Resensi Antologi Cerpen Pukul 6

Identitas buku :

  1. Judul : Pukul 6
  2. Pengarang : Ilham Fauzi, Uda Agus dkk
  3. Penerbit : WR Penerbit
  4. Tahun Terbit : November 2015
  5. ISBN : 978-602-1384-98-5

Di zaman yang semakin modern ini, novel adalah cerita utama yang paling digemari oleh para pembaca sastra. Kumpulan cerpen atau yang lebih dikenal dengan antologi cerpen jarang sekali ditemukan dalam daftar bacaan paling digemari. Umumnya pembaca dari kalangan masa kini lebih memilih membaca novel yang menceritakan satu kisah dengan satu tema. Berbeda halnya dengan antologi cerpen yang kompleks memuat berbagai macam judul, tema, dan alur.

Sudah lima kali Uda Agus mengumpulkan berbagai macam tema cerpen dari kepala penulis yang memiliki permikiran yang berbeda-beda. Pada periode kelima ini Uda Agus mengambil 30 pemenang dari lomba menulis cerpen yang beliau adakan. Pengurutan dalam buku diurutkan sesuai dengan juara dan, tentunya, kualitas dari karangan tersebut.

Ilham Fauzi adalah pemuncak utama dari 29 peserta lainnya. Atas keberhasilannya dalam lomba menulis cerpen Uda Agus tahun kemarin, namanya digandengkan dengan nama Uda Agus di cover luar buku. Pukul 6, judul karya Ilham, diangkat menjadi judul buku Antologi Cerpen ini. Karya Ilham Fauzi menjadi pembuka buku ini dan menggiring 29 cerpen terbaik lainnya. Sejak awal membaca buku Pukul 6 ini sudah nampak bahwa karya yang dihasilkan oleh masing-masing penulis bukanlah karya asal-asalan. Semakin jauh membaca buku ini, semakin terasa kekayaan kata-kata dengan aneka makna dari para penulis.

Picture1Ada satu hal yang lebih spesial dalam buku Uda Agus ini, yaitu salah satu santriwati Sumatera Thawalib Parabek menjadi partisipan dalam lomba tahunan ini. Kak Matahari atau yang lebih akrab disapa dengan Kak Riri adalah santriwati kelas akhir Sumatera Thawalib Parabek. Kak Riri menjadi runner-up dalam ajang kompetisi menulis cerpen yang diadakan Uda Agus. Tentunya dengan kegigihan dan semangat beliau dalam menulis sehingga Kak Riri bisa mengiringi Ilham Fauzi sebagai juara.

Cerpen yang Kak Riri tulis berjudul “Pulang”. Mengisahkan seorang mahasiswa yang merantau ke tanah Jawa untuk melanjutkan pendidikannya sebagai mahasiswa. Setelah kelulusan, dia pulang ke kampung halamannya di Bukitinggi. Ibunya meninggal sebelum dia sempat menyelesaikan kuliahnya. Namun kabar itu datang kepadanya agak terlambat dari kejadiannya. Pada akhirnya ia pulang dan melihat rumah ibunya yang sudah lama tak disentuh oleh siapa-siapa.

Pilihan diksi dan majas yang berbagai macam membuat kita semakin larut dalam cerita yang disajikan penulis. Rasa penasaran kadang muncul ketika telah kita telah menyudahi membaca satu cerita. Ditambah lagi dengan adanya hikmah yang bisa dipetik setelah menamatkan satu kisah. Masing-masing penulis menyelipkan amanat yang begitu berharga jika diresapi maknanya oleh para pembaca. Rasa hormat, sayang kepada orang tua, kepada keluarga, dan kebersamaan adalah beberapa pelajaran penting dari cerpen yang dikisahkan para penulis.

Buku Antologi Cerpen Pukul 6 ini mendapat berbagai tanggapan positif dari berbagai pihak. Ilham Q. Moehiddin, ketua HIPSI (Himpunan Penulis Sastra Indonesia), mengatakan bahwa kempetisi tahun ini lebih berdaya dari sebelumnya. Kemajuannya tampak sekali dari keseluruhan naskah. Para peserta sadar bahwa kompetisi ini tidak main-main. Sesuatu yang serius dan potensial mendorong diri mereka masuk ke gelanggang sastra Indonesia.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: