Satu Bulan Pertama di Mesir

27 September 2017, kami mendarat di Cairo International Airport. Sudah sebulan lamanya kami merasakan hiruk-pikuk kota Kairo. Tentu pengalaman ini bukanlah sepenuhnya tentang Kairo. Para senior kami sudah lebih dahulu merasakan manis dan pahitnya negeri para Nabi ini. Namun yang kami tulis ini hanyalah kesan pertama kami selama sebulan berada di luar negri untuk menuntut ilmu agama.

Banyak hal yang kami temukan di negeri piramid, baik itu berupa kelebihan atau kekurangan. Sudah fitrahnya suatu tempat memiliki dua hal tersebut. Berikut beberapa hal baru yang kami dapatkan.

  1. Masyarakat

Beda negara tentu beda budaya, apalagi beda benua. Contohnya tipikal masyarakat kairo yang lebih tempramental daripada orang-orang Indonesia. Di sisi bahasa, kami sangat sulit mendapati orang yang berbicara fushah. Akibatnya kami harus sering bermuamalah dengan mereka yang selalu memakai ‘amiyah. Jika kami menemukan orang Mesir yang berbicara fushah selain masayikh azhar, maka itu menjadi kebahagian tersendiri bagi kami.

Orang Mesir sangat memuliakan kaum hawa. Ketika wanita sudah kehabisan tempat duduk di bus, maka yang laki-laki akan bersedia memberikan tempat duduknya.

2. Makanan

Ini adalah bagian yang sering ditanyakan kepada kami oleh keluarga di kampung,”Di situ makan pakai apa?, ada nasi nggak di situ?, di sana makan roti saja ya?”. Bagaimana tidak, makanan merupakan hal penting yang harus dipikirkan tatkala seseorang pergi merantau. Beras di mesir bukanlah suatu hal yang jarang ditemui, bahkan harga beras di Mesir lebih murah dibandingkan di Indonesia. Karena beberapa makanan Mesir berbahan dasar beras seperti arruz bil kibdah, arruz bil bashal, arruz bil laban.

Untuk makanan khas Mesir yang pernah kami cicipi seperti kusyari, tujin, kibdah, kuftah,‘isy, ful bisa kami santap dengan lancar alias cocok di lidah. Semuanya kembali kepada selera masing-masing

3. Minuman

Jika boleh saya katakan, Kairo adalah surga bagi pecinta jus. Aneka jajanan disajikan dalam jarak yang berdekatan. Harga yang mereka tawarkan pun terjangkau. Kualitas jus Kairo lebih baik dari jus buatan urang awak yang isinya lebih banyak air daripada buahnya, hehehe. Di sisi lain, yang menjadi sebuah kekurangan di Kairo dari segi minuman adalah air putih. Orang Mesir sudah terbiasa minum air yang langsung dari keran yang semua air tersebut mengandung kaporit. Tentu saja kita masyarakat Indonesia tidak terbiasa dengan hal ini. Kami selalu memasak air kaporit tersebut terlebih dahulu sebelum meminumnya.

4. Transportasi

Di Kairo ada berbagai transportasi umum seperti bus umum layaknya busway di Jakarta. Ada juga tuk tuk alias bajai di Indonesia, tramco, taxi, dan lain-lain. Bus umum adalah transportasi dengan ongkos paling murah di Kairo. Kita cukup membayar seribu rupiah atau dua ribu rupiah untuk satu kali perjalanan.

Ada satu hal yang berbeda dan mengkhawatirkan jika kami membahas tentang transportasi. Pengemudi di sini seolah-olah pelit menggunakan rem mereka untuk memberikan kesempatan bagi pejalan kaki menyebrang jalan. Ketika seminggu di sini kami selalu merasa was-was dan cemas jika hendak menyebrang di jalan raya.

5. Keamanan

Baca juga:  Selamat Natal tentang Sejarah Indonesia

Satu faktor yang menyebabkan orang tua teman-teman kami dahulu tidak memberikan izin anaknya belajar ke Mesir adalah kecemasan terhadap keamanan. Yang terjadi tidaklah seburuk yang diberitakan di media. Alhamdulillah selama satu bulan di Kairo kami tidak mendapati masalah yang berarti, walaupun pada kenyataannya Mesir sekarang berada dalam kondisi darurat. Polisi yang selalu berjaga-jaga dengan pistol selalu ada di setiap pos polisi yang ada. Selagi kita masih membawa paspor setiap pergi keluar rumah, maka tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi, in sya Allaah.

 

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: