Selingkuh Batin Begins

Anggap saja ini motivasi, dorongan, pancingan, sentilan, atau terapi kejut. Sekalipun Anda jauh lebih bersemangat, bergelora, bergairah bahkan mungkin sampai berhalusinasi dari saya yang menulis.

Selingkuh batin yang saya maksudkan kali ini adalah ‘syahwat’. Meminjam kata ‘syahwat politik’, satu istilah yang pernah digelontorkan buya Shofwan Karim, tokoh orator dan negosiator Muhammadiyah se Asia Tenggara yang lahir di Sumatera Barat.
Secara kontekstual syahwat yang kita maksud bukan khusus kaitannya dalam ranah politik, melainkan dalam hal integrasi antara satu manusia dengan satu makhluk yang lain, hubungan antara ide dan gagasan yang lain, keterkaitan antara satu wacana dengan konsep yang lain.
Gagasan, ide, wacana, dan juga konsep itu, pada tataran ilmu pengetahuan dan pengalaman, lebih mengacu pada hal-hal yang konstruktif, terstruktur, paralel dan menjaga selalu agar tetap berbaris dengan rapi dan dinamis.

Syahwat, yang bermakna se-ayah se-ibu dengan nafsu, gelora, gairah, serta keinginan yang kuat, dapat dimodifikasi menjadi sebuah ‘azam atau dalam makna dasarnya disebut sebagai tekad. Wujud ‘azam itu akan terlihat manakala terhubung dengan kesungguhan dan ketangguhan, tidak menyerah dan menerima pasrah akan keadaan, melainkan tetap memaksakan diri untuk bisa berbuat sesuatu dan seterusnya mewujudkan sesuatu.

Oleh karena ilmu pengetahuan serta pengalaman itu bukan sesuatu yang statis, menetap, mengendap dan beku, maka disini diperlukan adanya pemantik, yang boleh disebut dengan syahwat ilmu, syahwat ide, syahwat gagasan, syahwat wacana serta syahwat konsep. Tidak semata-mata hanya untuk bernostalgia atau bernostal-gila. Mengingat kenangan-kenangan masa lalu, yang indah ataupun suram muram.

Jauh di depan itu semua, selingkuh batin yang saya buat maknanya bertele-tele di atas, dimaksudkan untuk membentuk satu galaxy baru diluar Bimasakti, yaitu Galaxy Bimahati, yang pada jasadnya tidak harus saling terhubung dan berbenturan satu sama lain, dalam arti untuk menjaga ekosistem. Melainkan kebutuhan untuk selalu berhubungan lewat ide, gagasan, wacana dan konsep-konsep yang produktif.

Demikian agaknya planet-planet hati, dalam bentuk yang terfikir, terasa, terbetik, tercetus, menjadi satu syahwat yang saling terhubung secara paralel untuk membuat galaxy yang saya maksudkan bergerak dinamis sesuai dengan fungsinya masing-masing. Tidak akan pernah berbenturan, bersauh dan berselisih.

Namun jika persauhan dan perselisihan terjadi, kembalikan lagi syahwat itu pada pokok nya, yakni ‘azam, kesamaan tekad. Pesan untuk anda dan saya adalah ‘Faidzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallaah, innallaaha yuhibbul mutawakkiliin’.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: