Resensi Film: 3 Alif-Lam-Mim

“Alif Lam Mim”, terdengar sangat familiar bagi kita khususnya umat Islam. Rangkaian huruf yang menjadi  pembukaan beberapa surat dalam Al-Qur’an. Alif Lam Mim ditemukan pada 6 surat berbeda dalam Al-Qur’an diantaranya surat Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman, dan As-Sajadah. Dikenal istilah “Huruf Muqaththa’ah” sebagai nama lain untuk menyebutkan rangkaian huruf ini.

Namun sang sutradara memiliki pendapat tersendiri mengenai makna dari Alim Lam Mim. “Alif itu kan lurus, saya suka menggambarkan sebagai api. Lam itu kayak udara. Mim itu kan ke bawah seperti air. Jadi saya gambarkan seperti avatar,” jelas Anggy. Memang judul dari film ini memancing  beragam tafsiran sesuai dengan sudut pandang dari masing-masing orang yang menafsirkannya. Keberagaman sudut pandang inilah yang kemudian lebih banyak dibahas dalam setiap adegan film ini.

Tiga Sahabat dalam Satu Cerita

Film Alif Lam Mim bercerita tentang persahabatan tokoh Alif, Herlam dan Mimbo. Mereka tumbuh bersama di sebuah padepokan silat bernama Al-Ikhlas. Lebih tepatnya Pondok Pesantren Al-Ikhlas yang dipimpin oleh Kiai Mukhlis.

Walaupun sangat akrab, ketiganya memiliki cita-cita yang berbeda. Alif, bertekad untuk menjadi seorang aparat Negara yang dapat menegakkan hukum yang benar. Sedangkan Herlam (Lam) memilih untuk menyampaikan kebenaran lewat tulisan. Adapun Mimbo (Mim), memutuskan untuk mengabdikan kehidupannya sebagai seorang pengajar di Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Meskipun jalan yang mereka pilih berbeda, akan tetapi mereka memiliki satu tujuan yang sama yaitu membela kebenaran dan memegang teguh idealisme.

Singkat cerita, pada akhirnya mereka dapat mewujudkan cita-cita tersebut. Alif dapat bergabung sebagai penegak hukum dalam pasukan elit Detasemen 38: 80-83, Lam menjadi seorang Jurnalis di Libernesia, dan Mim mengabdi sebagai ustadz di Pondok Pesantren Al-Ikhlas.

Film Futuristik: Jakarta 2036

Kota Jakarta di tahun 2036, sungguh masih jauh dari bayangan kita. Mungkin akan ada banyak hal yang terjadi menjelang 20 tahun tersebut. Dalam film ini, tahun 2036 digambarkan sebagai akhir dari perang saudara dan pembantaian kaum radikal di Revolusi tahun 2026. Negara kembali damai sehingga hak asasi manusia dipandang sebagai hal yang sangat penting. Bahkan hal ini terlihat dari keputusan pihak penegak hukum untuk mengilegalkan penggunaan peluru tajam. Aparat Negara hanya menggunakan peluru karet untuk melumpuhkan penjahat dan teroris. Mau tak mau, akhirnya mereka harus menguasai ilmu bela diri yang mumpuni untuk meningkatkan efektivitas penumpasan kejahatan.

Film ini tercatat sebagai  film laga futuristik pertama di Indonesia. Pada beberapa bagian dari film terlihat pemvisualisasian dari setting waktu dan lokasi yang cukup jeli. Contohnya terkait lingkungan Kota Jakarta di tahun 2036 dan aneka gadget yang mungkin akan digunakan di masa depan (hp dan kompter transparan, spy camera dari kontak lens). Begitu juga dengan penggambaran faham liberalisme yang berkembang di masyarakat. Ritual keagamaan yang mulai ditinggalkan karena dianggap kuno. Bahkan agama dicap sebagai pemicu kekerasan. Kelompok yang awalnya mayoritas, menjadi kelompok minoritas dimasa itu.

Kawan atau Lawan?

Konflik berawal dari kejadian pemboman di sebuah kafe. Alif bahkan nyaris menjadi salah seorang korban. Sedangkan Lam yang meliput kejadian menemukan berbagai kejanggalan dari kejadian tersebut. Hingga akhirnya mengantarkan Lam pada fakta ditemukannya botol-botol parfum yang diproduksi oleh pondok pesantren Mim di lokasi kejadian.

Baca juga:  Terjemah Al-Qur`an: Dulu Ditolak, Sekarang Dibela

Lam masih mencari berbagai fakta untuk melengkapi tulisannya, namun ia justru diminta untuk berhenti mengusut kasus tersebut dan ditugaskan meliput di luar Jakarta. Lam terjebak dalam pilihan antara resign atau menjalankan tugas peliputan di luar kota.

Keinginan Lam yang sangat kuat untuk mengungkap kasus tersebut membuatnya untuk memilih resign. Namun masalah berikutnya muncul. Spam tulisan Lam yang belum rampung mengenai kasus bom tersebar kepada beberapa awak media. Konten tulisan tersebut mengarahkan pada bukti bagi pihak aparat terkait keterlibatan Mim dan santri-santrinya sebagai tersangka utama. Sebagai seorang aparat Negara, Alif harus menjalankan perintah penangkapan bagi Mim atau pimpinannya. Sedangkan Lam terjebak dalam pertarungan antara menemukan kebenaran, menengahi persiteruan antara sahabat, dan ancaman keselamatan anggota keluarganya.  Bahwa mereka mungkin sama-sama memegang kebenaran, namun kini berada dalam kubu yang berseberangan. Yang belum mereka sadari saat itu adalah orang-orang yang menyusun aneka intrik di belakang mereka.

Dilema semacam ini sangat mungkin terjadi dalam kehidupan kita. Setiap orang berusaha untuk memegang kebenaran dari sudut pandangnya masing-masing. Hingga pada akhirnya lupa untuk mencoba memahami sudut pandang orang lain. Perbedaan sudut pandang tentu akan sulit untuk dipersatukan, namun selalu ada win win solusion yang tidak menyakiti pihak manapun. Berusaha untuk sekedar meredam egoisme atas terwujudnya keinginan pribadi. Jika titik puncak persiteruan itu memanas dan tidak ada yang mengalah dengan kebenaran masing-masing, mungkin kita juga akan melafalkan kalimat yang sama seperti tokoh Letnan Bima yang diperankan oleh Donny Alamsyah.

Gw nggak tau lagi mana yang salah dan mana yang benar Lif.”

Sejarah, Silat, dan Santri

Dalam beberapa bagian dari film ini, penonton akan menyaksikan adegan bela diri (silat).  Adegan-adegan ini seperti mengajak kita untuk kembali meresapi beberapa potongan sejarah bangsa. Salah satu contohnya adalah  saat perang Paderi, perjuangan melawan penjajah di Sumatera Barat yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Bahwa perjuangan tersebut diwarnai oleh para santri dengan kemampuan silat yang mumpuni. Film Alif Lam Mim seakan mengambil peran untuk mengingatkan kita bahwa silat dan santri adalah sebuah bagian dari sejarah bangsa dan mungkin akan kembali kita butuhkan dimasa depan.

Unsur Dakwah yang Dikemas Indah

Arie Untung selaku produser mengakui bahwa banyak hal dalam film ini terinspirasi dari kisah-kisah dizaman Rasulullah Muhammad SAW. Namun inspirasi tersebut dikemas ulang sesuai dengan konteks abad 21.

Contohnya pada pemilihan angka Detasemen 38: 80-83, yang merupakan nama dari pasukan elit tempat Alif bernaung. Angka-angka tersebut bukan tanpa makna. 38: 80-83 merujuk pada Al-Qur’an surat ke 38 yaitu Shad ayat 80-83.

Artinya :

  1. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,
  2. sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)”.
  3. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
  4. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”.

Pemaknaan dari potongan ayat ini kemudian digambarkan dengan jelas pada salah satu adegan saat Alif diracuni oleh pimpinan Kolonel Mason, atasannya. Berikut ini adalah cuplikan kalimat yang diutarakan oleh pimpinan Kolonel Mason yang tidak diketahui namanya kepada Alif.

“Ini mainan kami. Kita butuh musuh Lif. Kita butuh perang, kita butuh kekacauan, kita butuh semua fanatis ini untuk apa? Balance. Untuk menjaga kestabilan di dunia ini.  To create peace. Agar semua orang menjunjung tinggi nilai perdamaian. Agar mereka mensyukuri apa yang mereka miliki. Ini tugas kami. Dan seharusnya juga menjadi tugas kamu.

“Pasti yang ada di dalam otak kamu sekarang kami adalah komplotan iblis yang membuat perang dan kekacauan. Membunuh orang semau kami. Guest what… Iblis adalah makhluk yang paling dekat dengan Tuhan. Yang paling ta’at atas fungsi dan perintah Tuhan. So we are the necessary evil. We control everything.”

Baca juga:  Pelajaran dari Peristiwa Ustazah Nani Handayani

Adegan ini benar-benar menggambarkan bagaimana iblis menyesatkan manusia sehingga membuat manusia merasa ragu dengan kebenaran yang pegangnya. Air yang terlihat seperti api dan api yang terlihat seperti api. Benar-benar membingungkan.

Sedangkan seseorang yang mukhlis digambarkan pada tokoh pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas yaitu Kiai Mukhlis. Kiai yang mampu menciptakan lingkungan pesantren yang terbuka bagi semua mazhab untuk toleransi dan hidup tentram berdampingan. Karena itulah beliau akhirnya dijebak oleh Detasemen 38: 80-83 untuk dijadikan tersangka kasus terorisme.

Bagian ini tentu dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa tantangan umat Muslim di masa yang akan datang akan jauh lebih berat. Bahwa shaf harus dirapatkan. Muslim harus bersatu. Sebagaimana pesan dari Kiai Mukhlis kepada Mim saat dirinya ditangkap oleh aparat Negara.

Rapatkan Shaf Mim!”

Keunggulan Film

  • Waktu penggarapan yang singkat dibandingkan film sejenis. Pembuatan naskah 6 bulan, persiapan 3 bulan, workshop 2 bulan, syuting 26 hari, dan CGI 2 bulan. Total pengerjaan kurang lebih 1,5 tahun. Semuanya dikerjakan oleh para sineas Indonesia. Hal ini mengejutkan bagi para sineas asing.
  • Film ini mampu mengikuti festival Internasional Balinale yang diselenggaran di Bali walaupun harus berkejar-kejaran dengan waktu pengerjaan yang sangat terbatas dan deadline yang sempit.
  • 50% penonton dari film ini bukanlah orang Indonesia melainkan panitia festival dari 26 negara diseluruh dunia.
  • Film laga futuristik pertama di Indonesia.

Kelemahan Film

  • Beberapa efek yang digunakan dalam film ini masih cukup kasar. Hal ini mungkin dikarenakan budget pembuatan film yang terbatas. Namun dengan budget yang terbatas, akan tetapi dapat memproduksi film sebaik ini, menurut saya film Alif Lam Mim patut untuk mendapatkan apresiasi.
  • Kompleksnya ide yang ditampilkan dalam film ini mungkin menjadi kendala penggarapan trailernya. Sehingga trailer tampil kurang meyakinkan untuk memberikan cuplikan dari isi film ini.

Kesimpulan

“Fight and never lose hope.” 

Begitulah bunyi kalimat yang dilontarkan oleh tokoh Laras/ Kapten Nayla untuk menyemangati kita. Bahwa kita harus merenungi kutipan hadits yang digunakan untuk menutup film ini :

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing,

maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu”.

Untuk itu, janganlah pernah putus asa dan hilang harapan. Karena sebaik-baik tempat berharap hanya kepada Allah SWT. Wallahu’alam.

3 thoughts on “Resensi Film: 3 Alif-Lam-Mim

    1. @Syarwan: filmnya sudah rilis sejak oktober 2015,tp hanya bertahan kurang lebih 1 bioskop, sy rasa karena film ini mengangkat isu yang sensitif dan aplikatif yg terjadi di dunia bahkan khususnya indonesia.
      Tapi sejak film itu diturunkan 2015,justru banyak komunitas yg hingga saat ini masih mengadakan nobar film 3 hampir di seluruh nusantara diantaranya jakarta,bandung,yogya,semarang,bali,balikpapan,dll.
      Menurut saya film ini anti mainstream dan sangat berhasil membawa pesan dakwah dengan cara yg sangat realistis.
      Oiya,1 hal lg,,film 3 sempat ditayangkan di salah satu tv swasta akhir tahun 2015. Tetapi karena sy sudah melihat film ini di bioskop,sy melihat penayangan film 3 di tv banyak sekali potongan scene sekitar krg lebih 30 scene,,sehingga bagi orang yg mgkin baru kali itu menonton di tv sy yakin akan pesan yg sampai akan multitafsir. Saya sarankan jika anda belum menonton film ini,lebih baik anda ikut nobar film 3 yg masih sering diadakan beberapa komunitas,,drpd melihat di youtube karena video film 3 juga merupakan hasil rekaman dr tv.

      1. Betul, ada banyak spekulasi dinfilm ini yang masuk akal dan mungkin terjadi, jika benar maka dapat dipastikan sarat dengan intervensi 🙂

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: