Selingkuh Bathin Behind The Scene: Pendidikan Tinggi dan Pulang Kampuang

Sudah melintas benua pula anak muda ini. Bawa-bawa nama kampungnya pula Lawang, tempat dia sekolah esde, bawa-bawa nama kampusnya pula Sunan Kalijaga, dan bawa-bawa nama negaranya pula Indonesia, yang paling parah bawa-bawa nama madrasahnya pula Sumatera Thawalib Parabek. Panas hati ini, sekalipun iri, mau tak mau do’a tetap terbetik di hati, semoga anda sukses dan berguna apa yang anda cari, tidak nanti, tapi sekarang dan kini.

Antusiasme yang sedemikian rupa mendorongnya tanpa ampun, tanpa belas kasih, tanpa balas, bahkan tanpa pertimbangan dan perhitungan, tak terlihat, tapi yakinlah akan sangat terasa asam kecutnya. Jerman itu jauh kawan, jauh di mata, jauh di dompet, dan jauh bila dilakukan dengan cara berenang ke sana. Semangat juang sdr. Fadhli ini mengingatkan saya akan kenangan kurang lebih 16 tahun yang lalu. Sekira per Juni-Juli tahun 2000, saat saya dan beberapa teman se angkatan mulai “pensiun” dari MST Parabek.

Beberapa teman yang masih saya ingat, Sarjuni (Pangeran Rupat, mantan ketua IPST), Ilham Tasmi (Ca’am, Nak Urang Parabek Bawah), Harmen Daris (Buya Pakan Sinayan IV Koto), Eri Junaidi (Nak Urang Pandai Sikek), Indra Wahyudi (Ca’iank, Nak Urang Parik Putuih), Muhammad Koiyum (Nak Urang Trans Muaro Sijunjuang), Hanafi Pribadi (Awenk, Nak Urang Parabek Ateh), Gafnel Ghafar (Angku Datuak Guguak Tinggi Tabek Sarojo), Arif Rahman (Ambo, Nak Urang Limau Manih Padang), Afrizal Aziz (Atuak, Nak Urang Sungai Tanang), Zulkarnain Harmaini dan Abdul Alim Ash Shiddiqiy (Nak Urang Jambu Aia), Indra Gunawan (Nak Urang Padang), Arli Firdaus (Cuex, Nak Urang Gadut Kamang), Doni Boy (Nak Urang Padang). Dan mohon maaf jika ingatan saya terbatas, jika ada kawan yang tak tercolek satu persatu, khususnya amak-amak.

Tahun 1999 s/d 2000-an adalah awal transisi MST Parabek. Saat itu terjadi penurunan secara statistik, baik kualitas terlebih kuantitas. Sejak saya masuk pendidikan di sana pada 1994, dari 1250 orang siswa yang terdaftar hanya menyisakan sekitar 600 siswa yang menamatkan pendidikannya di Parabek. Penurunan minat belajar saat itu menjadi alat ukur kebanyakan masyarakat. Mereka berasumsi bahwa kualitas MST Parabek sudah tidak mumpuni dan diminati.

Banyak polemik dan persoalan internal yang mesti dibenahi. Salah satu trending topic saat itu adalah persoalan kepemimpinan pribumi dan non-pribumi. Bukan persoalan layak atau tidak, mampu atau tidak, melainkan stigmatisasi antara kepantasan dengan tidak pantas, orang luar dan orang dalam. Masa itu sangat rasis sekali.

Alumni Parabek tetap berkualitas. Salah satu faktornya adalah metode pendidikan dengan budaya “berkumpul-kumpul” (halaqah), sambil nyeloteh Ilmu Mantiq, Balaghah, Nahwu, Sharf, dan berbagai keilmuan lain. Termasuk juga keikhlasan para guru untuk berlapang waktu membina Takhasshush. Metode yang sangat andragogik, melatih kesadaran akan kebutuhan sendiri, seperti pesan para guru “al ‘ilmu yu’ta wa laa ya’tiy” (ilmu itu didatangi, dan tidak mendatangi). Cara ini setidaknya dipertahankan oleh Parabek saat itu agar tidak kehilangan muka, marwah, gezah, iffah dan pamor di tengah ketatnya persaingan di dunia pendidikan.

Alhamdulillah, salah seorang teman saya, sebut H. Ilham Tasmi, Lc, MA, (bangga dengan Anda, Bung) punya kegigihan yang sama untuk menempuh pendidikan ke Al-Azhar, Mesir. Terdengar kabar beliau bertolak ke Sudan melanjutkan master dan bahkan berangkat ke Libya untuk kelas doktoral (kalau tidak salah). Namun harus pupus karena “dipaksa” ibunda beliau untuk segera menikah (titip doa buat bapak ibu bung Ilham). Dan kisah pendeknya berakhir pada pengabdian di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek.

Awal kisah pada zaman dahulu terjadi perbincangan, khususnya antara saya, Pangeran Rupat Sarjuni (Sar) dan Bung Ilham Tasmi (Am). Kalaupun tidak sama persis, setidaknya sama betul.

Kami    : “Lah tamat lo wak yoh.”

Bud     : “Jadi juo ang ka Mesir, Am?”

Am      : “Jadih. Informasi syaratnyo hafalan minimal 2 juz, dana 2000 dolar, etc. Ang kama ka manyambuang kuliah, Bud, Sar?”

Bud     : “Kalau lai mungkin di urang gaek, samo wak. Hafalan alah ampia 3 juz, tingga pitih nan alun lai.”

Sar       : “Awak ko apo banalah. Dapek kuliah se lah mujua. Hehehe.”

Bud, Sar: “Tamat ang sinan bisuak, baa rencana ang, Am? Lai ka pulang mampaeloki kampuang jo sekolah wak, atau lanjuik taruih sinan, babini sinan, sagalo sinan?”

Am      : “Mungkin indak pulang doh. Payah di kampuang, lawan barek. Alun lai masalah suku, etc.”

Bud, Sar: “Ele ang mah. Sia lai kalau indak waang!? Talok di ang mancaliak se. Ele ang mah!”

Demikian pokok percakapan kami saat itu di sela gurauan dan euforia calon mahasiswa. Kemanapun dia, di manapun dia, seperti apapun dia, dan bagaimanapun dia, inilah kita! Akhirnya, Ilham ke Mesir, saya dan Sar nyemplung ke STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, serta beberapa teman yang punya peluang melenggag ke Padang dan Jawa. Perbincangan singkat itu secara pribadi menjadi nilai tawar-menawar bagi saya. Begitu juga dengan beberapa teman yang kami ajak berdiskusi membangun rencana masa depan. Secara gerilya saya pantau, amati dan setidaknya saya update dengan sengaja status mereka, kemana teman-teman ini.

Khususnya Ilham Tasmi yang jadi korban tulisan ini. Saya berniat dan benar-benar akan saya lakukan niatan itu. Seandainya dia tidak pulang kampung ke Parabek setelah seribu do’a yang menopangnya bersekolah jauh, maka saya yang pupus harapan tidak punya kesempatan sebesar itu akan saya ketuk kepalanya. Sungguh saya akan buat perhitungan setentangan percakapan yang telah lama itu. Saya tidak peduli jika dia ingat atau tidak dengan percakapan itu, yang terpenting adalah dia harus pulang.

Ini hakikatnya bukanlah cinta buta yang diluapkan tanpa perhitungan, kegundahan batin yang tanpa soalan, atau kepiluan hati tanpa ada sebab. Sebaliknya, ini adalah azzam dan tekad manakala peluang itu ada pada kawan. Tidak penting lagi mau di mana dan sebagai apa serta pada posisi apa kita berada. Bergiat dan berniat maju sejatinya adalah memberi warna untuk perubahan yang lebih baik. Menetap dengan menerima keadaan bukan berarti tidak ada sesuatu yang bisa diperbuat. Yang terpenting adalah tidak maju untuk membuat kekacauan atau lebih parah lagi menghindar saat dibutuhkan.

“Selamat berjuang teman-teman! Khususnya Sdr. Fadhli, jangan lupa pulang kalau tak ingin ku ketuk kepalamu boy! Dan kalaupun tidak nyambung, bagi yang jomblo segeralah menikah agar panjang umur.”-Ridwan Kamil (Kang Emil).

*salam ini Budi

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: