Selamat Harimu, Guru!

Adalah guru, sebuah label yang diberikan untuk orang yang mengabdikan dirinya bagi pendidikan. Membalikkan segala ketidaktahuan menjadi tahu. Memberikan arahan, nasihat, petuah serta menjadi panutan bagi peserta didik. Pribadi guru menuntun kita menjadi seorang yang berpendidikan dan beradab. Barangkali kita semua sepakat akan hal ini.

Semua cerita manis tentang guru, puja-puji sana sini untuk guru adalah hal yang amat termat wajar. Saya yang “hanya” bisa mengenal tulisan sampai kepada Anda yang bisa meretas situs komunitas ini beberapa waktu yang lalu adalah “projek amal jariyah” guru. Selama ilmu tentang huruf “A” yang diajarkan guru itu masih dipakai, selama itu pula pahalanya akan mengalir kepada guru. Amat disayangkan jika ilmu itu digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Bukankah begitu, kawan?

Tentu saja terminologi guru yang dipakai hari ini lebih sempit dibandingkan dengan ungkapan Ali bin Abi Thalib tempo hari, bahwasanya “Aku akan mengabdikan diriku kepada siapapun yang mengajarkan aku satu huruf saja”. Jika menggunakan ungkapan Ali tersebut, maka setiap orang akan menjadi guru bagi orang lain sejauh mana ia mengambil manfaat dari orang tersebut.

Guru pertama bagi manusia adalah orang tuanya, kakek-neneknya, saudara-saudaranya, teman sepermainannya, pengasuhnya, lingkungannya dan sebagainya. Barulah guru yang mengajarkan tulis baca di sekolah formal, guru yang mengajarkan huruf hijaiyah dan seterusnya. Semua menjadi guru dalam kehidupan manusia. Maka cocoklah pepatah Minang “Alam takambang jadikan guru”.

Menjadi guru yang mengabdikan diri di sekolah formal dewasa ini tidak lagi sekedar pengabdian. Iya kawan, guru telah jadi “lahan bisnis” yang menggiurkan. Profesi yang mejanjikan di masa depan. Pantas saja perguruan tinggi di negeri ini berlomba-lomba membuka program studi yang berorientasi pada profesi guru. Minat menjadi guru ditambah dengan fasilitas yang ditawarkan dan peluang yang terbuka lebar menjadi “lahan basah” bagi perguruan tinggi untuk membuka keran pendidikan guru. Menjadi bagian dari pembentukan karakter manusia yang akan mengabdikan dirinya pada pendidikan.

Menjadi guru yang mengabdikan diri di sekolah formal dewasa ini tidak lagi sekedar pengabdian. Soalan yang tidak sekedar bagaimana menjadikan peserta didik lebih baik, berilmu, santun dan beradab. Namun juga soal jam mengajar yang berpengaruh pada tunjangan, sertifikasi, dan sebagainya. Ada yang rela saling tikung jam mengajar demi mendapatkan syarat minimal sertifikasi. Ada yang harus “musafir” ke sekolah tetangga karena kebutuhan jamnya tidak bisa terpenuhi di sekolah asal. Apa kabar guru? Apakah sudah dirimu terima kehidupan yang layak selayaknya para artis dangdut yang berjoget riang gembira dari panggung ke panggung itu?

Persoalan pendidikan di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini sungguhlah sangat kompleks. Dan guru selalu saja jadi “kelinci percobaan”nya. Belum selesai satu kurikulum dengan satu menteri, datang lagi menteri yang baru memutarbalikkan kurikulum mengobrak-abrik sistem yang baru saja dibangun seperti negeri yang aman berubah sejak Negara Api menyerang. Lagi-lagi guru yang siap tempur sebagai ujung tombaknya. Guru “dipaksa” mengikuti sistem yang berubah. Guru dilempar kian kemari bak bola pingpong. Akhirnya para guru yang mulia hanya bisa menerima keadaan mematung seperti #mannequinchalenge yang lagi kekinian itu. Ah, nasibmu guru!

Pada hari ini, kita memperingati hari guru. Setiap tahun diperingati. Upacara bendera dilaksanakan. Anak-anak peserta didik diajak membuat kegiatan yang tujuannya adalah untuk menghormati jasa guru. Idealnya, hari guru haruslah diperingati oleh Presiden, para menteri, para anggota DPR yang terhormat hingga pengusaha dan orang-orang sukses lainnya. Bukan sebaliknya hari guru diperingati oleh guru yang masih aktif, berseragam PGRI beserta murid-murid sekolahan. Karena jasa guru-lah mereka bisa menjadi seperti sekarang. bahkan untuk membersihkan toilet di pusat perbelanjaan saja ditanya ijazah, yang mana merupakan bukti pernah menuntut ilmu pada guru -konon hanya buruh gelap dari Tionghoa saja yang tidak ditanya ijazah-. Apatah lagi seorang presiden. Apa kata dunia jika presiden tak sekolah? Malu kita, bapak!

Selamat hari guru untuk setiap orang yang telah mengajarkan setiap huruf, setiap angka, setiap harkat, setiap i’rab, setiap tasrif, setiap norma, setiap tuntunan perilaku, setiap kasih. Semoga guruku dan guru kita semua selalu dilindungi oleh Allah.[]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: