Refleksi Bentuk dan Tanggung Jawab Ulama

Akar pokok Agama Islam adalah Tauhid; keyakinan monoteis bahwa Allah itu Esa. Jika definisi sederhana ini terdengar melangit, Ali Syari’ati membawa pemahaman tauhid ke bumi, yaitu sebagai pandangan dunia yang melihat seluruh dunia sebagai sistem yang utuh-menyeluruh, harmonis, hidup, dan sadar diri, yang melampaui segala dikotomi, dibimbing oleh tujuan Ilahi yang sama.

Dalam dataran historis-empiris, Islam hadir ditengah-tengah masyarakat yang kacau. Ini ditandai dengan tipisnya penghargaan manusia pada nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Tauhid dalam pandangan Syari’ati di atas mewujud menjadi pernyataan dan sikap pembebasan diri serta penolakan terhadap pandangan dan sikap-sikap tiranik manusia terhadap manusia lainnya, baik yang berlindung di belakang nama kekuatan, kepemilikan, keunggulan kultural, dan sebagainya. Tauhid sejatinya merupakan upaya pembentukan tatanan sosial politik yang didasarkan atas kesatuan moralitas kemanusiaan yang melintasi batas-batas kultural dan ideologi.

Nabi Muhammad berhasil membangun susunan masyarakat baru dengan risalah yang dibawanya. Di masa beliau terbangun sistem masyarakat yang terbaik. Ia menjadi pioneer, penggerak, motor, inspirasi, dan rujukan langsung terhadap berbagai persoalan dan dinamika hidup masyarakatnya. Tapi masa itu telah lewat. Tinggal lah umat sekarang dengan bekal Al-Quran dan Sunnah yang telah beliau wariskan.

Pada abad pertengahan, Islam dilihat sebagai ancaman oleh dominasi gereja. Ini memicu terjadinya bencana kemanusian yang dikenal dengan perang salib; perang selama lima abad yang menguras energi kedua belah pihak. Gereja menang dan dominasinya berlanjut. Tapi segera mereka menghadapi tantangan baru dari dalam; kegairahan terhadap ilmu pengetahuan yang dikenal dengan renaisans. Dari sini lah lahir berbagai arus pemikiran yang pengaruhnya masih kokoh hingga saat ini: materialisme, individualisme, kapitalisme, liberalisme, sosialisme, nasionalisme dan ultra nasionalisme.

Perkembangan itu juga pengaruh signifikan terhadap perjalanan umat Islam. Islam menghadapi gugatan dari paham-paham yang muncul. Para warasatul anbiya’, ulama, menghadapi problematika yang mungkin saja lebih rumit daripada yang dihadapi oleh Rasulullah pada masanya. Para ulama ditantang untuk bisa hadir di segala lini untuk bisa menjawab persoalan umat baik secara teoritis manpun praktis.

Kecenderungan terhadap materialisme dan semakin mengentalnya individualisme menjadi jurang pemisah antara Islam sebagai keyakinan dengan praktek keseharian. Keterlambatan para ulama untuk masuk pada ranah itu semakin menjauhkan umat itu sendiri dari keyakinannya. Saya sependapat dengan apa yang dikemukan oleh Abraham Maslow bahwa manusia akan mengabaikan atau menekan dulu semua kebutuhan lain sampai kebutuhan fisiologisnya terpuaskan. Hal inilah yang menjadi ruang untuk tumbuh dan berkembangnya paham materialisme itu.

Disisi lain, saat ini para ulama tidak mempunyai kemampuan analisis sosial yang baik. Sebagian hanya bersikap reaktif, tergopoh-gopoh, temporer; dan karenanya tidak kokoh. Sampai saat ini belum terlihat sebuah gerakan sistematis yang nyata yang mampu mengatasi problem-problem laten seperti kesenjangan si miskin dan si kaya, penanggulangan praktik ribawi, monopoli pasar oleh ‘kalangan terbatas nan bersaku tebal’, dan sebagainya.

Di samping semua itu, para ulama juga mengalami problem penipisan otoritas. Masyarakat seolah kehilangan sosok yang bisa didengar, sehingga lari kepada para ustaz selebriti. Marilah kita bertanya ke warga di kampung-kampung, siapa kah yang bisa mereka akui sebagai ulama saat ini? Sepertinya mereka tidak akan yakin dengan jawabannya.

Pada sisi lain, kita memang melihat sejumlah cendikiawan yang dirujuk dan diperhitungkan. Intelektualitas mereka mampu membaca dan menjelaskan peristiwa dan dinamika kehidupan baik secara teoretis maupun praktis. Akan tetapi, Indonesia mayoritas berpenduduk Muslim. Pada akhirnya, tetap ulama lah yang mereka butuhkan. Cendikiawan tidak memiliki otoritas keagamaan; dan itu sangat penting bagi umat Islam.

Dengan demikian, kita menghadapi kenyataan bahwa tanpa cendikiawan, ulama di cibir di perdebatan teoretis-praktis, dan tanpa ulama, cendikiawan tak didengar umat. Dari itu, dibutuhkan sebuah wadah yang mampu menjembatani kedua kelompok figur di atas; diperlukan kerjasama dan keselarasan antara ulama dan intelektual atau cendikiawan. Dari situlah masyarakat semestinya mendapatkan apa yang mereka butuhkan.

Model NU-Muhammadiyah sejatinya telah menjalankan peran tersebut. Sosok ulama diterjemahkan menjadi lembaga, bukan individu. Di dalam lembaga, ada para ‘alim dalam ilmu keislaman, ada cendikiawan, ada teknokrat, aktifis, pengusaha, dan lapisan-lapisan masyarakat lainnya. Semua itu mewujud menjadi sosok ‘ulama’. Secara konsep, peran ulama dijalankan dalam bentuk organisasi.

Ini semestinya menjadi renungan bagi seluruh “kader” Sumatera Thawalib Parabek (meminjam istilah Budi Akbar)  untuk kembali menjadi yang terdepan menjawab tantangan itu. Umat membutuhkan representasi ulama, yang mungkin bisa terwadahi dengan sebuah lembaga yang kokoh. Masyarakat membutuhkan figur yang bisa membumikan tauhid; figur yang dengan konsep tauhid yang dekat itu mampu menjawab kebingungan-kebingungan sekaligus menjadi motor penggerak untuk hidup produktif dan bermartabat. Dengan kinerja aktif yang sangat membumi lah kemudian masyarakat bisa merasakan kehadiran para warisatul ‘anbiya dalam kehidupan mereka.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: