HomeArtikelRefleksi tentang Cara Belajar Kita

Refleksi tentang Cara Belajar Kita

Artikel Refleksi 0 0 likes 9 views share

Assalamu’alaikum. Sudah lama rasanya saya tidak menuliskan rasa gatal yang kian menggerogoti otak ini. Sebelum itu bolehlah kiranya saya memperkenalkan diri. Bukan bermaksud untuk pamer ataupun sesuatu yang perlu di banggakan, hanya saja agar supaya orang-orang yang merasa ilmunya lebih tinggi tidak perlu membaca tulisan ini.

Nama saya Abdullah Zaki Al-humaidi, lahir di Bukittinggi, pernah sekolah di MST Parabek, gaya pakaian sembrono dengan rambut acak-acakan, dan dua kali DO kuliah. Jadi sekiranya ada saudara-saudara yang ingin membaca tulisan bermutu dari orang-orang berdasi yang meraih nilai-nilai akademis yang tinggi tak perlu lah membaca tulisan ini, karena saya bukan seorang yang terdidik ataupun seorang ustadz.

Akhir-akhir ini saya merasa sedikit terganggu dengan postingan beberapa orang di sosial media; postingan-postingan tentang agama yang penulisnya, asal-usulnya bahkan sumbernya tidak jelas. Pernah suatu kali saya mengomentari postingan tersebut namun saya malah mendapat jawaban yang bisa di bilang cukup “membakar telinga”.

Ini hanya salah satu contoh dari permasalahan yang kita hadapi saat ini; semakin banyak orang yang haus akan ilmu agama. Ini sangat bagus menurut saya, tapi sayangnya rasa haus akan ilmu seringkali di iringi dengan cara pikir yang tidak logis, tak masuk di akal.

Tidak Logis yang saya maksud disini adalah terlalu mudahnya percaya dengan artikel-artikel yang entah darimana asalnya. Alangkah baiknya seseorang yang haus akan ilmu agama ini bersikap kritis, mempertanyakan asala-usul, mempertanyakan kebenaran artikel-artikel, mencari perbandingan yang lain dan sebaiknya bertanya pada orang yang lebih mengerti.

Orang yang mengerti ilmu agama yang saya maksud adalah, bukan orang yang setiap hari memakai kopiah, atau seorang yang mempunyai jilbab lebar, bukan juga seseorang yag rajin memberi ceramah-ceramah keagamaan. Orang yang berilmu adalah beliau yang mempelajari dan benar-benar paham dengan bidang ilmu tertentu seperti Ilmu-ilmu Fiqh, Ilmu-ilmu Tafsir, Hadis, Kalam, dan seterusnya.

Tapi di tanah yang terkenal dengan cara berfikir kritis, di Minangkabau, justru yang terjadi sebaliknya. Ambil contoh tak usah jauh-jauh; di daerah sekitaran kampung saya saja. Sekali sesorang sudah jadi imam, siapa dia di mata masyarakat? “Ustadz!” Ketika  seseorang memberi ceramah dengan kutipan ayat Al-Quran dan terjemahan di tambah cerita yang entah apa-apa saja, lantas dengan sebutan apa dia dipanggil masyarakat? “Ustadz!” Ada lagi beberapa orang yang kalau tidak di panggil dengan sebutan “ustadz”, mereka tidak jadi memberikan pengajian. Ini benar kejadian di sekitaran kampung saya dulu.

Coba kita dengar lagi tentang ulama-ulama terdahulu. Apakah mereka meminta untuk di panggil sebagai “ustadz”?; asakah mereka pamer-pamer ilmu?; adakah mereka meminta bayaran?; adakah mereka mencaci-maki?; mempergunjingkan orang?

Saya ingin mengajak kita semua untuk berfikir jernih. Misalnya, coba saja kita tanya pada orang-orang yang senang menonton ceramah-ceramah di televisi atau orang yang suka membaca artikel-artikel agama yang bertebaran di internet, “Siapakah beliau yang ceramah itu?; atau siapa yang menulis artikel itu?” Beragam memang tanggapannya. Tapi kebanyakan dari mereka akan menjawab, “ini ulama kondang”, “pengajian ustadz itu bagus sekali” atau “artikel ini benar”. Padahal beberapa kali saya dapatkan artikel-artikel yang mangatasnamakan Islam yang isinya ternyata “adu domba”

Saya yakin, kebanyakan yang membaca tulisan saya ini pun juga akan banyak yang tidak suka dengan tulisan ini. Kenapa? Tanya pada diri sendiri. Memang kita harus mendalami ilmu agama, itu harus. Tapi apakah kita semua sudah bersikap kritis dengan ilmu yang kita dapatkan dari orang lain? Atau jangan-jangan kita justru bersikap kritis tentang penampilan orang yang menyampaikan suatu kebaikan?

Saya punya cerita tentang sikap-sikap seperti ini.

Suatu ketika, saat saya sedang bercerita dengan salah seorang senior. Beliau menceritakan tentang mertuanya yang sedang mencari-cari ilmu agama. Jadi sang mertuanya pergi bersama beberapa orang temannya untuk belajar ke rumah seorang “yang berilmu.” Namun ketika sampai di tujuan, mereka kaget melihat gaya tampilan sang guru. Selanjutnya yang terjadi apa? Sebagian tertipu dengan penampilan, mereka tidak jadi belajar. Tapi, beberapa lagi mampu berpikir jernih, dan mereka mendapatkan ilmu yang berharga.

Disini saya tegaskan, belajar itu jangan melihat tampilan seseorang. Kita selalu berkoar-koar “jangan lihat buku dari sampulnya”, “jangan menilai seseorang dari tampilannya”, dan sebagainya. Akan tetapi, faktanya terlalu banyak dari kita yang sudah membuktikan diri sebagai “orang munafik”.

Belajarlah! ambil lah ilmu dari siapapun! Kejarlah akhirat dan jangan tinggalkan dunia! Dari seorang malingpun kita bisa mendapatkan ilmu jika kita bisa berfikir positif. Lihatlah semangat si maling, pantang pulang sebelum menggondol TV. Sebaliknya, dari seorang “Kiyai” pun kita takkan mendapatkan ilmu jika kita berfikir negatif.

Itulah pentingnya bersikap kritis dan berfikir positif.

Terakhir, ini rasa kecewa saya yang paling dalam. Kita semua pasti tau, tempat menuntut ilmu adalah “sekolah” dan tempat menuntut ilmu agama dikenal dengan “pesantren”. Mari renungkan, sudah beberapa banyak pesantren atau sekolah-sekolah agama yang menghilang karna tak adanya penerus?, dan sudah berapa banya pesantren-pesantren yang menjadi tumbal kejamnya politik?

Tak ingatkah kita, berapa keras perjuangan ulama-ulama dahulu mendirikan sebuah sekolah untuk menyebakan ilmu-ilmu agama? Tak ingatkah kita, dedikasi mereka terhadap penyebaran ilmu? Tak ingatkah kita, hidup mereka terancam oleh para penjajah demi mempertahankan sebuah pesantren demi aqidah dan iman anak cucu mereka? Tak ingatkah kita pengorbanan mereka?

Ulama-ulama terdahulu tak butuh “Dasi”, mereka tak butuh masuk TV, tak butuh atribut-atribut yang tak jelas, yang mereka fikirkan hanya menyebarkan Ilmu untuk menyelamatkan genersi, coba kita lihat sekarang, apa yang terjadi?

“Tuntuiklah Ilmu nak, cari pengalaman banyak-banyak, jauahlah marantau, nan pasan ayah jan di lupokan. Sumbayang jo Al-Qur`an jan pernah ditinggaan”

Pasan Ayah Kanduang-

(Jogjakarta, 01 Mei 2016)

Baca juga:  Kids Jaman Now dan Daya Kritis yang Tergerus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *