Refleksi 1 Tahun Surau Parabek: Surau Parabek sebagai Sebuah Pergerakan

Tepat pada tanggal 2 Februari 2016, blog surauparabek.wordpress.com diluncurkan. Hanya selang beberapa hari, keseriusan beberapa pengusung bersepakat meng-upgrade nya dalam bentuk (dot)com. Hari ini, 3 Februari 2017 merupakan hari pertama di tahun kedua perjuangan Surau Parabek.

Selama satu tahun ini, telah cukup banyak yang telah dilalui. Tantangan yang paling jelas adalah kurangnya tenaga penulis yang mau melibatkan diri secara serius di dalam wadah Surau Parabek ini. Hal ini tentu saja sangat bisa dimaklumi, karena budaya literasi pro aktif itulah yang menjadi perjuangan awal dari Surau Parabek. Ia pernah di-hack, juga pernah diremehkan. Ibarat kata orang Minang, “sampai dima bana jalannyo, paliang mode angek cirik ayam.” Bagaimanapun juga satu tahun pertama telah dilewati dengan cukup membanggakan.

Mungkin istilah ‘membanggakan’ terdengar ‘bagaikan punguk merindukan bulan‘ bagi banyak orang, terutama mengingat Surau Parabek adalah laman online. Sebagai media online, Surau Parabek geliatnya jauh di bawah blog-blog atau media-media alternatif lainnya. Akan tetapi, Surau Parabek tidak diniatkan sebagai media alternatif sebagai antitesis dari media mainstream yang mulai tidak dipercayai. Pun juga perlu digarisbawahi, Surau Parabek bukanlah laman online yang berburu klik. Surau Parabek bukanlah laman online komersil yang melakukan segala cara supaya dia selalu berada di daftar pertama dalam mesin pencari seperti google. Saya yakin para blogger memahami hal ini.

Bukan media alternatif, bukan blog pemburu klik, lantas apa? Surau Parabek adalah wadah pergerakan.

Saya harus sepakat dengan Ust. Ardinal Bandaro Putiah yang beberapa kali menyebutkan bahwa Sumatera Thawalib Parabek adalah sekolah misi. Saya juga pada akhirnya sepakat dengan ungkapan Ust. Deswandi, bahwa Sumatera Thawalib pada dasarnya sama dengan NU dan Muhammadiyah. Istilah ‘pada akhirnya’ bukan berarti pada awalnya saya tidak sepakat. Hanya saja, ketika beliau menyampaikan itu, saya belum memahami apa yang beliau maksudkan.

Kedua ungkapan tersebut menyiratkan bahwa Sumatera Thawalib Parabek bukanlah sekedar sekolah an sich. Sumatera Thawalib adalah wadah perjuangan; Sumatera Thawalib adalah wadah pergerakan; Sumatera Thawalib adalah semangat misi.

Maksudnya, Sumatera Thawalib Parabek tidak bisa disamakan dengan sekolah-sekolah negeri, baik sekolah umum maupun madrasah. Sekolah/madrasah negeri adalah program pemerintah. Institusi pendidikan pelat merah tersebut didirikan sebagai bentuk kewajiban negara dan pemerintah untuk memenuhi hak pendidikan warganya. Sumatera Thawalib juga tidak bisa disamakan dengan sekolah-sekolah atau pesantren-pesantren swasta yang dibangun paska kemerdekaan RI apalagi paska reformasi ketika kapitalisasi pendidikan semakin gamblang terlihat. Sekolah-sekolah kategori terakhir ini muncul dalam paradigma kompetisi di antara banyak pilihan lembaga pendidikan.

Sumatera Thawalib Parabek bukanlah program pemerintah, sebagaimana ia juga bukan proyek kapitalisasi pendidikan. Sumatera Thawalib bukan program dan tidak dijalankan oleh pemerintah. Ia dijalankan oleh rakyat, untuk rakyat. Sumatera Thawalib juga tidak berkompetisi dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya di tengah pilihan merdeka yang telah tersedia. Sumatera Thawalib menyediakan pendidikan bagi anak negeri, khususnya anak Minangkabau, di tengah iklim penjajahan, ketika akses dan kualitas pendidikan sangat terbatas. Syekh Ibrahim Musa mendirikan lembaga pendidikan pada tahun 1910 (1908?) tentu saja tidak sama dengan seorang Kyai, Ustaz, Buya, atau investor mendirikan sekolah di abad 21 ini. Itulah perjuangan yang dirintis oleh Inyiak Syekh Ibrahim Musa dan Sumatera Thawalibnya.

Dalam bulan Desember 2016 dan Januari 2017, saya melakukan beberapa lawatan ke sejumlah kota tempat aktivitas mahasiswa-mahasiswa lulusan Sumatera Thawalib Parabek. Resmi ataupun tidak, mereka adalah anggota IMASTHA. Ada atau tidak lembaganya secara formal, mereka adalah anggota Ikatan Mahasiswa Alumni Sumatera Thawalib Parabek. Mulai dari Padang tentu saja, selanjutnya Jakarta, Bogor, Jogjakarta, dan Bandung. Dalam lawatan tersebut, saya berbincang dan berdiskusi tentang banyak hal, tentu saja salah satunya tentang Sumatera Thawalib Parabek dan kealumnian.

Sebagai alumni sekolah perjuangan, semestinya tergambar semangat perjuangan tersebut di jiwa, pikiran, dan aktivitas mereka. Hanya saja, buncahannya tidak terlihat jelas, mengendap-endap, butuh waktu dan energi untuk mengungkitnya. Bisa dibilang mereka sudah sama saja dengan alumni sekolah-sekolah negeri; tidak tersisa ikatan batin dengan aia kran Masjid Jami` Parabek. Generasi alumni Sumatera Thawalib Parabek mulai kehilangan semangat perjuangannya.

Itulah keresahan Surau Parabek. Karenanya, itu pula lah perjuangannya. Surau Parabek adalah pergerakan untuk menumbuhkan kembali semangat perjuangan Inyiak Syekh Ibrahim Musa.

Seberapa pentingkah gerakan ini?

Sumatera Thawalib Parabek telah berumur 107 tahun (atau 109) saat ini. Umur yang cukup matang. Selama itu, semestinya telah lahir ribuan atau puluhan ribu alumni. Dalam waktu yang tidak singkat itu, semestinya ikatan alumni telah kian kokoh.

Akan tetapi, bukan itu yang kita temukan. Beberapa artikel dalam buku ini juga membahas persoalan ikatan alumni ini. Dalam salah satunya disebutkan bahwa Ikatan Alumni Sumatera Thawalib itu berada di titik nadir, bahkan hingga level nama dan akronim resminya dirancukan dengan IMASTHA. Sangat disayangkan, tapi begitulah kondisinya.

Alumni-alumni Sumatera Thawalib Parabek saat ini telah bertebaran melewati batas geografi dalam berbagai peran politik, sosial, ekonomi, pendidikan, dan religius. Banyak yang telah menjadi orang-orang besar, yang kepada mereka tanggung jawab penyelenggaraan agenda-agenda program ikatan alumni bertumpu. Akan tetapi, kenyataannya Ikatan Alumni Sumatera Thawalib Parabek hingga saat ini tidak termasuk ke dalam list agenda-agenda prioritas mereka. Tidak berlebihan jika Buya Deswandi pernah berujar, “Lihatlah alumni, siapa yang memiliki ikatan batin yang kuat ke sekolah?, siapa?!, tidak ada!?”

Ada paling tidak dua hal yang menyebabkan hal ini.

Pertama, karena memang mereka telah sibuk dengan segudang aktivitas yang mereka miliki. Mereka adalah para dosen, aktivis, teknokrat, birokrat, dan sebagainya. Kesibukan di lapangan masing-masing itu menghalangi mereka untuk melibatkan diri begitu jauh ke dalam kepentingan-kepentingan Ikatan Alumni Sumatera Thawalib.

Alasan pertama ini adalah alasan yang paling kasat mata, namun paling gampang dicarikan celahnya. Kesibukan sejatinya tidak menghalangi seseorang untuk beraktivitas di wilayah yang ia prioritaskan. Sepertinya kita tidak asing dengan orang yang memiliki banyak aktivitas di banyak wadah yang berbeda.

Intinya sepertinya berada di alasan kedua, yaitu Ikatan Alumni Sumatera Thawalib sama sekali tidak berperan mengiringi perjalanan karier mereka hingga titik kesuksesan yang mereka nikmati saat ini. Dengan kata lain, keberadaan mereka sebagai alumni Sumatera Thawalib Parabek tidak banyak berperan dalam perjalanan karier mereka kecuali bahwa mereka memegang sebuah ijazah dari Madrasah ini. Itu pun jika ijazah itu berfungsi. Sangat dimaklumi jika kemudian sense of belonging atau upaya untuk membesarkan jaringan peralumnian ini tidak menjadi prioritas mereka.

Surau Parabek merupakan wadah perjuangan untuk mengisi kekurangan tersebut. Surau Parabek berupaya untuk menempatkan jejaring ikatan alumni sebagai elemen yang penting. Surau Parabek berusaha meningkatkan nilai dan wibawa ikatan alumni. Oleh sebab itulah, Surau Parabek adalah sebuah pergerakan.

Memulai gerakan dari website merupakan langkah strategis yang dipilih. Hal ini karena media daring terbukti mampu mangumpuakan nan taserak. Terbukti, langkah strategis tersebut berhasil menarik perhatian alumni-alumni dari seluruh penjuru dan mampu membangunkan alumni dari tidurnya menuju Mubes. Ketika suara-suara pada saat mubes mulai terdengar senyap, media daring ini kembali merangsang semangat dari para senior untuk bergerak konkret membentuk langkah pertama membangun koperasi.

Oleh sebab itu, Surau Parabek bukanlah tentang perang wacana dan pemikiran yang berkembang. Isu-isu besar nasional seperti LGBT, ucapan natal, Ahok, PKI, dan sebagainya, meskipun diakomodasi bukanlah garis perjuangan utama Surau Parabek. Hal itu hanyalah sebagai konsekuensi bentuk tangga pertama perjuangannya melalui website yang menerima tulisan-tulisan dari para alumni yang telah berkembang ke dalam berbagai model dan kecenderungan pemikiran.

Bagi Surau Parabek, kesuksesan pergerakan tidak diukur dengan keterlibatannya dalam pergolakan wacana-wacana tersebut. Wacana itu hanyalah lahan-lahan sampiran yang mau tidak mau dihadapi oleh para praktisi dan pemikir di Indonesia di masa kemelut politik ini.

Surau Parabek mengukur kesuksesannya ketika ia berhasil mengembalikan semangat dan jiwa perjuangan Syekh Ibrahim Musa kepada para alumni-alumninya. Surau Parabek mengukur kesuksesannya jika Ikatan Alumni Sumatera Thawalib Parabek telah menjadi pilihan prioritas bagi para alumni-alumni senior untuk mengabdi serta menjadi wadah strategis, efektif, dan realistis bagi para alumni muda untuk berkembang. Di atas itu semua, Surau Parabek mengukur kesuksesannya dengan peran aktifnya menjadi motor perjuangan pendidikan, moral, dan ekonomi bagi masyarakat Parabek, Minangkabau, dan Indonesia pada umumnya.

Surau Parabek adalah pergerakan, dan mari berjuang bersama Surau Parabek. Selamat ulang tahun Surau Parabek.[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: