Sense of Belonging

Sense of belonging, secara sederhana dimaknai sebagai sikap kepedulian, rasa simpati dan empati, hasrat ingin dan butuh. Makna ini timbul tanpa tendensi, kepentingan, dan arti berganda. Tanpa tendensi berarti ingin berbuat sesuatu tanpa ada maksud memenuhi dan memaksakan keperluan pribadi. Tanpa kepentingan berarati tidak ada keuntungan. Arti berganda, ditafsirkan sebagai sesuatu yang tidak menimbulkan makna bias, kabur, ragu dan mengacau.

Rasa atau sense tidak tumbuh begitu saja, tentu ada faktor atau sebab dari luar yang membuat kepedulian itu bertunas. Faktor dominan adalah hubungan emosional yang terasa menyentak begitu kuat dan membuat gerah pemikiran.

Nah, ini agaknya yang menjadi pokok pembicaraan antara saya dan Buya Ardinal Bandaro Putiah. Bukan gagah-gagahan hendak mengatur lima pulau besar Nusantara hanya dari sudut pojok kedai kopi. Bukan pula berusaha amin meng-amin-kan ide yang mungkin saja berlawanan. Namun sepajang pengalaman sejarah, setidaknya para tokoh (maaf bukan kami) mulai meramu pokok pikiran meskipun hanya berkawan kopi goyang dan gorengan. Banyak ide yang mungkin saja tertuang yang butuh rumusan dan eksekusi. Mulai dari cerita surauparabek.com, membangun kesadaran bermesjid, kesadaran berpolitik, kesadaran berumat, berorganisasi, beralumni, berwirausaha dan banyak lagi yang belum tersentuh.

Krisis kepedulian, ini yang segera perlu dipugar dan digairahkan. Dalam sekilas pandang, ada kesan risih dan seolah abai dengan gagasan produktif dan pembaruan yang dimulai para kader Sumatera Thawalib Parabek. Saya menyebutnya dengan istilah “kader” sebab Sumatera Thawalib lahir lantaran terhalang dan tidak efektifnya pergerakan Paderi yang dipelopori Tuangku Imam Bonjol di wilayah barat Sumatera dan Tuangku Nan Renceh di timur. Maka, kebutuhan untuk tetap melanjutkan juang pergerakan itu dialihkan dalam bentuk dan metode yang lebih elegan dan dinamis, yakni jalur keilmuan dan pendidikan.

Sense, sejatinya, tidak melupakan juang akan pentingnya mengembangkan Sumatera Thawalib pada tingkatan yang lebih kompleks. Bisa jadi suatu saat akan menjadi ormas, amal usaha, sekolah kedokteran, sekolah teknik, taman kanak-kanak, atau dalam bentuk lain yang tidak terpikirkan saat ini. Sehingga tidak menutup kemungkinan Sumatera Thawalib yang berserakan tidak paralel dan linier diberbagai daerah di Sumatera Barat ini, bisa berhimpun dan terikat satu sama lain. Sudah barang mungkin, kalau satu atau dua generasi ke depan, pergerakan Sumatera Thawalib akan menggurita layaknya KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nahdatul Ulama, dengan berbagai simpul kekuatan ummat yang ada di bawah serta sayapnya. Keluar dari zona pragmatis ke lubang politis dinamis, sedikit saja, tak apalah.

Bagi saya, ini bukanlah mimpi di siang bolong jika Anda dan saya punya sense yang sama. Tidak peduli apa pun kaliber anda, jika masuk satu selonsong, target mana yang tidak bisa kita tumbangkan? Semuanya tidak lagi hal yang mustahil.

Semoga ber’azzam.

*salam ini Budi

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: