Sumatera Thawalib Parabek dan Beasiswa PBSB

Pesantren selama ini selalu menjadi salah satu lembaga pendidikan yang menarik minat masyarakat umum, terkhususnya bagi mereka yang berniat untuk mendalami ilmu agama. Hal ini dibuktikan dengan menjamurnya pondok pesantren di seluruh Indonesia, baik yang merupakan lembaga pendidikan resmi maupun sekedar halaqah pengajaran agama.

Tidak hanya itu, kehadiran pesantren pada masa penjajahan tidak hanya berfungsi sebagai wadah belajar-mengajar, namun juga sebagai alat perjuangan memperjuangkan kemerdekaan. Beberapa pondok pesantren telah mengalami modrenisasi. Santri mulai diajarkan berbahasa asing non-arab, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, memakai internet, dan ikut mempelajari ilmu umum seperti ilmu sosial dan ilmu alam. Hanya saja pondok pesantren masih awam dalam penyelenggaraan dan pengajaran ilmu umum sehingga kualitasnya belum bisa setara dengan sekolah negri.

Dewasa ini peran pesantren mulai dianggap sebagai sarana pengajaran agama saja. Kebanyakan masyarakat mencap lulusan pesantren hanya berkesempatan untuk menjadi ulama, ustadz, guru, da’iyah, dan pekerjaan sejenis. Santri pondok pesantren dianggap tidak memiliki kompetensi untuk bersaing dalam urusan ilmu sosial maupun ilmu alam. Menyikapi hal ini, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren membentuk sebuah program bernama Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB).

PBSB digagas pada tahun 2005 oleh Menteri Agama RI waktu itu KH. Maftuh Basyuni, Prof. H. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, Ph.D saat itu sebagai Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI sekarang Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Drs. H. Amin Haedari, M.Pd sebagai Direktur Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Pekapontren) di bawah Ditjen Kelembagaan Agama Islam. Sekarang bernama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren di bawah Ditjen Pendidikan Islam, Drs. H. Rohadi Abdul Fatah, M.Ag Kasubdit Kerjasama kelembagaan dan Pengembangan Potensi Pondok Pesantren, Ditpekapontren, dan Drs. H. Imam Syafei, M.Pd waktu itu sebagai Kepala Seksi Kurikulum pada Ditpekapontren. Tidak lama dari itu pak Rohadi digantikan oleh Drs, H. Khaeroni, M.Si sekaligus nama Subdit yang menangani PBSB berubah menjadi Subdit Pemberdayaan Santri dan Layanan kepada Masyarakat.

PBSB bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada para santri untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas di perguruan tinggi ternama di Indonesia, mengejar ketertinggalan komunitas pondok pesantren utamanya para santri pada sains dan teknologi yang sangat dibutuhkan oleh pesantren dan bangsa ini, dan memberikan kesempatan perluasan akses kepada santri terutama dari kelompok yang kurang mampu.

PBSB sendiri memberikan beasiswa penuh kepada santri yang lolos tes untuk berkuliah di PTN pilihan. Beasiswa ini mencakup uang pangkal, UKT , dan living cost selama 4 tahun. Santri diperkenankan belajar tanpa perlu memikirikan masalah keuangan slama berkuliah. Sebagai balas budi, santri yang mendapatkan beasiswa PBSB diharapkan untuk menorehkan prestasi sebanyak-banyaknya dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi bangsa dan Negara, khususnya bagi pondok pesantren asal dengan mewajibkan lulusan mengabdi sesuai dengan bidang keilmuannya selama 1-3 tahun.

Di parabek sendiri, PBSB mulai dikenal pada tahun 2007, yaitu angkatan III PBSB. Nama yang lulus yaitu Alfi Husni, Anggi Sepriadi, dan Yuhelmira di UIN Sunan Ampel Surabaya. Lalu pada tahun berikutnya, 2008, dua orang santri parabek kembali di terima masuk jalur PBSB di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yaitu Fadhli Lukman dan Siska Handayani. Tahun 2009 Imroati Karmillah, Faizah, dan Nikmah Rasyid Ridho kembali diterima di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada tahun 2010 Nilda Hayati diterima di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dita Trinastia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selanjutnya pada tahun 2011 Zulhamdani berhasil masuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan M. Ihsan berhasil masuk Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Sayangnya, deretan nama santri penerima PBSB dari Parabek sempat terputus pada tahun 2012 dan 2013. Barulah pada tahun 2014 Rizki Rahmat Fikri kembali menuliskan nama Parabek dalam daftar penerima PBSB di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menyusul pada tahun 2015 di universitas yang sama, Hamdi Putra Ahmad dan Nanda Ahmad Basuki. Tahun 2016, tercatat lima orang santri berhasil menorehkan nama terbanyak bagi Parabek di PBSB. Yeni Angelia dan Riri Widya Ningsih diterima di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Husnul Khatimah diterima di UIN Wali Songo Semarang, Windy Wiyarti diterima di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Matahari di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Sejauh ini memang masih sedikit sekali santri parabek yang lulus di perguruan tinggi non-UIN. 16 orang diterima di jurusan berbasis ilmu kegamaan, 3 orang di jurusan berbasis ilmu alam, dan 1 orang di jurusan berbasis ilmu sosia. Diharapkan ditahun-tahun berikutnya nama Parabek kembali masuk dalam daftar penerima PBSB dengan jurusan dan universitas yang lebih beragam.

Tercatat Perguruan Tinggi Mitra Kementerian Agama dalam PBSB Tahun Anggaran 2016 yaitu: Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar serta Universitas Cendrawasih Jayapura.

Who will be the next?

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: