Siapkah Pesantren Memasuki Era Ruang Kelas Abad XXI?

Memanusiakan manusia, merupakan tugas pendidikan. Tujuan tersebut menjadi sangat relevan, karena pertumbuhan manusia bersifat terbuka. Seekor anak kerbau akan hidup dan tumbuh dengan kodratnya sebagai seekor kerbau. Mustahil kiranya anak kerbau tumbuh dengan kodrat serigala, memiliki insting memangsa dan berburu.

Sedangkan manusia bisa tumbuh menyalahi kodratnya. Ia bisa tumbuh menyalahi kodrat kemanusiaannya (beriman kepada Tuhan, berfikir, merasakan, mencipta, berbuat baik, dsb.) sehingga memiliki kecenderungan hewani bahkan syaitani.

Cerita Tarzan yang hidup dan dibesarkan bangsa kera sepertinya bukan cerita fiksi-fantasi belaka. Anne Rollet melaporkan bahwa sampai tahun 1976 para etnolog  telah mencatat 60 anak-anak buas yang hidup bersama dan dipelihara oleh binatang.

Mereka tidak berlaku layaknya manusia pada umumnya. Mereka tidak berpakaian, agresif untuk menyerang dan menggigit, tidak dapat tertawa, ada yang tidak bisa berjalan tegak, dan tidak berbahasa sebagaimana bahasa manusia.

Prinsip inilah yang melandasi bahwasanya manusia perlu dididik dan mendidik diri untuk menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia. Adalah dengan pendidikan tujuan tersebut bisa tercapai.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang memiliki tanggung jawab atas misi pendidikan ini, yaitu memanusiakan manusia sebagaimana diajarkan oleh Islam. Ketika cara pikir dikhotomis tentang ilmu semakin lama semakin ditinggalkan, pesantren-pesantren mulai membuka diri pada ilmu-ilmu ‘sekuler’ selain ilmu agama.

Santri tidak hanya diajarkan bersarung, berpeci dan mengaji kitab kuning. Santri juga diajarkan untuk tidak gagap berbicara sains dan teknologi dengan orang berjas dan berdasi meskipun dengan atribut sarung dan pecinya.

Dalam menghadapi pendidikan abad 21, pesantren sepertinya juga perlu mengikuti perkembangan paradigma dalam ilmu pendidikan. Salah satunya perbedaan pola pendidikan abad 20 dan 21 seperti yang ditawarkan oleh seorang pakar kurikulum, Peter F. Oliva. Ia menyebutnya time based vs outcome based learning.

Abad ke-20, pendidikan menekankan pembelajaran pada berapa lama waktu yang dihabiskan peserta didik untuk belajar bersama gururnya mengenai suatu materi. Time based learning di Indonesia masih umum digunakan sebagai patokan pendidikan.

Misalnya, dalam satu minggu peserta didik mempelajari biologi mengenai hereditas manusia selama lima jam mata pelajaran, matematika mengenai integral selama enam jam mata pelajaran, bahasa Inggris mengenai teks narasi selama empat jam. Maka, setelah periode tertentu (biasanya ditandai dengan diadakannya ulangan) peserta didik dianggap telah menguasai  materi hereditas manusia, intergral, dan teks narasi.

Salah satu kelemahan dari time based learning adalah menganggap sama kemampuan peserta didik setelah menempuh suatu dekade. Padahal, setiap manusia adalah unik. Setiap individu memiliki potensi, intelegensi, minat, bakat yang berbeda. Penyamarataan ini dituangkan dalam bentuk evaluasi berupa soal-soal pertanyaan yang dirancang agar memiliki standar tertentu (biasanya mengambil kemampuan rata-rata siswa).

Pada faktanya, kita banyak menemui siswa yang belum mengerti dengan suatu materi, namun guru terpaksa melanjutkan karena terikat oleh pencapaian waktu. Hari ini harus mengajar ini, minggu ini sudah harus sampai materi ini, bulan ini sudah harus sampai bab ini, dst.

Menyikapi hal ini, pendidikan terus memperbaiki diri dan memberikan solusi-solusi yang kiranya mampu mendongkrak kualitas pembelajaran. Jika ditinjau dari sejarah Islam, sebenarnya outcome based learning bukanlah barang baru lagi.

Kita bisa lihat umpamanya dari dua kisah yang pernah diceritakan al-mukarram ustadzuna Ustad Zulfahmi dan Buya Deswandi.

Kisah pertama ialah kisah K.H. Ahmad Dahlan yang mengajarkan satu surat pendek pada murid-muridnya; membaca, menerjemahkan, mempelajari tafsiran-tafsiran ayatnya terus menerus hingga para muridnya mulai merasa bosan. Mereka mempertanyakan mengapa materi ajar tidak berkembang. Jawaban beliau menusuk, sudahkah kalian amalkan isi surat ini?.

Kisah kedua yaitu mengenai seorang pemuda yang pergi berguru. Bukannya disuguhi tentang pengetahuan, sang guru justru memintanya untuk melepas sorban cantiknya dan digunakan untuk membersihkan lantai. Pelajaran yang waktu itu ingin beliau sampaikan ialah kerendahan hati, bahwasanya ilmu yang telah dipejari jika tidak diamalkan maka hanyalah sebuah pengetahuan.

Sebagaimana kisah di atas, outcome based learning merupakan pembelajaran yang lebih menekankan pada pencapaian, hasil dari hal yang telah dipelajari. Misalnya jika seseorang belajar mengenai hereditas manusia, maka ia diharapkan tahu bahwa terdapat gen dominan dan gen resesif, ketika dua gen yang dekat kekerabatannya bertemu akan meningkatkan kemungkinan munculnya gen resesif yang biasanya membawa sifat-sifat buruk (cacat).

Sebagai nilai tambah, pesantren dapat memberikan pemahaman bahwa menikah dengan keluarga sendiri dapat melahirkan keturunan yang cacat. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang mengharamkan seorang perempuan dinikahi ayahnya, kakak laki-lakinya, pamannya, dst. Maka dengan mengetahui ini bertambah pula lah keimanannya.

Untuk lebih jelasnya, berikut perbedaan kelas abad XX dengan kelas abad XXI menurut Peter F. Oliva.

20th Century Classroom 21th Century Classroom
Time based learning Outcome based learning
Lesson focus on the lower level question Lesson are design to promote higher level thinking (dept of knowledge)
Textbook driven Standar driven
Passive learning Active learning
Learners work in isolation classroom within four walls Learners work collaboratively with classmates and other oround the world (The Global Classroom)
Teacher centered Student centered
Fragmented curriculum Integrated and interdisciplinary curriculum
Curriculum or school is irrelevant and meaningless to the student Curriculum is connected to student’s interest, experiences, talents, and the real world
Print is the primary vehicle of learning and assesment Performances, projects, and multiple forms of media are used for learning and assesment

 

Sayangnya, penerapan outcome based learning masih terkendala oleh beberapa hal. Diantaranya keterbatasan kemampuan guru dalam mengelola kelas yang heterogen (outcome based learning memungkinkan satu kelas terdiri dari berbagai tingkatan usia), dan pola pikir masyarakat bahwasanya SD itu 6 tahun, SMP 3 tahun, dst, sehingga pencapaian dalam waktu lebih lama dianggap jelek oleh masyarakat.

Pertanyaannya adalah, siapkah pesantren memasuki era ruang kelas abad XXI?

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: