Sing Cung Kyi Hi, Valentino Rossi dan Valentine Day

Sedangkan Valentine day adalah satu nama perayaan yang dibuatkan dan diramu sedemikian rupa oleh kelompok freemason, organisasi rahasia internasional Yahudi, untuk merayakan ‘hari berkasih dan hari bersayang’, yang di jadwalkan pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya.

Apa hubungannya ketiga istilah ini?, sepertinya memang tidak ada. Akan tetapi, sebagai langkah untuk mencari pembenaran, dan mendapatkan kebenaran yang hakiki kita coba saja untuk mengkorelasikan.
Celebration, atau dikenal dengan selebrasi dan perayaan identik dengan kegembiraan, pesta pora, makanan yang melimpah ruah, dan berbagai suguhan acara hiburan, mulai dari yang biasa-biasa saja, hingga yang luar biasa, hingga dirayakan dengan cara yang luar dari kebiasaan. Kegiatan semacam ini dilakukan untuk memeriahkan satu kejadian dan peristiwa yang dianggap penting oleh sekelompok orang. Entah itu organisasi, komunitas, negara, dan bahkan atas nama keagamaan. Cara dan metode yang dilakukan beragam, mulai dari pesta sederhana, meriah, dan bahkan hanya do’a selamat. Ada saja memang perayaan yang bisa dilakukan. Ada momentum dilakukan, jika tidak ada dibuat dan dicari saja waktunya. Sehingga tetap harus dan perlu sekali ada perayaan.
Titik tolak dari perayaan itu semua pun beragam. Ada yang menyebutnya, kebudayaan dan peradaban yang sudah dibangun sejak lama. Seperti perayaan Imlek, diakui sudah sejak lama ada, sekitar 5000 tahun SM. Dasar penanggalan tidak diketahui pasti oleh para ahli sejarah, namun berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan, dataran Tiongkok atau kita kenal dengan China sekarang, dahulunya telah lebih dulu maju dan berkembang. Sehingga masyhur lah pepatah Arab mengatakan, ‘tuntutlah ilmu hingga ke negeri China’.
Kemudian, ada apa dengan Valentino Rossi dan Yamaha Xiber nya, tidak ada apa-apa. Mau pesta, selebrasi, memeriahkan, syukuran ataupun selamatan, podo wae, orang jawa bilang. Biarkan saja, yang jelas jika anda atau saya minat tukar kendaraan dan uang cukup, silahkan, yo monggo, ora opo-opo. Memang masalah buat loe!. Sebab tidak ada yang penting untuk diulas dan diperdebatkan. Karena memang teknologi wajib berkembang, pesannya adalah, manfaatkan saja teknologi sesuai dengan fungsi dan kegunaannya.
Selanjutnya, ada apa dengan Valentine day?. Nah, ini masalah. Masalahnya, untuk apa saya dan Anda atau bahkan siapapun merayakan, membuat selebrasi, pesta peringatan dan kemeriahan-kemeriahan yang dasar dan tonggak sejarahnya tidak jelas. Kenapa dikatakan tidak jelas, jawabnya, balik buku sejarah, atau paling simpel tanya bang Google. Dan jika saya ulas panjang dalan tulisan ini, seolah penting sekali Valentine day ini.
Supaya apa yang saya tulis ini menarik, setidaknya sekilas dasar pengetahuan tentang Valentine day ini perlu dijelaskan.
Valentine day, dalam beberapa literatur sejarah paganisme diawali dengan cerita, seorang pendeta bernama Valentinus. Terdapat empat versi sejarah, yang kesemuanya diragukan ke ‘halal’-annya, tidak paralel untuk ditelusuri, dalam artian hoax atau cerita yang dibuat-buat, seolah kisah heroik sang pendeta, menjadi benar-benar ada dan patut diapresiasi dengan suatu perayaan. Boleh lah, sejarah mungkin saja berubah, namun sejarah tidak akan pernah bisa berbohong.
Awal mula Valentine’s day dirayakan dasarnya untuk menyembah dewa oleh bangsa Romawi kuno untuk menyatakan cinta dan kasih sayangnya pada sesembahan mereka. Ini berlangsung sejak 17 abad yang lalu. Versi lain menyebutkan tarikh kalender Yunani kuno, menceritakan pertengahan bulan Januari hingga pertengahan bulan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Ingat bukan Dewa Zeus?, itu bapak-e Hercules. Dan di Roma kuno dikisahkan, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, atau perayaan Lupercus sebagai tanda dewa kesuburan berpakaian setengah telanjang dengan kulit kambing.
Hoax lain mendongengkan, ensiklopedi Katolik memberikan dugaan, nama Valentino atau Valentinus merujuk pada tiga martir atau santo yang dikenal sebagai orang suci yang berbeda yaitu; pastur di Roma, uskup interamna dan santo di salah satu provinsi Romawi Afrika, yang satu sama lainnya tidak diperdapat kisah yang berkaitan.
Yang agak menarik adalah versi ketiga, dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan romantika cinta dan romantisme kasih sayang adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, konon dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Seorang sastrawan Inggris abad pertengahan bernama Geoffrey Chaucer pernah menulis cerita tentang Parlement of Foules, dalam bahasa Minangkabau kita menyebutnya ‘Carito Buruang’. Pada jaman itu para pencinta sudah lazim untuk bertukar catatan pada hari valentine dan memanggil pasangan valentin mereka.
Dan sejarah hoax versi keempat mengisahkan, Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III zaman pemerintahan Kaisar Claudius yang kejam, dan dihukum pancung akibat menikahkan satu pasangan, dimana mempelai pria yang semestinya ikut militer, tidak bisa lagi lantaran sudah menikah. Sebab zaman kekaisaran Claudius remaja wajib militer dulu baru boleh menikah. Ini cukup menarik.
Kini, valentine day dirayakan dengan berbagai cara dan beragam makna yang semata tujuannya hanya untuk berbagi kasih cinta dan asmara, hingga terjadi perilaku penyimpangan dari makna sesungguhnya. Tak lain adalah untuk melakukan pelampiasan gelora nafsu dan pemenuhan hasrat seksual. Makna sesungguhnya saya maksud, ini bukan pembenaran, karena memang dasarnya tidak ada. Namun secara sosiokultural boleh kita sebut sebagai kesamaan rasa. Berbagi kasih sayang, tidaklah salah asal jangan salah kaprah. Bertukar bingkisan dan hadiah tidak pula masalah, hanya pemberian.
Bercerita tentang Imlek, yang teringat adalah angpao, baik dalam bentuk uang atau makanan yang berlimpah ruah. Berkisah tentang Xiber nya Valentino Rossi terlepas dari prestasinya, yang teringat adalah keglamoran dan kemewahan. Dan berbicara Valentine day yang teringat hanyalah hura-hura, kenikmatan dan kesenangan. Strategi freemason betul, Food, Fun, and Fashion.
Tidak ada yang substansi bukan?. Pentingnya apa, apa pentingnya dan terserah kalau memang penting. Dan tidak perlu sampai kebakaran jenggot buat kata #say no to valentine’s. Semakin anda besarkan, maka seolah semakin penting benar itu hari.
Merujuk pada sejarah kenabian, ini bagi yang Muslim, tidak satupun peringatan yang pernah digelar, mulai dari awal Islam didengungkan oleh Muhammad saw kurang lebih 13 tahun di Makkah, dan selanjutnya berkembang 10 tahun di Madinah. Islam hadir untuk ‘tafaqquh fi ad-diin’, pemurnian. Menjadi jaring renggang antara mana yang menjadi perintah syari’at dan mana yang bukan. Tidak relefan kiranya, jika satu kegiatan, peringatan atau apapun namanya yang berkaitan dengan tuntunan syari’at baik yang wajib ataupun tidak wajib (mahdhah, ghairu mahdhah), apabila dilandaskan pada pendapat ulama setentangan perkara bid’ah hasanah.
Sekilas contoh shalat itu ada 13 rukun, jangan di tambah. Puasa wajib itu dibulan Ramadhan, tidak bulan Juni, Juli, Agus. Zakat itu mutlak pada waktunya, jangan disamakan dengan sedekah. Berhaji itu ke Makkah bukan ke kuburan syekh Burhanuddin di daerah Padang Pariaman. Berjilbab itu perintah Qur’an, bukan fashion. Minta tolong itu dengan do’a pada Allah swt, tidak ke dukun. Dan kebiasaan-kebiasaan lain yang sejatinya dibuatkan dengan alasan sebagai washilah atau penghubung agar dekat dengan Tuhan, atau dibuat seolah agar lebih khusyuk beribadah dan dengan alasan-alasan lain yang dicarikan, agar terkorelasi dan berkesan positif. Dan belakangan, entah pengaruh apa, peringatan demi peringatan dalam berbagai agama termasuk Islam khususnya dijadikan perlambangan, ikon, simbol untuk menandakan eksistensi keberagamaan.
Dan karena Islam dengan peradabannya lahir bukan dengan simbol kata Allah, sorban, jilbab, baju koko, gamis, cadar, logo bulan bintang, peringatan maulud nabi, israk mi’raj, nuzul al-Qur’an, dan sebagainya itu, maka identitas keislaman itu sejatinya ditandai dengan perilaku. Perilaku yang kita maksud adalah bertindak sesuai dengan Qur’an dan tuntunan Sunnah.
Jadi, berperilaku yang pokok-pokok saja, jika tidak ada tuntunan jangan dibuat-buat, atau malah mencari cara untuk pembenaran untuk suatu tindakan dan pemikiran. Makanya jauh hari Nabi Muhammad menegaskan ‘perbedaan antara mukmin dan kafir itu terletak pada shalat’. Lalu bagaimana dengan ibadah yang lain seperti zakat, puasa, haji?, ummat lainpun bisa. Bahkan tercatat orang terkaya di dunia saat ini bukan muslim, pemberian apa yang tidak bisa dia kasih, memang namanya bukan zakat. Puasa? Umat Kristiani dan Yahudi pun berpuasa, lalu bagaimana dengan haji, orang usil akan bertanya, apa bedanya dengan traveling, touring.
Maka, menjelang akhir perjuangannya, Nabi Muhammad saw, memberi ultimatum, ‘lakum dinukum waliyadin’, untukmu agamamu, dan bagiku agamaku, atau kalau kurang tegas kita gunakan bahasa Minangkabau saja, ‘Bueklah apo nan ka lamak di wa ang’. Ini prinsip, menghormati bukan mesti larut dan turut marut mengikuti, menghargai bukan berarti merelakan, berdampingan bukan bermakna membiarkan. Buat mereka, tidak harus bertukar identitas di KTP dari muslim jadi kafir, tapi cukuplah mencontoh perilaku kami.
So, what is important about Valentine’s day?, Nothing!.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: