Sumatera Thawalib Parabek dan Pendidikan Inklusi; Mungkinkah?

Saya membayangkan, jikalau wawasan dunia tentang difabilitas dan pendidikan inklusi telah seperti saat ini pada masa puncak karir kependidikan beliau, beliau pasti telah akan membukanya semenjak saat itu.

Sedikit berselancar di internet, dapat dipahami bahwa pendidikan inklusi adalah pendidikan yang terbuka bagi siapa saja. Idenya adalah bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Maknanya sebenarnya luas, bahwa pendidikan harus terbuka tanpa memandang kondisi fisik, emosional, ras, ekonomi, dan sebagainya. Namun begitu, implikasinya pendidikan inklusi lebih dekat kepada upaya untuk membuka pendidikan yang sejajar bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus atau terjadi sesuatu kemudian yang membuatnya demikian.

Sekolah inklusi bukan sekolah luar biasa (SLB). SLB adalah sekolah yang dibuka khusus untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Oleh sebab itu, peserta didik cenderung seragam, meskipun kebutuhan khusus juga bisa diklasifikasikan kepada beberapa kelompok. Sementara sekolah inklusi sekolah yang menyejajarkan anak-anak biasa dengan anak berkebutuhan khusus. Mereka belajar di lokasi dan lingkungan yang sama.

Ide ini mengemuka ketika melihat anak-anak dengan kebutuhan khusus atau sering juga disebut dengan istilah difabel selalu menghadapi diskriminasi dalam hidup mereka. Difabilitas dianggap penghalang bagi pendidikan, dan karena itu anak-anak difabel tidak mendapatkan pendidikan. Hasil akhirnya, bisa diprediksi, mereka tidak bisa mandiri dan selalu hidup di bawah stigma.

Saya berandai-andai, bagaimana jika Ponpes Sumatera Thawalib membuka pendidikan inklusi?

Kita bisa melihatnya dari berbagai segi. Pertama, kita bisa melihatnya dari segi cita-cita dasar dibukanya Muzakaratul Ikhwan. Pendidikan inklusi sejatinya adalah ide yang mulia yang mencerminkan semangat pendirian sekolah ini. Dalam sejarahnya, Ponpes Sumatera Thawalib lahir dalam konteks revolusi pendidikan di Sumatera Barat pada awal abad 20. Dalam kondisi yang masih terjajah dan keterbatasan akses terhadap pendidikan, Syaikh Ibrahim Musa di bersama sejumlah nama-nama hebat lainnya membuka peluang pendidikan bagi siapa saja. Dari satu sudut pandang, pendirian sekolah-sekolah pada masa itu, termasuk Muzakaratul Ikhwan yang bertransformasi menjadi Sumatera Thawalib tentu saja, membuka kesempatan bagi mereka yang tak terjamah pendidikan. Ini adalah ide inklusifitas pendidikan.

Membuka pendidikan inklusi berarti memperluas bidang pengabdian sekolah kepada masyarakat. Sumatera Thawalib adalah sekolah pengabdian. Sumatera Thawalib bukanlah program pemerintah, juga bukan sekolah investor. Ia sekolah yang berasal dari rakyat, untuk rakyat. Syaikh Ibrahim Musa ketika masih hidup juga menegaskan bahwa sekolah ini milik umat. Oleh sebab itu, melebarkan sayap kepada pendidikan inklusi sejatinya adalah keharusan.

Selain itu, sekolah inklusi akan menjadi gaya pendidikan yang menjadi pemantik pertumbuhan mental peserta didik ke arah yang lebih positif. Bukan hanya untuk siswa difabel, tetapi juga bagi siswa-siswa lainnya. Bagi penyandang disabilitas, ide ini akan membuka peluang yang lebih luas bagi mereka untuk mengenyam pendidikan pesantren.

Pendidikan inklusi akan membuka kultur hidup dan belajar yang berbeda. Keberadaan teman-teman dengan kebetuhan khusus di sekitar akan merubah cara pandang siswa tentang banyak hal; tentang keberagaman, toleransi dan empati, semangat dan motivasi, dan sebagainya.

Mereka melihat dari dekat bahwa sebagian manusia dilahirkan atau mengalami sesuatu yang kemudian merubah hidupnya. Melihat dari dekat dan hidup berdampingan tentu saja efek psikologisnya akan berbeda dengan mendengar dari jauh atau sekedar melihat berita atau video yang beredar di internet. Mereka bisa berbincang, berbagi ide dan sudut pandang, bercerita tentang pengalaman, berteman dan bersahabat.

Rasa syukur dan empati akan tumbuh dan mengakar dari interaksi yang intens tersebut. Bersyukur atas segala yang telah diberikan Allah kepadanya, dan empati dengan teman-teman difabel. Saya membayangkan sisi emosional dan mental yang akan tumbuh ketika, misalnya, beberapa siswa bersedia menjadi relawan untuk menemani teman tunanetra dalam perjalanannya dari asrama menuju masjid; juga ketika membantu teman beraktifitas di kursi roda untuk berwudhu’; dan sebagainya. Mungkin yang akan menjadi relawan setia hanya beberapa orang, tergantung kepada jumlah siswa difabel yang ada. Akan tetapi, siswa non-relawan pun yang setiap hari menyaksikan hal tersebut akan mengalami pertumbuhan emosional yang positif pula. Budaya hidup ‘pancimeeh’ yang biasanya sejatinya bisa luntur dengan empati yang tumbuh.

Begitu juga semangat dan motivasi. Bagian ini pengalaman pribadi saya berbicara. Selama 3 tahun pertama berkuliah di UIN Yogyakarta, selalu ada satu, dua, atau lebih teman-teman difabel yang kebetulan berangkat dan pulang bersama dalam satu angkot. Setiap wisuda selalu ada beberapa orang mahasiswa difabel yang ikut serta. Beberapa minggu yang lalu, ketua jurusan Interdiciplinary Islamic Studies di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga memposting foto mahasiswanya yang mengalami cerebral palsy (kelumpuhan otak) berhasil menutup perkuliahannya dengan sidang tesis. Problem yang dia miliki tidak menghalanginya untuk mendapatkan predikat cumlaude. Sungguh, hidup dan menyaksikan hal-hal demikian akan selalu menjaga semangat dan motivasi untuk terus berusaha.

Akan tetapi, membuka merintis pendidikan inklusi di pondok pesantren seperti Sumatera Thawalib, tentu saja tidak seperti membalik telapak tangan. Ada banyak hal yang harus diperhatikan seperti ketersediaan tenaga ahli di bidang terkait atau sarana dan prasarana. Tidak kalah penting, justru sangat penting sekali, pengembangan metode belajar materi-materi khas pesantren seperti ilmu alat juga menjadi salah satu tantangan besarnya.

Jadi, Sumatera Thawalib membuka pendidikan inklusi; mungkinkah? Saya tidak tau. Akan tetapi, yang saya ketahui adalah Syaikh Ibrahim Musa adalah sosok pengajar yang progresif. Saya membayangkan, jikalau wawasan dunia tentang difabilitas dan pendidikan inklusi telah seperti saat ini pada masa puncak karir kependidikan beliau, beliau pasti telah akan membukanya semenjak saat itu. Wallahu a’lam.[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: