Reformasi versus Kontra-Reformasi

Ilmu adalah lawan dari kebanggaan-kebanggaan palsu atas prestasi-prestasi yang kita sendiri tidak berperan dalam menciptakannya, dan bahkan kita sendiri tidak berusaha untuk memahami faktor-faktor penyebabnya. (Nasr Hamid Abu Zayd)

 Pasca perang salib, sinar kejayaan Islam perlahan-lahan meredup. Umat Islam bagai tersesat dalam ‘labirin romantisme’, bahkan berabad-abad lamanya. Pada saat bersamaan, ‘Barat’ memasuki babak baru kejayaannya, setelah menggagas proyek besar renaissance dan aufklarung-nya; encounter atas segala doktrin yang dijustifikasi gereja. Suatu perbedaan signifikan dengan apa yang dilakukan umat Islam, alih-alih menyesuaikan teks agama dengan konteks situasi objektif-historis, mengubahnya menjadi sesuatu yang memiliki kesakralan (korpus tertutup).

Kenyataan tersebut, pada awalnya, sarat dengan ide afinitas dalam rangka menghadapi serbuan pasukan salib. Kesatu-paduan ideologi diharapkan dapat membentuk kohesi sosial masyarakat begitu juga menghindarkannya dari perpecahan politik, pada sisi lain, memudahkan kaum penguasa menginvestasikan kekuasannya dalam tatanan sosial masyarakat Arab. Konsep ini, sebagaimana ditengarai Nasr Hamid, diformulasikan melalui trend kultural yang hegemonik-kultur konservatif, dimana konsep inilah yang menyebabkan teks-teks agama mengalami stagnan, al-Qur’an berubah dari sebuah teks menjadi mushaf, dari tanda menjadi sesuatu yang hampa makna. Pasalnya, dominasi kelas sosial penguasa (baca: konservatif) dengan segala cara yang diandalkan cukup efektif menghancurkan gerak interaktif yang dinamis antara teks dan realitas.

Akibatnya potensi intelektual umat Islam membusuk, terjadinya degenerasi, deklinasi, hingga berujung pada dekadensi peradaban. Hak berijtihad digantikan dengan keharusan taqlid (pintu ijtihad telah tertutup). Karya-karya yang dihasilkan hanya seputar ringkasan-ringkasan, syarah atas kitab imam, merumuskan kembali metode pendiri mazhab dan mencapai titik ekstrim-nya pada sebuah kefanatikan. Pergeseran paradigma –jika ada­­­– tidak keluar dari lingkaran pemikiran mazhab dengan arti tidak ada pemikiran baru; penulisan yang tidak berani bertentangan dengan imam-imam.

Ketika ide, nilai, dan pemikiran masuk ke dalam dunia sosial, ia akan menjadi behaviour (perilaku), attitude (sikap), dan pola-pola hubungan sosial yang kompleks. kemapanan-kemapanan yang terbentuk –yang biasanya dianggap sebagai effective history-nya umat Islam- sebenarnya tidak terlepas dari relasi kuasa dengan arti bebas nilai. Ia merupakan warisan dari sayap konservatisme, yang dalam gerak sejarah, berkembang menjadi golongan yang domain dalam wacana keagamaan, berikut sejumlah terminology umumnya.

Gerakan Islam ini (tradisionalis/konservatif), sebagaimana dijelaskan Hanafi, mengaplikasikasikan teks-teks agama secara literer (tekstualistik) tanpa memperhatikan kondisi zaman, maqasid syariah, serta kebutuhan-kebutuhan manusia sehingga seolah-olah realitas tidak menjadi dasar dari lahirnya sebuah teks (asbab al-nuzul), penekanan yang berlebih pada permasalahan ketuhanan (teosentris) ditandai dengan usaha untuk mempertahankan hak-hak Allah lebih banyak daripada hak-hak manusia, sehingga seolah-olah Allah tidak mahakaya atas seluruh alam semesta dan seolah-olah agama memiliki tujuan hanya untuk agama dan bukan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia. Mereka lebih banyak menggunakan metode deduksi daripada metode induksi lebih terfokus pada dasar (ushul) daripada cabang (furu’), prinsip daripada realitas, ritual daripada isi, teori daripada praktis serta unsur aqa’id daripada unsur tasyri’.

Kelompok oposisi terhadap gerakan di atas dalam wacana keagamaan kontemporer adalah aliran ‘reformasi’. Aliran ini meniscayakan rekonstruksi sistem nilai dan pandangan dunia. Meninjau ulang bangunan epistemologi keilmuan Islam, dan implikasinya dalam wilayah penafsiran teks-teks keberagamaan. Tegasnya dalam revolusi kesadaran itu, terselip kemuakan-kemuakan logis atas kejumudan/kekakuan konservatif yang masih eksis hingga saat ini. Pandangan ulama kuno dianggap tidak lagi relevan mewakili suara Tuhan. Kelompok ini menitikberatkan pandangannya pada aspek orisinalitas, (mebentangkan sayapnya dari sumber aslinya), rasionalitas (menyentuh dimensi filosofis), realitas (mengekspresikan semangat zaman).

Pada tahun 2008, misalnya, Jasser Auda menerbitkan tulisannya berjudul Maqasid Shariah as Philosophy of Islamic Law: A system Approach. Buku setebal lebih dari 300 halaman itu, merupakan upaya konstruksi bangunan epistemologi keilmuan hukum Islam baru dengan menghadapkannya pada sebuah mazhab filsafat modern, yaitu filsafat sistem. Mesti teori maqasid bukan barang baru dalam tubuh keilmuan Islam, tetapi pada kenyataannya ide yang penting dan fungsional tersebut belum mampu menjawab berbagai persoalan mendasar umat. Menjamurnya kemiskinan di negara berpenduduk mayoritas Islam, rendahnya tingkat literasi, rendahnya tingkat pendidikan, partisipasi politik dan ekonomi, pemberdayaan wanita, belum lagi menyebut standar dan kualitas kehidupan yang layak. Oleh karena itu, pembacaan ulang sekaligus rekonstruksi merupakan sebuah keniscayaan. Pendekatan sistem digunakan untuk menetapkan barometer sekaligus menjawab pertanyaan bagaimana Maqasid al-Syari’ah diperankan secara nyata dalam metode pengambilan hukum dan berijtihad di era kontemporer

Dalam analisanya, Jasser mempertemukan teori Maqasid dengan basis metodologi yang penting, yaitu asas rasionalitas, asas manfaat, asas keadilan, dan asas moralitas. Maqasid bukan lagi tentang cause tetapi purposefulness. Efektifitas dari sistem hukum Islam diukur berdasarkan terpenuhinya tujuan-tujuan pokoknya (pada kesempatan lain saya akan jelaskan teori maqasid yang di usung jasser ini dengan lebih rinci). Rumusan/konsep yang ditawarkan Jasser ini sangat berbeda dengan apa yang telah di ‘amini’ oleh leluhur sebelumnya.

Hassan Hanafi, seorang pengusung kiri, pada sisi lain, menitik beratkan pandangannya kepada aspek realitas (problem, penderitaan, kesedihan, bencana dan kekalahan) umat Islam. Ia menyebutkan, kondisi telah berubah, zaman ini bukan lagi zaman fikih, tasawuf, atau dogma tetapi ilmu sosial, ekonomi dan politik sebagai panglimanya. Tegasnya, tugas kita bukan membela Tuhan karena Tuhan tidak membutuhkan alam semesta, juga bukan membela Islam karena agama ini memiliki Tuhan yang melindunginya, tetapi membela umat manusia  yang tidak mimiliki pembela kecuali diri mereka sendiri. Oleh karena itu, ia berkesimpulan bahwa Islam sebaiknya berfungsi orientatif bagi ideologi populistik yang ada. Kesimpulan Hanafi ini selanjutnya menampik anggapan Marx tentang agama sebagai candu dalam pengertian bahwa selain tidak membawa perubahan, agama justru menguntungkan sekelompok elite.

Sepanjang pemaparan di atas kita dapat melihat bahwa pada dasarnya di dalam tubuh Islam telah terbentuk ideologi biner, yang kedua-duanya sama-sama menggambarkan pemberontakan yaitu reformasi dan kontra-reformasi. Dalam kasus reformasi, pemberontakan bersifat politik sekaligus teologis; encounter atas segala kesewenang-wenangan author (critical reader), dan kemapanan yang terkonstruksi dalam setiap diri individu maupun kelompok (establishment). Dalam pendirian mereka, kebenaran tafsir bukanlah suatu hal yang final, kerja-kerja ilmiah sangat dihargai dan menyerukan untuk kritis melihat kenyataan di lapangan. Sementara dalam kasus kontra-reformasi, pemberontakan dilakukan terhadap kebebasan intelektual dan moral pemikir liberal; otoritas author diperbesar pada saat bersamaan menekankan, umat Islam modern harus tunduk dengan tradisi, ini berarti tidak ada kompromi, reformasi, rekonstruksi, modifikasi dan perubahan yang boleh berjalan.

Nah, selanjutnya di posisi mana akan anda tancapkan pancang prasasti anda?

Rahmat Fauzi

Rahmat Fauzi adalah alumnus Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2009. Saat ini adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: