Seharusnya Sumatera Thawalib Selevel NU-Muhammadiyah

Teringat beberapa tahun yang lalu, Buya Deswandi menyebut, “Sumatera Thawalib tu kan sabananyo samo jo Muhammadiyah-NU.“ Di kesempatan yang berbeda, beberapa minggu yang lalu, Ust. Ardinal Bandaro Putiah berkata, “Sumatera Thawalib itu kan sekolah misi!

Kedua ungkapan ini pada dasarnya setali tiga uang; maknanya sama. Kedua guru menyebutkan bahwa Sumatera Thawalib pada umumnya, dan Sumatera Thawalib Parabek khususnya, bukanlah seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Ia lebih dari itu. Ia adalah agenda pergerakan dan perubahan. Ia lebih dari sekedar insitusi pendidikan.

Di sekolah-sekolah negeri, siswa datang dan pergi, belajar dan lulus, dan melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Ia adalah agenda pemerintah sebagai bentuk tanggung jawab negara dan hak warga negara atas pendidikan. Akan tetapi, Sumatera Thawalib memiliki sejarah yang khusus. Ia bukan hanya tentang hak pendidikan bagi warga, melainkan perjuangan terhadap hak tersebut. Polanya bukanlah dari pemerintah untuk umat, melainkan wujud perjuangan umat untuk umat (baca dalam konteks sejarah kolonialisasi Belanda). Tentu saja polanya bukan pula ‘dari investor untuk investor‘ sebagaimana yang terjadi dalam kapitalisasi pendidikan akhir-akhir ini.

Jadi, tidak salah jika Burhanuddin Daya menceritakan sejarah Sumatera Thawalib dalam konteks gerakan pembaruan pemikiran Islam di Sumatera Barat atau Deliar Noer yang menyebut Sumatera Thawalib sebagai organisasi pembaharuan. Tepatlah apa yang disampaikan kedua guru di atas.

Dari segi umur, Sumatera Thawalib juga tidak jauh berbeda dengan Muhammadiyah dan NU; ketiga organisasi dilahirkan pra-kemerdekaan, pada rentang 1912 hingga 1926. Konteks perjuangan kemerdekaan mungkin yang menjadikan ketiga organisasi lahir beriringan. Akan tetapi, mengapa kiprah Sumatera Thawalib jauh tertinggal dari kedua organisasi tersebut!

Semua orang sudah tau sejauh mana kiprah kedua organisasi, NU dan Muhammadiyah. Muhammadiyah tercatat memiliki ribuan lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan sebagainya. NU juga memiliki ribuan pesantren dan sejumlah perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan sebagainya. Bagaimana dengan Sumatera Thawalib? 11 madrasah berdasarkan catatan Burhanuddin Daya pada awal kemunculannya. Bagaimana dengan sekarang?

Baca juga:  Santri sebagai Pionir dalam Mengatasi Degradasi Moral Generasi Penerus Bangsa di Abad Modern (2)

Mengapa ini bisa terjadi?

Mari kita bicara dalam skop yang lebih sempit, Sumatera Thawalib Parabek. Tentu ada banyak jawaban yang bisa dipertimbangkan untuk pertanyaan di atas. Tulisan ini hanya akan mengungkap salah satu diantaranya, yaitu minimnya peran alumni.

Katanya, alumni dan madrasah memiliki relasi ‘gadang-manggadangan’; nama sekolah dibesarkan oleh alumni, dan nama alumni sebaliknya. Contoh sederhana, di madrasah selalu digaungkan bahwa madrasah ini telah melahirkan tokoh kaliber nasional seperti Buya Hamka dan Adam Malik. Cerita ini diulang dan kembali diulang demi menyegarkan ingatan akan sejarah kebesaran sekolah. Nama besar kedua tokoh secara langsung dan tidak langsung membesarkan nama madrasah.

Tapi kebesaran sebuah institusi dan gerakan tidak bisa diukur lewat kebesaran nama individu-individu. Sekuat apapun dan seintens apapun kisah mereka diceritakan terus menerus dan diproduksi ulang, tidak akan memberikan banyak efek besar bagi kebesaran institusi. Lihat saja kenyataannya sekarang, apakah dengan menceritakan kedua tokoh Sumatera Thawalib menjadi layak dibandingkan kiprahnya dengan NU-Muhammadiyah? Jika begitu kenyataannya dengan kedua nama kelas wahid tersebut, tentu saja hal ini juga berlaku bagi nama-nama baik lainnya yang belum mencapai level kedua tokoh.

Adalah gerakan pro-aktif yang membesarkan Muhammadiyah dan NU. Muhammadiyah tidak dibesarkan oleh K.H. Ahmad Dahlan sendirian. Selalu ada orang-orang di sekitarnya yang menerjemahkan cita-cita besarnya menuju ruang lingkup yang lebih beragam dan luas. Begitu juga dengan NU, bukan oleh K.H. Hasyim Asy‘arie seorang. Orang-orang sekitar beliau juga menentukan langkah demi langkah perjalanan sejarah organisasi tersebut hingga menjadi besar.

Baca juga:  Santri sebagai Pionir dalam Mengatasi Degradasi Moral Generasi Penerus Bangsa di Abad Modern (3)

Dengan demikian, begitu juga semestinya Sumatera Thawalib Parabek. Bukan Syaikh Ibrahim Musa sendiri yang membesarkan sekolah ini. Tapi juga murid-murid, dan generasi penerus beliau. Jika orang terdekat, dan murid-murid dari K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’arie telah membawa Muhammadiyah dan NU hingga level ini, itu artinya orang terdekat, murid, dan generasi Syaikh Ibrahim Musa tidak bekerja sebaik mereka.

Gerakan pro-aktif dari generasi dan murid (alumni) Syaikh Ibrahim Musa memang telah ada. Buktinya nadi madrasah ini masih berlanjut. Sejauh ini kiprah alumni yang paling nyata baru dalam bidang melanjutkan tradisi intellektual dengan menjadi guru di Madrasah. Kita bisa melihat puluhan guru madrasah saat ini berasal dari alumni. Tapi itu tidak cukup.

Ya, kita harus berberat hati untuk menelan pernyataan ini. Kiprah aktif alumni bagi perkembangan Sumatera Thawalib Parabek sangat minim. Entah apa sebabnya. Bisa jadi karena kurangnya kecintaan kepada Madrasah, kurangnya wadah organisasi atau jaringan alumni, atau tidak adanya sinergitas antara alumni dan yayasan ataupun madrasah.

Apapun itu, mulai detik ini bisa dibenahi.

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

2 thoughts on “Seharusnya Sumatera Thawalib Selevel NU-Muhammadiyah

  1. Kalau saya melihat ada masalah yang sangat besar di tengah-tengah kehidupan sumatera tawalib, yaitu masyarakat minañg sendiri. Dañ polanya hampir sama terjadi pada organisasi yang lahir di sumatera. Contoh, tarbiyah islamiyah dan organisasi lain…yang lahir tidak jauh beda dengan sumatera tawalib..

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: