Santri Mesti Melek DBD

Ustazah Rahmi Hartati & Dita Trinastia
Poskestren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi

Demam Berdarah Dengue, atau yang populer dengan sebutan DBD adalah salah satu penyakit musiman di daerah tropis dan subtropis. Indonesia adalah salah satu negara Asia yang mengalami penyakit musiman tersebut.
DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui nyamuk. DBD menyebabkan pendarahan, kebocoran pembuluh darah, dan rendahnya tingkat trombosit darah yang menyebabkan darah membeku. Disamping itu DBD juga menyebabkan sindrom yang menyebabkan tekanan darah menjadi rendah.
Sebagai seseorang yang mengenyam pendidikan di pesantren, santri harus tahu beberapa hal tentang DBD. Hal ini karena kasus DBD merupakan salah satu langganan di pondok pesantren. Pertama sekali karena penularan DBD yang sangat mudah, yaitu melalui gigitan nyamuk. Di samping itu, beberapa hal di lingkungan pesantren, seperti faktor sanitasi atau kepadatan hunian, menjadi ladang perkembangbiakan yang besar bagi nyamuk Aedes Agepty.
Berikut beberapa fakta yang harus diketahui santri tentang penyakit DBD.
Pertama, DBD ditularkan melaui gigitan nyamuk Aedes Agepty yang sudah mengandung virus dengue. Artinya, jika nyamuk Aedes Agepty belum terkontaminasi oleh virus DBD, seseorang yang terkena gigitan nyamuk tersebut tidak akan terkena DBD. Lalu darimana asal virus tersebut?
Kedua, nyamuk DBD mengginggit si calon penderita pada pagi menjelang siang pada satu sisi atau pada sore hari di sisi lain. Jadi anggapan yang salah bahwa DBD biasanya menggigit calon penderita pada malam hari.
Ketiga, nyamuk tersebut lebih menyukai air bersih yang tidak mengalir atau air tergenang untuk tempat berkembang biak. Dalam konteks ini lah pondok pesantren menjadi ladang besar buat perkembangbiakan nyamuk Aedes Agepty. Banyak air-air tergenang mulai dari bekas-bekas kaleng yang dapat menampung air hingga bak-bak mandi yang terbuka.
Keempat, penderita DBD akan mengalami gejala suhu tubuh naik turun disertai demam selama 2 sampi 7 hari. Demam tersebut diikuti sakit kepala, nyeri otot dan tulang. Di samping itu, penderita akan sering merasa mual dan muntah, dan diiringi dengan kemunculan bintik-bintik merah di kulit dan rasa nyeri di belakang maya dan pembengkakan kelenjar limfe. Sedangkan pada saat kondisi yang lebih berat, gejala tersebut dapat diikuti oleh mimisan, gusi berdarah, muntah berdarah, dan tinja berwarna hitam.
Kelima, DBD adalah penyakit menular yang dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat. DBD adalah penyakit yang sering terjadi dalam waktu tertentu yang terkadang dapat membuat kepanikan dalam suatu kelompok masyarakat. Penanganan yang tidak benar oleh orang yang tidak tepat akan meningkatkan resiko kematian pengidap penyakit ini. Oleh karena itu DBD perlu diwaspadai. Adapun pertolongan pertama bisa diyupayakan dengan memeriksa suhu badan, dan mengidentifikasi tanda gejala-gejala DBD yang muncul. Selanjutnya, harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan ke Puskesmas, bidan atau klinik terdekat. Jika petugas kesehatan menemukan gejala DBD, maka pasien akan dirujuk untuk cek darah di Laboratorium (Rumah sakit atau Klinik yang bisa melakukan cek darah).
Dalam konteks asrama pesantren, ketika seorang siswa dicurigai terkenda DBD diperlukan tindakan cepat. Senior atau teman kamar harus secepatnya melaporkan kepada pembina asrama atau petugas kesehatan pesantren. Dari sana, petugas poskestren akan merujuk yang berangkutan ke Rumah Sakit untuk pengecekan darah.
Namun begitu, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Untuk menghindari terjadinya DBD, diperlukan agenda-agenda yang mencegah perkembangbiakan nyamuk di lingkungan pesantren. Karena, sampai saat ini, tiada cara yang paling ampuh untuk memberantas DBD selain dengan membasti dan mencegah pertumbuhan nyamuk itu sendiri. Dengan demikian, santri yang hidup di lingkungan pesantren harus membersihkan lingkungan pesantren dan menutup tempat atau wadah yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Bukan hanya mencegah penyakit, kebersihan juga wujud dari iman. Sesungguhnya Allah Indah, menyukai sesuatu yang indah, dan sehat adalah keindahan.
إِنَّ اللَّهَ طِيبٌ يُحِبُّ الطِّيبَ، نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ، كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ، جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ، فَنَظِّفُوا بُيُوتَكُمْ
“Sesungguhnua Allah SWT Thayyib (baik), Dia menyukai kebaikan.Sesungguhnya Allah itu nazhif (bersih), dan Dia menyukai kebersihan. Sesungguhnya Allah itu mulia, dan dia menyukai kemuliaan. Sesungguhnya Allah dermawan, dan Dia menyukai kedermawanan, maka bersihkanlah olehmu rumah-rumahmu (tempat tinggalmu)”

Dita Trinastia

I was born in a beautiful village, Payakumbuh, West Sumatra. I graduated from public health in Syarif Hidayatullah Jakarta and Hadith and its science in Darussunnah International Institute in Ciputat, South Tangerang in 2015. Now, I am devoting myself, becoming a teacher in Islamic Boarding School, Sumatera Thawalib Parabek.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: