Santri sebagai Pionir dalam Mengatasi Degradasi Moral Generasi Penerus Bangsa di Abad Modern (2)

Jauh sebelum munculnya konsep “educating for character” oleh Thomas Likona atau “pendidikan karakter” oleh Kemndikbud, para kiyai dan guru di pondok pesantren telah terlebih dahulu menerapkannya terhadap para santri. Di masa sulit remaja yang dialaminya (yaitu di rentang usia antara 12-18 tahun), para santri di pondok pesantren telah mendapatkan pendidikan moral (karakter) yang sangat berguna dari para guru dalam menumbuhkan karakter positif dalam diri mereka.

Sejalan dengan yang dijelaskan dalam bukunya “Psikologi Remaja”, Andi Mappiare menekankan bahwa masa remaja merupakan suatu masa dimana bimbingan dan arahan dari guru (pembimbing) sangat dibutuhkan. Sebab fase remaja merupakan sebuah masa peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa – yang karena hal ini membuat seorang remaja merasa tidak ingin lagi diatur oleh orang tua—. Sehingga keterikatannya dengan bangku Pendidikan di sekolah menuntut seorang guru untuk “rela” menjadi subyek utama dalam membentuk kepribadian remaja.

Andi Mappiare menerangkan bahwa setidaknya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan seorang guru dalam membentuk karakter seorang remaja; Pertama, masa remaja merupakan masa yang kritis bagi pembentukan kepribadiannya. Hal ini menuntut remaja untuk mampu mencapai kemapaman dalam bersikap. Kedua, remaja membutuhkan perhatian yang baik dari orang-orang yang ada di sekitarnya untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya menuju masa kedewasaan. Ketiga, seorang remaja akan berusaha mengenali jati dirinya, sehingga ia akan sering melakukan percobaan-percobaan yang bisa saja mengarah kepada kebaikan maupun kepada keburukan.

Maka dalam hal ini peran seorang pembimbing sangat dibutuhkan untuk mengarahkan mereka.
Lebih jauh lagi, seorang pakar psikologi bernama Elizabeth B. Hurlock menerangkan bahwa masa remaja merupakan masa dimana emosi seseorang mengalami peningkatan yang amat drastis. Hal ini disebabkan karena terjadinya masa peralihan dari masa kanak-kanak – yang biasanya setiap masalah yang dihadapi akan diselesaikan oleh orang tua atau guru— menuju masa kedewasaan yang menuntut kemadirian.

Selain itu, ia juga menyatakan bahwa sebagian besar remaja cenderung bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan, dalam artian bahwa mereka menginginkan dan menuntut kebebasan, namun takut untuk mempertanggung jawabkan akibatnya, serta meragukan kemampuan mereka untuk mengatasi hal tersebut. Maka keterangan ini semakin menguatkan posisi seorang guru dalam pembentukan karakter remaja, yang hal tersebut sebenarnya sudah terlebih dahulu dirintis oleh pondok pesantren jauh sebelum pakar-pakar pendidikan tersebut merumuskannya.

Lantas muncul suatu pertanyaan, apakah pesantren, yang merupakan dunia guru-dan-murid yang terikat oleh etik kekeluargaan dan etika moral (moral-ethic education) telah tak lagi sanggup untuk memenuhi tuntutan zaman yang semakin kompleks ini? Ataukah justru dengan sikap responsif nya akan penanaman nilai-nilai moral terhadap peserta didik tersebut mampu memberikan kontribusi yang positif di tengah pesatnya arus globalisasi?
Sekarang mari kita amati sejenak realita kehidupan pelajar di era globalisasi, terutama di Indonesia. Betapa banyak peserta didik di negara kita yang terbawa arus negatif dari pesatnya perkembangan teknologi di abad modern ini.

Mereka mengalami suatu fase yang dikenal dengan istilah “degradasi moral”, yaitu fase merosotnya nilai moral dalam diri mereka. Pengkonsumsian narkoba merajalela, akses terhadap konten-konten pornografi dapat dilakukan dengan begitu mudah, perlawanan terhadap orang tua dan guru, tawuran antarsesama pelajar, pergaulan bebas dengan lawan jenis, dan lain sebagainya. Semua kenyataan ini mengalami peningkatan yang amat drastis, terutama semenjak pesatnya arus globalisasi yang memasuki tanah air.

Ini merupakan suatu kekhawatiran yang sangat besar bagi masa depan bangsa, mengingat bahwa generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Nasib bangsa di masa yang akan datang ada di tangan mereka. Lantas bagaimana kondisi bangsa ini sekian puluh tahun ke depan jika hal ini terus dibiarkan dan tidak menemukan jalan keluar?
Santri, sebuah istilah yang melekat erat pada diri para pemuda yang menempuh pendidikan pondok pesantren, adalah jawabannya.

Pendidikan karakter yang telah tertanam kuat semenjak awal usia keremajaannya merupakan jawaban dari krisis moral yang saat ini tengah menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi bangsa Indonesia. Santri merupakan pionir dalam menjawab tantangan bangsa di abad modern dalam mengatasi ambruknya moral generasi penerus bangsa. Apalah artinya teknologi yang canggih, jika akhirnya ia hanya akan menjerumuskan pemuda-pemudi ke dalam jurang kehancuran.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana nasib bangsa ini ke depan jika kesuksesan hanya diukur dari seberapa maju teknologi yang dimunculkan, atau seberapa banyak kekayaan yang dimiliki negara ini. Toh semua orang akan berbuat sesuka hatinya dan akan melalaikan tanggungjawabnya disebabkan moral yang sudah ambruk sejak awalnya. Maka dalam hal ini, santri lah yang harus berdiri di garda yang terdepan!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: