Sudahkah Kita Seperti Mereka?

Goresan tinta sederhana ini merupakan hasil renungan saya terhadap tulisan saudara Rahmat Fauzi beberapa waktu lalu yang berjudul “Bermazhab, Masih Mungkinkah. Walaupun nantinya belum mampu menghilangkan dahaga pembaca akan ilmu pengetahuan – dan memang tidak akan terhilangkan karena luasnya samudera ilmu itu -, minimal tetesan tinta ini menjadi uneg-uneg serta bahan introspeksi diri bagi kita untuk terus menuntut ilmu dan mencari kebenaran dari siapapun dan dari manapun sumbernya.

Dari konten tulisan Fauzi, saya mencium adanya aroma kekecewaan yang mendalam terhadap mazhab dan ulama-ulama terdahulu (mohon dikoreksi kalau bukan demikian). Tak kepalang tanggung (meminjam ungkapan Fadhli Lukman) dia mengutip ungkapan Buya Syafi`i Ma`arif: tinggalkan kotak  !!!; seolah-olah dia ingin berlepas diri  dari belenggu dan kotak mazhab. Mazhab  hanya sebagai   penghalang bagi “mujtahid-mujtahid muda” seperti dirinya untuk berkreasi dan berimprovisasi.

Lama saya termangu memikirkan apa motif Fauzi dalam tulisannya. Apakah karena mencari sensasi atau memantik semangat pembaca (manjagoan singo nan taakuak-akuak) untuk membaca dan meneliti lebih banyak hingga bisa mencapai kemajuan yang dialami oleh Barat. Mudah-mudahan motif kedualah yang ada dibenaknya ketika menulis ini. Bersyukur tulisan ini juga direspon sebelumnya oleh Fadhli Lukman dengan artikelnya Jangan Abaikan Pondasi”.

Sebenarnya saya sudah mulai bosan dengan wacana-wacana klasik yang menohok seperti ini. Akan tetapi naluri dan tanggung jawab ini merasa terpanggil untuk memelihara ilmu pengetahuan (red: turas ) yang telah diwariskan oleh ulama-ulama kita terdahulu. Ini kita lakukan bukan karena fanatik buta dengan mereka, tapi karena kita mengetahui bagaimana sejarah panjang lebih dari seribu tahun perjuangan mereka. Bagaimana ilmu yang mereka hasilkan mampu membuat kemajuan pesat kususnya di zaman Dinasti Abbasiah yang dikenal dengan masa keemasan ilmu pengetahuan. Adapun kemunduran yang kita alami dewasa ini karena diri ini yang terlalu malas membuka kembali lembaran-lembaran kitab turas yang semakin hari semakin berdebu. Ini sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Imam Ibnu Al-Jauzi (w.597 H) sekitar 800 tahun yang lalu bahwa hilangnya buah tangan ulama karena lemahnya himmah dan motifasi kita untuk membaca kitab tersebut. Jarang sekali kita mendengar orang yang membaca dan menamatkan bacaan Al-Qur’an sekali dalam satu bulan atau sekali dalam seumur hidupnya, padahal itu pedoman hidup kita, atau membaca kitab-kitab lain lebih dari satu kali. Bandingkan dengan imam-imam kita terdahulu ada yang membaca satu kitab saja  puluhan kali seperti Imam Fairuz Abadi yang membaca Shahih Bukhari lebih dari 50 kali, dan Imam Ibnu Sina yang membaca buku Aristoteles lebih dari 40 kali. Bahkan ada yang membaca satu buah kitab saja ratusan kali, seperti Imam Abu Bakar Ibnu `Athiyyah yang membaca Shahih Bukhari 700 kali. Perlu digaris bawahi bahwa bacaan kita belum bisa dibandingkan dengan bacaan mereka yang telah menguasai ilmu pengetahuan tersebut.

Penulis mencurigai bahwa artikel tersebut muncul karena penulisnya belum mengetahui atau membaca secara saksama sejarah awal kemunculan ilmu pengetahuan kususnya ilmu agama ini, sehingga dia menjadi buta dengan mereka.  Memang benar kata adagium Arab bahwa seseorang akan memusuhi apa yang tidak diketahuinya. Bukankah kafir Quraisy menentang kenabian Rasulullah SAW. karena tidak mengenal beliau (Q. Al-Mu`minun: 69). Kecurigaan saya bertambah bahwasanya ia membaca buku-buku terjemahan dari Muhammmad syahrur, Hasan Hanafi, Gadamer, Nasr Hamid Abu Zaid, Muhammad Arkoun dan orang-orang seperti mereka yang pemikirannya patut dikritisi, bukan diapresiasi. Jadi informasi dan fakta  yang didapatinya menjadi tidak berimbang. Bukannya mengkritisi pemikiran mereka tapi malahan membabi buta mengikuti mereka dan mengkritisi keilmuan ulama-ulama terdahulu.

Lihatlah bagaimana usaha tanpa kenal lelah ulama-ulama besar kita melanglang buana mengitari dunia menuntut ilmu disaat sarana transportasi tidak semudah sekarang dengan jalan-jalan penuh onak dan duri. Bagaimana gigihnya Imam Bukhari melakukan perjalanan dalam mengumpulkan hadis-hadis Rasulullah SAW. dari Bukhara sampai Madinah dan negara lainnya berguru kepada ribuan ulama menjelajahi setengah dunia sampai tutup usia. Usaha Imam Syafi`i belajar bahasa Arab 20 tahun kepada suku Huzail dipedalaman Arab sebelum mematangkan mazhab beliau yang tersebar diseluruh dunia hingga hari ini. Kegigihan Imam Sibawaih dalam mengkodifikasikan ilmu Nahwu dan menjadi imam dibidang tersebut  padahal beliau tidak berumur panjang (wafat dalam usia 33 tahun). Atau Imam `Abdul Qahir Al-Jurjani dalam menguasai ilmu balaghah yang tergambar dalam 2 kitab terpopuler beliau  yaitu Dalailul i`jaz dan Asrarul Balaghah yang dijadikan referensi oleh orang setelahnya untuk memahami balaghah Al-Qur’an padahal beliau bukan orang Arab dan tidak  pernah belajar ke negeri Arab. Imam Ibnu Jinni, Imam Ibnu Hajar, Imam Nawawi, Imam Ghazali, Suyuthi, Baijuri, Murtadha Azzabidi, Sya`rawi, Usamah Al-Azhari, dan ribuan ulama lainnya baik dari Arab maupun mereka yang bukan orang Arab yang saking banyaknya tidak mungkin kita sebutkan satu persatu di artikel singkat ini. Mereka mendedikasikan diri mereka mengorban harta bahkan nyawa mereka untuk agama Allah ini, demi memahami Al-Qur’an dan Sunnah bukan demi sesuap nasi atau aktualisasi diri. Mereka memang manusia tapi manusia yang Allah kader untuk menjaga agama ini, hal ini senada dengan firman Allah Q. Al-Hijir: 9 yang artinya sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami pulalah yang menjaganya. Ketika Allah janjikan kepada kita untuk menjaga KitabNya yakinlah disana terkandung janji Allah akan terjaganya ilmu-ilmu yang digunakan untuk memahami Al-Qur’an melalui para ulama kita.

Kalau ia menginginkan pembaharuan, saya bukan orang yang anti dan alergi dengan tajdid dan segala derivasinya. Karena menurut saya syarat mutlak bagi seorang mujaddid yang ingin menyegarkan kembali wacana pemikiran islam “yang dianggap sudah usang” adalah pengetahuannya yang menyeluruh bukan setengah-setengah terhadap wacana tersebut. Misalnya seorang yang ingin memperbaharui Ushul Fikih dia harus menguasai Ushul Fikih semenjak pertama kali dikodifikasikan oleh Imam Syafi`i dalam kitab Al-Risalah hingga Ushul Fikih yang ada hari ini. Kalau dia benar-benar telah menguasainya silahkan untuk memperbaharui Ushul Fikih yang dianggap “tidak relevan” lagi dengan tuntutan zaman. Karena kalau kitab  dasar Ushul Fikih seperti matan Waraqat saja belum dikuasai, rasa-rasanya terlalu konyol untuk memperbaharui apalagi memunculkan suatu paradigma tandingan terhadap Ushul Fikih.

Begitu juga dengan meginterpretasikan Al-Qur’an yang merupakan disiplin ilmu tertinggi dan yang paling sulit dan komplit. Untuk menafsirkan Al-Qur’an kita butuh semua perangkat  ilmu yang digunakan untuk  itu. Memang kita selalu membutuhkan tafsiran yang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun menjauhkan diri kita sejauh jauhnya  dari kaedah-kaedah penafsiran yang telah di tulis dan diaplikasikan oleh ulama-ulama kita merupakan suatu kekonyolan belaka. Mustahil rasanya menafsirkan Al-Qur’an jauh dari kaedah-kaedah bahasa Arab seperti nahwu, balaghah dan lain-lain. Saran saya, marilah kita sama-sama belajar dahulu, gali lagi kitab-kitab klasik peninggalan ulama kita sebagaimana yang kita pelajari di Parabek, karena kalau kitab karangan ulama saja kita belum baca dengan benar sesuai kaedah nahwu sharaf jangan harap mampu me reinterpretasikan Al-Qur’an yang notabenenya merupakan Kalamullah. Jika nanti kalau keilmuannya sudah matang silahkan mengajukan paradigma baru dalam agama ini. Tapi jangan tinggalkan objektifitas kita sebagai mahasiswa dan penuntut ilmu. Meminjam ungkapan fauzi.. mari Think again!!!

 

Referensi kisah:

  1. Imam Azzahabi, Siyar A`lamin Nubala, ( Beirut: Muassasah Arrisalah, 2001), cet.11.
  2. Imam Tajuddin Assubki, Thabaqat Syafi`iyyah Alkubra, ( Giza: cetakan hajar, 1992 ), cet.2.
  3. Syekh `Abdul Fattah Abu Ghuddah, Shafahat Min Shabril Ulama` `Ala Syadaaidil `Ilmi Wa Attahshil, ( Beirut: Dar Albasyair Alislamiyah, 2009 ), cet.9.
  4. `Ali bin Muhammad Al`imrani, Almusyawwiq Ilal Qiraati Wa Thalabil `Ilmi, ( Kairo: Dar Al`Ashriyah, 2015 ), cet.7.

 

Kairo, 2 Maret 2016 M

Muhammad Awaluddin

Muhammad Awaluddin adalah alumni Ponpes Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun 2010. Saat ini adalah mahasiswa S2 Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: