Selamat Datang Wahai Kader Pergerakan

Kemarin, 17 April 2016, anak-anak muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan formal tingkat lanjut di Ponpes Sumatera Thawalib Parabek secara resmi dengan segala seremonialnya “dilepas”. Ini adalah sebuah proses alamiah dalam pendidikan formal. Jika masa telah sampai, nilai dirasa cukup, watak dan kepribadian agaknya bisa dipertanggungjawabkan, maka sudah waktunya lembaga pendidikan formal melepas anak-anak muda ini. Menentukan pilihan masa depannya.

Agaknya enam tahun lalu anak-anak muda ini datang dengan segala kekanak-kanakannya. Ditinggal oleh orang tua pada masa butuh kedekatan fisik, dititipkan pada Ponpes Sumatera Thawalib Parabek dengan penuh harapan. Agaknya anak muda ini masih ingat, di antara mereka ada yang tak kuasa membendung air mata menyaksikan mobil yang ditumpangi orang tua meninggalkan mereka dengan orang asing yang belum dikenal. Ada yang bersembunyi di kamar mandi, megekspresikan kesedihan perpisahan. Ada yang bergulung di balik hangatnya selimut asrama biar tak satu orang pun yang tahu bahwa bening-benng air sedang menggenangi kelopak mata. Ada berbagai macam cara mengekspresikannya.

Seleksi alam, begitu Charles Darwin dan pegiat Biologi Evolusi menyebutnya. Dalam kurun waktu enam tahun, dengan sendirinya anak-anak muda yang tidak bisa bersaing, atau tidak kuat dengan “gaya persaingan”, atau memilih persaingan pada jalur lain mulai berguguran. Melambaikan tangan pada kamera. Hingga pada akhirnya, mereka yang lulus seleksi adalah mereka yang bergelut dengan I’anatutthalibin, Kawakib, Al-Maraghi, Subulussalam, Sulam Munawwaraq dan sebagainya.

Mereka yang lupa bahwa ada televisi di luar sana yang menayangkan sepakbola, sinetron dan infotainment. Mereka yang berbagi sabun, odol, makanan hingga pakaian. Mereka yang sibuk muzakarah berkelompok dibandingkan menyendiri otak atik gadget. Mereka, pada hari ini berdiri mengucap ikrar, dilantik dan dilepas atas nama keberhasilan menjalani proses intelektual pesantren, sosial, dan pendidikan formal.

Hari ini, saya ingin menyatakan suatu hal. Bahwa Kalian, yang pada hari ini dilepas atas nama keberhasilan menjalani proses intelektual pesantren, sosial, dan pendidikan formal pada hakikatnya telah mengemban amanah yang lebih berat di pundak Kalian. Setidaknya ada dua tanggung jawab besar.

Pertama, menjaga nama baik Parabek sebagai institusi pendidikan Islam yang menghasilkan kader Ulama di masa depan. Hal ini selayaknya bukanlah hal yang baru. Tanggung jawab ini secara otomatis akan melekat bagi siapapun yang telah meminum air Parabek. Kaji yang diajarkan sepatutnya diamalkan dan -kalau bisa- diajarkan.

Kedua, mengemban misi Sumatera Thawalib secara umum sebagai gerakan pembaharuan di Minangkabau. Bukan tanpa alasan, inyiak Parabek menyematkan nama “Sumatera Thawalib” pada perguruan Parabek (semoga ada bahasan khusus tentang ini). Agaknya, hal ini lah yang sudah mulai terlupakan. Bahkan, untuk yang telah lama meninggalkan Parabek pun barangkali lupa bahwa ia adalah kader pergerakan Sumatera Thawalib. Tidak heran pergerakan Sumatera Thawalib yang seharusnya bisa sebesar NU dan Muhammadiyah kini kehilangan gaung. Tugas alumni Parabekl adalah untuk mengembalikan ghirah pergerakan ini.

Saya suka mengibaratkan proses ini sebagai sebuah game, sebutlah Mario Bross. Proses ini adalah salah satu level dari level-level kehidupan. Jika anda berhasil, maka itu bukanlah akhir dari keseluruhan permainan. Masih ada level-level lain yang lebih berat, tantangan yang lebih nyata, monster naga yang lebih kuat dan mengerikan. Yang perlu dilakukan adalah bijak menentukan jalur mana yang akan dipilih selanjutnya.

Mulai saat ini, dalam setiap level tersebut, Kalian akan memiliki sebuah perspektif yang baru terhadap sekolah. Selama ini mereka melihat, menyelami, dan menilai apapun yang ada di sekolah dalam posisi sebagai seorang murid; murid yang bersembunyi ketika ada razia ke asrama di waktu shalat jama’ah, murid yang mencari segala cara untuk menyelundupkan HP di sekolah, murid yang berjuang kesana-kemari demi kartu ujian, dan segala macam dinamika menjadi murid.

Akan tetapi, kini, Kalian berdiri dalam standing point yang baru. Bukan lagi sebagai orang yang hidup di dalam pagar. Sekarang kalian telah dilepas. Tapi, bagaimanapun juga tetap bagian dari keluarga. Terkadang, hal-hal tertentu memang baru bisa terlihat ketika kita berada di luar.

Tidak akan bisa kalian pungkiri, bukan sekali-dua kali Kalian kesal dan marah kepada guru-guru tertentu; terkait rambut, pakaian, jadwal, buku, dan lain-lain. Tapi, pada akhirnya, kemarahan guru tersebut lah yang kalian rindukan kelak. Bahkan, kemarahan serupa akan muncul pada diri Kalian sendiri ketika guru kalian mendapatkan perlakuan yang tidak pantas.

Pada akhirnya, kepada Adinda yang hari ini dilepas secara resmi oleh Ponpes Sumatera Thawalib Parabek. Ketika semua orang mengucapkan selamat berpisah, selamat tinggal dan kata-kata perpisahan lainnya, izinkan saya mewakili pribadi dan atas nama segenap keluarga besar surauparabek.com menyambut anda dengan ucapan SELAMAT DATANG!

Selamat datang, alumni baru Ponpes Sumatera Thawalib Parabek! Selamat datang, wahai Kader Pergerakan Sumatera Thawalib!

Surauparabek.com

Riau, 17 April 2016.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: