Sebuah Kisah yang Membosankan

“Bolehkah aku menulis kisah tentangmu?”

Aku yakin keningku berkerut saat lelaki yang baru ku kenal tiga hari belakangan tiba-tiba berlari mengejarku. Dia adalah salah satu teman satu kelompokku yang terpilih secara acak dalam penentuan tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Dosen memang sengaja menggabungkan beberapa jurusan demi memperluas sudut pandang pengerjaan. Kelompok kami baru saja menyelesaikan tugas itu beberapa detik lalu, seharusnya, aku sudah tak punya urusan lagi dengan kelompok yang secara tidak resmi bubar saat tugas itu selesai. Aku memutuskan untuk langsung pulang, dan dia membatalkan niatanku untuk sampai ke kosan secepat yang aku bisa.

“Apa maksudmu?”

“Aku ingin menulis kisah tentangmu. Bolehkan?” tanyanya ulang.

Aku mencondongkan badanku ke arah berlawanan dari posisinya berdiri, menatap jalanan dan benar-benar ingin menunjukkan bahwa dia sedang diabaikannya dari pandanganku. Aku berharap dia membaca sinyal bahwa aku tak ingin berlama-lama dengan pembicaraan ini. Lagipula, aku mengerti bahasa apa yang dia gunakan, aku hanya tak paham maksudnya! Mengapa? Kenapa ia meminta izin untuk hal konyol seperti itu?

“Apa ini gombalan jenis baru?” tanyaku refleks.

Dia tertawa.

Aku hampir marah. Namun emosi itu meluap saat aku membalikkan badan dan melihat tawanya yang tidak mengejek. Tawanya bukan cemooh. Aku sama sekali tidak keberatan dengan tawa seperti itu.

“Tidak! Tentu saja tidak! Perkenalkan! Aku adalah sastrawan jalanan. Aku menuliskan kisah apa pun yang kutemui di jalanan. Dan sekarang, aku ingin menulis kisah tentangmu” jawabnya.

Seingatku, dia adalah mahasiswa jurusan teknik arsitektur. Sastrawan jalanan jauh dari image-nya yang rapi dan sering terlihat dengan setelan formal.

“Apa kau selalu meminta izin pada setiap orang yang kau tuliskan kisahnya?”

Dia menggeleng.

Aku menghela nafas. Pembicaraan ini sama sekali tak penting.

“Kalau begitu, kau juga tak perlu meminta izin padaku. Setiap sastrawan bebas berimajinasi, mereka bebas menulis tentang siapa pun, tentang apa pun. Mereka boleh membunuh orang dalam kisahnya, boleh membuat sepasang insan jatuh cinta, pun boleh membuat keduanya sangat membenci satu sama lain. Selama kau tak menggunakan namaku, identitasku, aku tak keberatan. Kau boleh menulis apa pun dengan imajinasimu itu”

Aku berhanjak pergi, dan hal yang terus menggangguku sampai ke kosan adalah wajahnya yang berubah sedih waktu itu.

***

Permintaannya membuatku merenungkan banyak hal tentang diriku, tentang hidupku kurang lebih sembilan belas tahun belakangan. Aku hanya seorang biasa. Dari kecil hingga kini, aku tak pernah mencolok. Aku cukup pendiam dibanding teman satu kelasku, namun itu juga tidak berarti aku kesulitan menjalin hubungan dengan mereka. Kehidupan sosialku baik-baik saja. Akademisku standar. Nilaiku tak ada yang merah, meski beberapa kadan tepat di batas nilai minimum. Aku juga mendapat jurusan yang biasa saja, tidak wah seperti kedokteran atau pun bisnis. Aku hanya mahasiswi jurusan pendidikan sejarah. Aku senang membaca dan sesekali membuat tulisan untuk kunikmati sendiri.

Aku sama sekali tak tahu apa yang ingin dia tuliskan tentangku.

Diluaran sana, aku yakin ada ribuan mahasiswa yang bernasib sama denganku. Masuk universitas dan jurusan biasa saja, begadang membuat tugas, mengejar-mengajar dosen, atau apa pun itu.

Aku yakin hidupku akan jadi kisah yang amat membosankan. Rutinitasku berulang. Pergi pagi pulang sore, malam ditemani laptop dan secangkir kopi. Aku tak punya keberanian untuk membuat hal besar dalam hidupku. Tidak ada kejadian aneh apa pun yang membuatku menjadi gadis dengan kekuatan super. Aku hanya seseorang yang berusaha mendapat nilai bagus, pekerjaan bagus, dan hidup tenang dengan keluargaku nantinya.

Minggu pagi, sebuah panggilan dengan nomor asing masuk ke ponselku.

“Halo?”

“Apa kau luang sekarang? Aku ingin kita bertemu di belakang gedung fakultas seni”

Aku mengenali langsung suaranya, si sastrawan jalanan.

“Aku tidak pergi dengan sembarang orang” tolakku.

“Kau akan menyesal tak datang ke sini. Aku akan memberikan sebuah sihir padamu!” dia mencoba membujuk.

“Kau justru makin membuatku makin tak ingin datang!”

“Aku janji, ini tak akan membosankan!!”

Aku menimang-nimang sekali lagi. Tak ada salahnya pergi.

***

Dia mengenakan pelindung dada dan lengan. Dua papan sasaran berada agak jauh dari tempatnya sedang mencoba memanah. Satu set lagi berada dekat kakinya.

Anak panah yang ia lesatkan tepat menancap di tengah.

“Apa kau pernah mencoba memanah?” tanyanya.

Aku menggeleng. Aku tak menyangka ia akan mengajakku memanah. Aku merasa salah kostum dengan rok dan blazer kebesaran. Seharusnya aku mengenakan baju olahraga.

“Mencoba hal baru bagus untukmu, kau bisa menemukan sosokmu yang jauh tersembunyi. Bagian dirimu yang takut menunjukkan diri.”

Dia menyerahkan busur dan anak panah padaku, mengajariku tahap demi tahap. Aku tak tahu mengapa aku mengikuti perintahnya begitu saja. Tiba-tiba dia tak terlihat seperti orang asing. Dia tahu banyak tentangku. Tentang rasa takutku akan hal baru.

Juga rasa takut bahwa hidupku akan begitu membosankan.

***

“Kisah apa saja yang pernah kau tulis?”

Kami duduk berdua di tepi jembatan yang sunyi. Aku membantunya membawa panah yang kugunakan tadi. Panah itu punya unit kegiatan mahasiswa kampus dan harus dikembalikan sore ini. Aku juga baru tahu bahwa dia baru belajar memanah dan langsung mengajariku.

“Aku sastrawan jalanan. Aku menulis semua hal yang kutemui di jalanan. Tentang sepatu tua yang dibuang, tentang monumen sejarah yang diabaikan, kebisingan jalan, hujan, semuanya! Aku juga pernah menulis tentang jembatan, itu kisah yang paling kusuka. Jalanan adalah tempat kerjaku.”

Aku bertanya hati-hati. Sedikit harap terselip di pertanyaanku.

“Apa kau pernah menulis kisah tentang orang lain, maksudku, seseorang yang tidak kau temui di jalanan sepertiku?”

Dia lama tak menjawab. Aku mungkin salah bertanya.

“Kau yang pertama. Kisah pertama yang ingin kubuat dari orang yang kutemui!”

Aku memalingkan wajah, menyembunyikan merah.

“Kalah begitu, kisah pertamamu akan sangat membosankan.”

Dia tertawa. Getaran itu beresonansi dengan tawaku yang ikut muncul sedetik kemudian.[]

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: