Santri juga Manusia: Santri juga Butuh Gizi

Saat ini banyak sekali sarana pendidikan yang memiliki asrama, baik itu perguruan tinggi, sekolah menengah, dan terutama sekali pesantren. Seperti kebanyakan pondok pesantren lainnya, Madrasah Sumatera Thawalib (MST) Parabek yang merupakan salah satu pesantren tua di Sumatera Barat juga memiliki asrama bagi para santrinya.

Asrama dinilai baik untuk perkembangan kognitif dan sosial para santri. Santri yang tinggal di asrama akan belajar bagaimana caranya bersosialisasi terhadap sesama, pembina, dan masyarakat di lingkungan pesantren. Selain itu, kehidupan di asrama lebih teratur karena asrama memiliki berbagai peraturan tertentu, seperti pengaturan jadwal belajar,  jadwal kegiatan, jadwal istirahat, dan lainnya. Santri yang tinggal di asrama juga dibiasakan untuk hidup mandiri dan kreatif.

Asrama di MST Parabek terbagi menjadi asrama putra dan asrama putri. Setiap hari asrama mempunyai kegiatan tambahan yang mendukung keahlian dan keterampilan para santri. Tak heran jika kebanyakan santri yang tinggal di asrama mempunyai banyak skill. Tetapi, ada hal penting yang sering dilupakan oleh sebagian orang, yaitu asupan nutrisi. Nutrisi yang baik akan mendukung kemampuan para santri dan tentu saja membantu perkembangan otak.

Berdasarkan golongan umurnya, santri MST merupakan anak remaja dengan kisaran umur 12-18 tahun. Remaja awal merupakan tahap pertumbuhan dan perkembangan yang ke dua setelah masa golden age, yaitu umur 5 tahun. Pada masa ini, pertumbuhan dan perkembangan akan berlangsung optimal. Jika tidak dilengkapi dengan asupan nutrisi yang seimbang, maka pertumbuhan dan perkembangannya menjadi tidak optimal. Kebutuhan kalori pada masa remaja juga lebih banyak dibandingkan dewasa, dari karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin nya. Hal ini harus diperhatikan mengingat kegiatan santri yang tergolong sibuk.

Seringkali yang terjadi adalah, santri melewatkan sarapan karena terburu-buru dengan jam masuk sekolah. Alasan lain karena antre untuk mandi. Padahal sarapan memberikan kontribusi yang cukup untuk menunjang kemampuan berpikir dan beraktivitas di pagi hari, mengingat tidak ada asupan yang masuk pada malam hari ketika tidur. Seharusnya para santri tidak melewatkan sarapan, walaupun hanya segelas susu dan sepotong roti. Padahal pihak asrama telah menyediakan sarapan, makan siang, dan makan malam setiap hari. Seharusnya dengan fasilitas seperti ini, tidak akan ada masalah terhadap status gizi para santri. Tetapi, makan yang teratur pun tidak cukup jika apa yang dimakan tidak memenuhi kebutuhan gizi harian.

Mengingat masa remaja adalah masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat, sangat penting untuk memperhatikan asupan gizi dari makanan. Seperti terpenuhinya kebutuhan karbohidrat harian, protein, lemak, dan zat gizi lain. Misalnya, dalam sekali makan disarankan terdapat karbohidrat dari nasi (contoh), protein dari daging dan tempe (contoh) yang juga mengandung lemak, kemudian serat dan vitamin yang terdapat dari buah dan sayur. Jika dalam konsumsi harian sudah terdapat zat gizi yang dibutuhkan tubuh, secara kuantitas dan kualitas, maka diharapkan tidak terjadi masalah terhadap gizi remaja. Remaja akan tumbuh secara optimal, otak berkembang optimal, dan tidak sering sakit. Hasilnya, para santri menjadi sehat, cerdas, dan ceria.

Kekurangan gizi di masa remaja juga akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Jika pada masa remaja tidak diberi asupan dengan baik, dia akan mudah sakit, sering izin sekolah, banyak pelajaran tertinggal, kemampuan berfikir yang tidak maksimal dan sebagainya. Akibatnya, remaja ini akan menjadi malas-malasan, lesu, tidak bersemangat, hal ini tentu saja mempengaruhi masa depan nya jika tidak segera ditindaklanjuti.

Masalah asupan nutrisi ini sebaiknya menjadi salah satu perhatian oleh pihak asrama. Jadi, diharapkan anak asrama terkenal sehat dan berprestasi dengan pola makan yang baik ditunjang oleh gizi seimbang dan cara belajar yang optimal. Karena energi yang dibutuhkan untuk belajar dan berfikir lebih besar daripada energi orang yang menggunakan tenaga seperti petani, nelayan, dan lainnya. Untuk itu, asupan gizi nya juga harus lebih baik. Makanan bergizi baik pun tidak harus mahal, karena sumber karbohidrat, protein, lemak, dan sebagainya tersebar di berbagai pangan lokal. Seperti beras, roti, umbi-umbian, tahu, tempe, kacang-kacangan, daging ayam, ikan, dan sayuran lain yang sangat mudah didapat. Jadi, tidak benar jika harus mengeluarkan banyak biaya untuk memperoleh makanan bergizi, karena yang terpenting adalah gizi seimbang.

 

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: