akan sia-sia, karena ia bukan mie instan.[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: