Sekat

“Boleh-boleh saja merokok, asal asapnya ditelan“ , gerutu seorang ibu yang sedari tadi menutupi wajah bayinya yang terkena asap kepada seorang penumpang pria disebelahnya. Dan aku sangat setuju dengan si ibu. Terang saja, dalam beberapa jam terakhir, entah kali keberapa kukibaskan tanganku pada kepulan asap yang semakin kencang memenuhi sendi-sendi  bus yang   pengap ini.

Busnya reot, agaknya tidak untuk ditancap gas terlalu dalam, jelas knalpotnya berkerotak. Cat luar bus hijau lumut pudar, semakin memudar dengan motif kelupas, dibakar matahari. Bus itu tetap ramai penumpang, kebanyakan pedagang yang memborong sayuran. Dagangannya bercecer, memakan dua sampai tiga bangku penumpang. Si pemborong merangkul dagangan, takut semakin bercecer.

Aku duduk tepat di belakang bangku sopir bus. Beliau setengah rebahan sambil memastikan bahwa bus benar-benar dalam keadaan penuh. Sesekali menggonta ganti musik yang sejatinya sama sekali tak berpengaruh karena memang tidak ada yang menikmatinnya. Jok busnya coklat susu pudar, kainnya tidak utuh, memungkinkan busa mold kuning jok timbul keluar. Penumpang bus semakin bermacam.

Aku duduk bersama salah seorang perempuan. Di pojok belakang seorang bapak tua menenteng karung pisang, lalu pemuda yang berlagak fasih menghirup puntung asap bergelantung di pintu―merangkap kenek. Seolah kehidupan yang nyata: ada bau minyak wangi, tapi ada juga bau petai. Bahkan jengkol. Ada bau kretek, peluh, dan bensin. Tak cuma parfum impor.

Kiri kanan jalanan yang macet membuat penumpang bersungut-sungut membuat bus tua ini semakin terseok, meliuk menyusuri ruang jalan seadanya. Memang tak separah dikota-kota besar, namun cukuplah menambah keruh suasana  siang ini.

Ingatanku buyar ketika deru kebisingan lagi-lagi menghiasi setiap sudut terminal yang berpapasan langsung dengan sebuah pasar. Alhasil antara pasar dan terminal seolah tak ada batasan yang jelas. Perjalanan yang melelahkan ini akhirnya berujung di terminal yang begitu kurindukan.

Aku selalu tertarik dengan suasana ini. Bangunanya, orang-orangnya yang berisik, gang sempit yang kehilangan warna, dan deretan pertokoan yang hitam dilahap sijago merah. Dan tak kalah penting beragam karakter manusia hilir mudik disatu kawasan yang sama. Berombongan atau berjalan sendirian.  Pedagang yang kehilangan tempat berjualan, hingga harus menenteng barang jualannya kemana-mana.

Jelas, transaksi pembelian dikeramaian seperti ini menambah sempit jalanan.  Dalam keabstrakan seperti ini ada yang saling  menegur, bahkan ada yang sibuk tak tau arah. Mengumpat karna jalanan sempit, sementara gerobak sayur terus mendesak agar orang-orang menyingkir. Belum lagi truk pembawa sayur menyelip diantara kerumunan, tak jarang ada yang terseret truk dan untungnya tidak sampai terluka.

Dibagian belakang truk bergantung seorang pemuda yang kelihatannya tidak waras sambil melambai tangan keorang orang. Bangga bisa keluar terminal dengan mulus tanpa desak-desakan . Rambutnya sebahu, ikal karena berbulan-bulan tak disisir . Tak lupa ia menghirup sebuah lem yang sedari tadi digenggamnya.

Seingatku, dari dulu  sangat banyak orang yang tidak waras ditempat ini. Seorang pemuda yang berseragam SMA, selalu membawa buku dan pulpen kemana ia pergi. Agaknya, ia seorang cerdas yang kehilangan kontrol diri. Bapak-bapak yang berselimut lusuh bertongkat, mendiami kedai yang tak berpenghuni.  Atau seorang tua yang meminta uang pada orang-orang dengan nominal seribu rupiah. Lebih dari itu ia tidak akan mau menerima dan merengek minta dicarikan uang yang sesuai dengan keinginannya.

Dari sekian  banyak ‘manusia tak tertolong’ ini, hatiku sangat miris begitu mengetahui seorang perempuan yang sepertinya usianya hanya beberapa tahun diatasku, hamil. Hal ini membuatku aku sangat terenyuh. Bagaimana tidak, dalam fikiranku pastilah hanya laki-laki yang lebih tidak waras yang mampu melakukan hal ini. Pastilah kau tahu penyebabnya,bukan?

Jangankan orang gila, dalam kehidupan normal saja berapa banyak anak yang lahir diluar nikah?. Berapa banyak kaum muda yang mengidolakan budaya hidup seorang Awkarin?  Ditambah lagi pertumbuhan penduduk Indonesia tergolong ekspansif. Dipenuhi penduduk usia muda yang belum mampu menghidupi diri sendiri sehingga angka ketergantungan masih tergolong sangat tinggi.

Dengan begitu, semakin benar kata orang bahwa ada kalanya kita hidup tidak perlu  mencari panutan pada manusia manusia zaman sekarang. Betapa hancurnya sebuah generasi yang menjadikan ayah ibunya sebagai panutan sementara ia sendiri dilahirkan dari sebuah hubungan diluar nikah. Ah,wajar saja rasanya pengonsumsi narkoba semakin meroket, karena diawal kelahiran saja ada peran orang tua yang menerakakan anaknya sendiri.

Mungkin kesimpulanku sangat lancang, karena melihat sesuatu dari sudut yang  jauh berbeda. Ini tentang sebuah prinsip yang dianggap benar oleh semua orang, terutama orang tua diseluruh dunia. Bahwa tidak ada satu pun orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Terlepas dari ajaran agama apapun. Aku tak percaya semua orang tua menyayangi anaknya. Karena betapa pun tingginya kasus aborsi yang sepertinya sudah menjadi tradisi, aku jadi percaya bahwa tak semua orang tua  itu dewasa. Betapa banyaknya orang tua yang kekanak-kanakan mendesak anaknya berpacaran.

Aku tak percaya semua orang tua memahami  kebenaran, betapa banyak orang tua yang melarang anaknya menggunakan hijab dan meledeknya  ketinggalan zaman. Membesarkan anak dengan membelalakkan mata ketika ia salah, memukulnya hingga memar jika nilai matematikannya rendah, Memarahi sianak jika lalai shalat sementara ayahnya berteriak “GOL” disaat yang bersamaan, membesarkannya dengan sumpah serapah dan carut marut berharap sianak tau apa yang orang tua harapkan.

Ya, niatnya benar. Tapi caranya salah. Itulah mengapa aku berkesimpulan, bahwa kebanyakan orang tua sekarang hanya mampu menjadi orang tua biologis.  Mungkin saja penilaianku terlalu subjektif namun bukan berarti semua orang tua bobrok. Sekali lagi ini hanya penilaianku sebagai bocah ingusan saja.

Aku kembali teringat semasa sekolah dulu.  Betapa seringnya peringatan dan pertanyaan  biasa maupun bernada meragukan  melayang kearahku.

“Anak perempuan kok berantakan banget kamu ,Oase! Itu plastik gorengan dilaci udah keluar lalat”.

“Kemaren  kemana? Sakit kok keluyuran diterminal ?”

“Itu pojok belakang deket jendela jangan tidur!”

“Siapa itu yg makan di belakang?”

“Nilai matematikannya kok rendah banget ini? Emang IQ mu berapa sih se?”

Pertanyaan pertama. Bagaimana bisa bersih jika sampah seisi kelas berlabuh dilaciku. Meja yang selalu dipenuhi orang-orang berisik yang ngegosip saat jeda pergantian guru, sambil ngemil ringan makan kuaci yang sampahnya na’uzubillah. Nyeritain hal-hal gak penting. Saling bersitegang menujukkan kemahatahuaanya tentang oppa-oppa korea. Atau setidaknya ngrencanain window shopping ngepoin barang-barang branded. Ingat! Cuma ngepoin aja. Ga akan pernah bisa beli karna harganya yang selangit.

Pertanyaan kedua, ialah pertanyaan yang membuatku terharu biru. Siapapun tahu bahwa aku seorang gadis pecinta terminal. Hari-hariku kuhabiskan disebuah dingklik dipinggiran terminal. Berkomunikasi dengan orang baru setiap harinya. Tentang harga pasaran, maupun tentang kehidupan sehari-hari. Bagiku berkomunikasi dengan orang –orang biasa dari latar belakang yang juga biasa jauh lebih seru dan berisi.

Mungkin karena caranya yang ramah dan terbuka sehingga ceritannya hidup  dan berkarakter. Dari pada dengan orang-orang berdasi yang katanya berpendidikan tinggi , harus mengajukan proposal dari jauh-jauh hari semata untuk mendengar suaranya. Itupun terkait pembicaraan berat. Politik dan rekan-rekannya.  Aku selalu mendatangi kedai kopi yang sama setiap mampir keterminal. hingga tiba saatnya aku tak perlu menyebutkan  akan memesan minuman apa, dan Cuma bilang “biasa bu” saking seringnya  ke kedai ibu hanung. Minumnya itu-itu saja. Kopi hitam, gulanya dikit banget. Yap, lebih tepatnya kopi PAHIT. Jika lapar tinggal mendatangi kedai sebelah. Saking seringnya, baru dipintu saja si ibu bergegas mencentong nasi dan lauknya nyaris tak pernah diganti “ telur kocok”, karena harganya yang merakyat.

Pertanyaan ketiga, keempat dan kelima bagaikan sebuah bundelan yang saling menguatkan. Bangun pukul empat , ambil wudhu dan shalat tahajud. Meskipun ga bisa dijadiin alasan sih kenapa aku sering tertidur dalam kelas. Mungkin jawabannya, mejanya terlalu empuk buat menopang kepala yang beratnya gak lebih tiga kilogram, kalau gak salah. Sebenarnya yang makan dikelas bukan aku aja, tapi entah mengapa aku selalu ketahuan. Hingga tiada hari yang lebih indah bagi seorang walikelas tanpa teriak-teriak memanggil namaku.

Mungkin itu sisi baik namaku sangat unik hingga paling sering disebut. Padahal kenyataannya semua guru meragukan masa depanku. Bolak balik dengerin petuah guru BK yang itu itu aja. Belakangan aku sadar ternyata banyak benarnya. Mengenai IQ aku ga bisa komentar banyak. Emang IQ ku rendah banget sekolah mengadakan psikotes. Sempat jadi bahan candaan seisi kelas karna katanya setara IQ monyet. Tapi apapun itu, aku bangga menjadi diri sendiri biarpun IQ ku dibawah rata-rata. Dan aku gak pernah percaya bahwa rendahnya IQ berbanding lurus dengan suramnya masa depan.

Kemudian saat penjurusan universitas, seonggok guru wali kelas bertanya kepada ku perihal pilihan perguruan tinggi, dengan antusiasnya, aku menjawab, UI. Saat itu pula aku  dihadapkan dengan refleks mimik guru wali kelas tersebut yg mengerenyit seolah berkata “Emang bisa?”.

Singkat cerita, aku mati-matian bimbel sana sini, mborong buku detik-detik, dikerjain sampe ngelotok, berdoa, sholat pagi malam, cium tangan ibu. Kebetulan aku jadi agak pinteran dikit. Jam main basket di alihkan di meja belajar. Dan man jadda wa jadda, kalimat paling sakral muncul di login SBMPTN –  “Selamat Oase Hilsyadiningrum”.

Setelah melalui  masa perkuliahan, akhirnya aku sampai dititik yang mewajibkan setiap mahasiswa menjalani hari-hari yang penuh drama. Drama korea versi Indonesia yang tak kalah berbelit dengan  belasan episode. Yap, tentang skripsi dan pendadaran.

Pada lembaran kertas ini kutumpukan semua rasa lelah, rasa bosan dan tak jarang kupaksakan kedua bola mata ini hingga larut malam. Revisi pembimbing yang semata hanya untuk direvisi lagi, karena tulisan  beliau nyaris sama dengan sandi rumput yang tak bisa sama sekali ku fahami. Buat merampungkan skripsi ini, dan selalu di kursi favorit, gak pernah pindah. Kira-kira dari jam 10 pagi sampai jam 9 malam, dan berlangsung  cukup sering sampai dengan satpam nya kenal, akrab, lalu shalat berjamaah. Mantap.

Singkat  cerita, dengan separuh waktu hidup yang ku  dihabiskan untuk mengerjakan skripsi, tibalah  pada pembagian jadwal sidang skripsi. dan kebetulan lagi, aku mahasiswa pertama yang sidang di Teknik Lingkungan 2012. Ketika itu aku  gak punya referensi tentang dosen penguji, dan aku dijadiin cemilan dosen pertama kali. Tapi alhamdulillahirobbilalamin, sidang skripsi pun berjalan lancar selancar dosen nyoret-nyoret buat revisian. Gapapa. Keluar ruangan , dikasih bunga foto-foto dan bahagia.

Sekarang, mantan  mahasiswi abstrak sepertiku kembali kekampung halaman dimana aku pernah memulai semuanya dari tahap nol. Paling tidak, setiap jalan dan bangunan disini kembali merebut memoriku yang sudah membeku terganti kehidupan kota yang arogan. Kembali berjabat tangan, melempar senyum, menyongsong masa lalu sebelum berkutat dengan dunia kerja yang jauh lebih berat dan penuh drama.[]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: