Resensi: Hujan

Judul                                         : Hujan

Penulis                                      : Tere Liye

Tahun Terbit                           : Januari 2016

Penerbit                                   : PT Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman                    : 320 hlm.

Harga                                       : –

 

“Baiklah. Pertanyaan pertama, apa yang ingin kamu hapus dari ingatanmu, Lail?”

Baru beberapa bulan –belum genap setahun saya menemukan artikel yang muncul secara acak di facebook tentang ilmuan yang akhirnya menemukan alat untuk menghapus ingatan. Kabar ini sempat heboh di dunia maya, beberapa menjadikannya candaan, beberapa menanggapinya hoax, dan sebagian yang lain beragam pula tanggapannya. Pada waktu itu saya memilih untuk mengabaikan, karya memang kebanyakan artikel di internet belum tentu kebenarannya, ditambah waktu itu termasuk masa-masa genting saya sebagai santri tingkat akhir.

Tepat sehari setelah UN, ketika saya menemukan pertanyaan yang ditujukan pada tokoh utama novel ini, saya langsung berdecak kagum. Saya sudah membaca banyak novel, bahkan sejak saja kelas 3 SD, dan ini pertama kalinya saya menemukan science fiction yang bertali dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sebenarnya. Dimana kebanyakan penulis science fiction lainnya –khususnya Indonesia, mengilustrasikan sebuah dunia yang benar-benar jauh berbeda dengan kehidupan sehari-sehari.

Nama gadis itu Lail, yatim piatu semenjak sebuah kejadian yang tak akan pernah dilupakan dunia. Tepat ketika media tahun 2042 mengabarkan bahwa bumi tengah menyambut bayi yang ke sepuluh miliar, saat wawancara keilmuan yang diabaikan penumpang di kereta bawah tanah menampilkan seorang ilmuan yang pendapatnya selalu dibenci banyak orang membahas tentang obat paling keras yang dibutuhkan untuk menekan perkembangbiakan manusia, menjadi pengalih perhatian Lail dari ibunya yang masih mengomel tentang keterlambatannya pada hari pertama sekolah, kejadian yang tak pernah dilupakan dunia itu terjadi. Hari itu pula, Lail bertemu dengan Esok.

Esok lebih tua dua tahun dari Lail. Umur Lail masih tiga belas, dan Esok lima belas. Namun kejadian yang sedemikian itu, memang kiranya mampu menjadikan orang lebih dewasa dari umurnya. Waktu itu keduanya sama sekali tak saling kenal, namun satu hari itu membuat Lail sadar, bahwa waktu bukan alasan untuk menjadikan seseorang berharga atau tidak.

Tepat beberapa bulan setelah kejadian yang tak akan pernah dilupakan dunia, Esok diangkat menjadi anak oleh Wali Kota, disekolahkan di sekolah peneliti terbaik –yang hanya ada sepuluh orang dari benua bisa mendapat kursinya, dipercayai mengemban proyek besar yang menentukan keberlangsungan hidup manusia di bumi. Sedangkan Lail, dia memilih untuk tidak sekedar menatap punggung Esok. Lail memutuskan menjadi relawan, melakukan misi apa pun, mempertaruhkan nyawa untuk orang lain. Keduanya berjalan saling kejar, mengejar, namun di satu sisi saling menunggu supaya yang lain tidak tertinggal.

Lail berseru menutup mulut. “Manusia akan punah?”

Esok mengangguk. “Kita mungkin masih punya kesempatan bertahan hidup di permukaan bumi jika sebelumnya membiarkan musim dingin berlalu secara alami. Tapi, dengan intervensi lapisan stratosfer, kemungkinan itu semakin kecil. Tidak akan ada manusia yang bisa bertahan hidup dalam musim panas ekstrem. Hanya itu cara menyelamatkan umat manusia, mengirimnya naik kapal, meninggalkan permukaan”

Wali kota sengaja datang jauh-jauh. Semua orang yang terpilih menaiki kapal sudah dikumpulkan di Ibu Kota. Fakta bahwa keduanya masih mengobrol di depan tenda menunjukkan bahwa mereka bukan bagian dari orang yang terpilih.

“Esok memiliki dua tiket. Sati dia peroleh atas jasanya membangun kapal itu, dan dia memang harus berangkat, karena hanya dia yang bisa menangani jika kapal mengalami masalah di angkasa sana. Satu tiket lagi dia peroleh dari mesin pencacah. Nama esok keluar. Dia belum memberitahu siapa pun soal dua tiket itu. Aku tahu karena aku punya akses melihat daftar nama.”

Lail meremas jarinya. Dia juga baru tahu dari Wali Kota.

“Lail, izinkan orang tua ini memohon padamu. Aku tahu, Esok akan menggunakan satu tiket lagi untukmu. Dia sangat menyayangimu, Lail. Tapi izinkan orang tua ini memohon, bisakah kamu meminta Esok agar memberikan tiket itu kepada Claudia, anak semata wayangku? Aku, istriku, kami tidak akan pernah sanggup menyaksikan Claudia harus tinggal di permukaan bumi, menunggu musim panas membunuh semua orang. Hanya Claudia satu-satunya putri yang kami miliki. Satu-satunya harta paling berharaga”

“Jadi, apa yang ingin kamu hapus dari ingatanmu, Lail?”

“Aku ingin melupakan hujan”

Melupakan semua kenangan pahit yang datang saat rintik itu turun. Melupakan kejadian yang tak akan pernah dilupakan dunia, melupakan bersepeda warna merah dengannya di tengah rinai, melupakan hujan yang datang tiap kejadian besar yang membuat mereka makin terikat lebih dalam. Ia ingin lupa. Melupakan Esok.

“Buka pintunya, atau aku hancurkan!” Esok berteriak kalap.

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: