Remaja di Persimpangan Jalan

Adalah lumrah jika pemuda memiliki peran penting dalam membangun masyarakat. Karena itu, banyak artikel yang membahas tentang remaja (pemuda) dimuat di media massa, baik itu cetak maupun elektronik. Selain itu, tidak disangkal lagi masa muda adalah masa emas; masa ketika seseorang memiliki daya pikir yang kuat dan semangat meluap. Masa muda adalah masa berkarya. Seseorang yang tidak memberi pada masa mudanya, tidak akan banyak menyumbang pada masa tuanya. Nabi Muhammad shallallahu‘alaihi wasallam telah memperingatkan sejak jauh sebelumnya agar tidak menyia-nyiakan masa muda.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Manfaatkan lima perkara sebelumdatang lima perkara : muda sebelum datang tua, sehat sebelum datang sakit, kayasebelum datang miskin, hidup sebelum datang mati dan senggang sebelum sibukdatang.“ (HR. Al-Hakim)

Begitu pentingnya peran pemudasehingga banyak seruan dan slogan yang diteriakkan oleh para cendekiawan untuk peduli penuh dengan generasi muda. Namun, realita yang ada tidak seperti yang diharapkan dan kenyataan tak selalu bersahabat. Entah berapa banyak artikel dimuat, dialog dan diskusi diselenggarakan, buku dikarang dan organisasi pemuda didirikan, namun pemuda zaman sekarang malah bingung di persimpangan jalan.

 Remaja di persimpangan jalan.

Problem terbesar yang tengah dihadapi oleh generasi muda dewasa ini adalah ghazwul fikri (perangpemikiran) yang menyebabkan pemuda senantiasa berada dalam hairah (kebingungan). Ibarat seorang perantau yang baru sampai di kota besar lalu tersesat di persimpangan jalan. Ia bertanya kepada siapa saja yang lewat mengenai lokasi yang ia hendak tuju, namun jawaban yang ia dapat malah berbeda-beda.

Demikian juga dengan generasi muda kita. Berbagai informasi dan tayangan televisi yang beredar di lingkungan mereka membuat para remaja kehilangan arah, karena tidak ada filter ampuh yang menyaring informasi tersebut. Stasiun televisi dan media lainnya mulai memandang etika dengan sebelah mata.  Persoalan moral dan karakter bangsa seolah menjadi tema basi dan jadul yang tak layak di angkat ke layar kaca, meski tema-tema positif juga ikut ambil bagian dalam media. Informasi yang saling campur baur inilah yang tengah di hadapi oleh para kawula muda. Arus deras informasi dan dukunganmedia, seakan  telah menekan lajupenanaman karakter pada generasi muda.

Seringkali para pemuda menemukan lingkungan mereka sangat kontras dengan materi adab, akhlak dan moral yang mereka dapati di sekolah. Akibatnya, kepekaan mereka dalam membedakan baik danburuk terkikis dan menipis. Di sekolah, mereka diajari agar senantiasa rajin belajar, bekerja dan terus berkarya. Namun begitu mereka keluar dari kelas, mereka malah menemukan remaja seusia mereka malah duduk “nongkrong” di jalanan atau warung-warung. Di sekolah, mereka diajarkan agar senantiasa menjaga pergaulan sehingga tidak berujung pada hal-hal yang dilarang.  Begitu jam istirahat tiba, kegiatan pacaran massal telah menjadi tren demi mengisi waktu senggang. Ironisnya, masyarakat seakan bermasa bodoh terhadap fenomena tersebut.

Pendek kata, kebingungan yang melanda remaja saat ini membuat mereka terpaku di persimpangan jalan, kehilangan arah, karakter bahkan banyak di antara mereka yang bingung menetapkan tujuan hidupnya. Banyak juga yang tidak tahu mau jadi apa mereka dan bagaimana merangkai masa depan. Para remaja terus berada dalam kebingungan, perang pemikiran tak kunjung mereda. Media massa mengenyampingkan etika. Alhasil, pergaulan bebas, narkotika, tawuran serta hura-hura menjadi jalan pintas para remaja saat ini.

Islam datang sebagai solusi.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Dantiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa: 107)

Seribu empat ratus tahun yang lalu, ketika bumi tengah dilanda kegelapan dan kebodohan, dimana tindak kejahatan dan asusila menjamur di segala lini; dimana umat beradab, masyarakat berbudi dan pemerintah yang adil nyaris punah. Disisi lain, kesyirikan dan animisme mengakar di setiap budaya, muncullah seorang Nabi yang namanya tercantum pada Taurat dan Injil. Dialah Nabi yang membawa wahyu Ilahi, yang membawa segala solusi. Dialah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sang pengibar panji Islam, yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

Tiga belas tahun yang pedih telah berlalu di Mekah. Kemudian semua menjadi mudah tatkala Allah Ta’ala memerintahkannya untuk hijrah ke Madinah. Dakwah terus gencar disebar, perang dan jihad terus bergulir dan syariat secara bertahap mulai ditegakkan. Sepuluh tahun berlalu dan Mekah dikuasai kembali. Semenjak itu, pamor Islam dan denyut jantungnya berdetak kencang. Langkahnya melaju pesat. Khilafah Islamiyah dengan segala kemajuan dan kemakmuran serta budi umat yang baik mencapai puncak kejayaannya.

Dari sini, terbukti jelas bahwa Islam ditegakkan untuk menjadi solusi bagi umat. Solusi yang universal tentunya, yang mencakup segala lini, usia tanpa pandang bulu, termasuk para remaja. Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Lantas, bagaimanakah peran Islam dalam menyelesaikan problem remaja?

 

Islam menyuruh remaja agar senantiasamenuntut ilmu.

Jika adapertanyaan : “Kamu ingin jadi orang pintar atau sebaliknya?. Tentu saja orang yang berakal sehat akan menjawab tegas: “Saya ingin menjadi orang yang berilmu,mana ada yang mau jadi orang bodoh?”.

Sejalan dengan fitrah manusia, Islam menyuruh umatnya agar senantiasa menuntut ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya: “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS.Az-Zumar: 9)

Tentu saja orangyang berilmu dengan orang yang tidak berilmu berbeda jauh; sejauh langit dan bumi. Begitu juga halnya dengan remaja. Remaja yang tahu banyak hal, tahu agama, tahu tujuan hidup, dan tahu mau dikemanakan hidup ini akan menata rapi hidupnya sehingga hidup yang merupakan kesempatan berharga akan ia jalani dengan baik. Remaja yang tahu bahwa hidup ini untuk diisi dengan ibadah, tentu tidak akan berleha-leha. Remaja yang berilmu tidak akan berhenti dipersimpangan jalan, namun ia segera mengambil tindakan.

 

Islam menyuruh remaja untuk menjauhi zina.

Islam ketika diterapkan niscaya mampu membangun generasi bersih, berkarakter dan jauh dari seks bebas. Karena itu, setiap Muslim termasuk para remaja harus menanamkan ketakwaan dalam diri. Islam menyatakan dengan tegas bahwa zina adalah dosa besar. Jangankan melakukannya, bahkan umat Islam diminta untuk menjauhkan diri dari segala perbuatan yang mangarah pada zina, seperti khalwat(berdua-duaan) dan sebagainya. Tak terkecuali aktifitas pacaran yang kini jadi rutinitas para remaja. Allah Ta’ala  berfirman:

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al-Israa: 32)

Tentu saja peran orang tua dan Negara sangat besar dalam melindungi remaja.  Dalam keluarga, selain wajib menjamin kebutuhan hidup anak-anak mereka, seorang ayah dan ibu juga wajib mendidik anak-anak agar memiliki kepribadian Islam. Membentuk pribadi yang paham dan taat pada aturan-aturan Allah Ta’ala. Sehingga tidak terjerumus pada zina dan merusak tatanan sosial. Di sisi lain, peran Negara amat besar dalam menjamin moral masyarakat, khususnya remaja, sebagaimana Negara berkewajiban untuk menjamin kesejahteraan masyarakatnya.

 

Islam menyuruh remaja untuk menyibukkan diri

Seorang remaja hendaklah mengisi waktu luang dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Baik itu ibadah, membaca buku, diskusi, olahraga dan sebagainya. Seorang remaja yang tidak sibuk, maka dengan sendirinya ia akan bingung dan terjerumus pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Ali bin Abi Thalib radiyallahu‘anhu pernah berkata: “Jika kau tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang baik, maka keburukan akan menyibukkanmu.”

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam juga bersabda: “Dua nikmat yang sering dilalaikanmanusia: nikmat kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Dan seorang remaja yang baik akan selalu ingat bahwa kesehatan dan waktu adalah modal pokokuntuk mencapai tujuan.

Remaja adalahsumber daya umat. Karena itu, remaja harus senantiasa dipantau, di didik dan diawasi agar siap menghadapi masa depan, siap menjadi kader yang selalu memberi, menyumbang dan berkarya.

 

Remaja tanpa islam tak berarti

Remaja itu membri, menyumbang danmembangun.

Remaja itu berkarya.

Remaja tanpa karakter cenderung meniru.

Remaja tanpa akhlak tak bermanfaat.

Remaja pecundang tak berguna.

Remaja produktif…. Remaja harapan umat

Semoga……

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: