Surat Balasan untuk R.A Kartini

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu,

Di awal kata, Aku ucapkan semoga Ibu senantiasa dalam lindungan-Nya, sehat walafiat dan tak kurang satu apapun jua. Mungkin Ibu akan terkejut mendapat surat ini, karena bukan dari Nyonya Van Kol, Nyonya Abendanon, Stella ataupun sahabat pena Ibu lain yang Londo itu. Perkenalkan, Aku anak pribumi yang luput dari jangkauanmu. Tidak hanya jarak yang memisahkan kita, zaman pun juga berbeda.

Jujur, tanganku masih gemetar harus menulis apa kepadamu Bu. Kudengar Engkau enggan di panggil Raden Ayu karena engkau Raden Ayu yang berbeda dari yang lain. Haruskah kupanggil engkau Ni atau Nil (Trinil) seolah kita tinggal di bawah ‘satu atap’? Ataukah nenek? Lantaran Aku lahir tepat 88 tahun setelah sepeninggalmu. Hmm.., Marilah kita sepakati saja, Engkau akan kupanggil “Ibu”, sesuai dengan lagu tentangmu yang harum saat kutembangkan bersama guru dan kawan-kawanku.

Kudengar Ibu ingin tertidur 100 tahun lamanya, dan tiba-tiba bangun menyambut zaman dan suasana yang jauh berbeda lagi berperadaban. Mungkin Aku bisa mengabulkannya Bu, tapi dengan cara yang berbeda. Mari Aku kabari padamu Bu, bagaimana tanah air yang tercinta ini seratus tahun kemudian. Tepatnya pada zaman yang sedang kunikmati sekarang ini. Aku hanya akan mengabari yang kulihat dan kurasa. Entah yang akan kusampaikan ini akan menggembirakanmu, atau malah akan menambah deras tangismu di bilik pingitan itu, Bu.

Mungkin hal pertama yang ingin sekali Ibu tahu adalah tentang nasib perempuan sekarang ini. Alhamdulillah, Para perempuan sudah dalam posisi yang sama dengan laki-laki; sama-sama memperoleh pendidikan ataupun pekerjaan. Kehidupan yang layak pun bisa diraih, tergantung pada usaha kami masing-masing. Ibu tidak usah khawatir tentang itu, para aktivis dan lembaga sosial sudah semaksimal mungkin menyuarakan perjuangan Ibu dan teman-teman. Kami semua juga ikut mendukung untuk kemajuan bersama, tanpa pandang siapapun orangnya.

Kalau soal pakaian sekarang, para perempuan sampai pusing kelimpungan memilih model dan corak apa yang mereka suka. Semua penjual menawarkan produk teranyar yang tersedia, agar perempuan kita tidak ketinggalan mode dan tren. Namun, ada di antara perempuan yang suka pakaian yang ‘terbuka’ atau malah sempit di tempat umum, sehingga yang laki-laki pun sampai bingung harus bersikap apa, sambil menelan ludah. Aku tak banyak komentar soal itu, masih banyak juga kok yang lebih sopan pakaiannya.

Kalau untuk soal bersolek, tidak usah ditanya Bu. Begitu banyak peralatan rias yang ada, dan bisa dibawa ke mana-mana. Aku pun sampai bingung dengan namanya yang rumit dan njelimet itu. Aku memahami itu semua agar mereka terlihat cantik, tetapi bayangkan Bu jika sampai ada di antara kami yang mengubah bentuk tubuh, demi sebuah penampilan ataupun standar kesempurnaan belaka. Bukankah masih banyak yang perlu diperbaiki selain penampilan? Benarkan Bu?

Sedangkan tentang pernikahan, para perempuan sekarang sudah punya kemerdekaan untuk memilih pasangannya. Mereka tidak perlu lagi dipingit semenjak menstruasi pertama. Kami, laki-laki dan perempuan bebas bergaul satu sama lain, bahkan bisa lepas dari pengawasan orang tua. Kadang kami pergi ke tempat yang kami suka, berdua saja, meski belum dalam status sah pernikahan. Kadang yang sudah menikah pun, juga ikut memasukkan ‘orang lain’ dalam pernikahannya. Bukan poligami Bu! Tapi yaa begitulah… Itu yang terjadi.

Terkait masalah poligami, Aku tidak bisa mengatakan itu tidak terjadi sama sekali, Bu. Akan tetapi, pada umumnya masyarakat kita sudah menganut paham monogami. Meskipun tetap ada pemahaman yang memilih untuk poligami, tentu dengan pertimbangan mereka masing-masing. Yang jelas situasinya cukup berbeda dengan generasi Ibu. Semoga itu tidak menyakiti sesama lagi, sesuai yang Ibu ungkapkan.

Saat ini kita sudah menikmati kemerdekaan hampir 72 tahun semenjak tahun 1945. Para penjajah sudah mangkir dari tanah air ini. Kita sekarang dikenal dan diakui sebagai bangsa Indonesia oleh negara lain. Kita memang sudah merdeka, tidak lagi diperangi dengan senjata, berlumuran darah hingga mayat bergelimpangan. Akan tetapi, Aku merasa kita masih terjajah Bu, memang bukan karena perang fisik. Sekarang bukan lagi zamannya perang fisik, namun perang intelektual. Ada kekuatan asing yang berusaha menanam investasi ke negara kita. Bukan berarti mereka tidak bersurat izin. Memang ada tujuan baik di sana, namun jika masyarakat kita yang dirugikan apalah gunanya.

Aku menyadari negara kita kaya, subur dan layak huni. Namun, di antara kita masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kita masih kekurangan bahan pangan, hingga ada yang mati karena menahan lapar. Masih banyak di antara kita yang tidak bertempat tinggal, bahkan yang punya rumah pun harus ada yang digusur. Aku tak tahu harus bagaimana menyampaikannya. Mungkin jika Ibu punya alat komunikasi yang kita sebut smartphone, akan kubagikan berita-berita terkini kepada Ibu seperti Raden Mas Kartono mengirimi surat dan buku-bukunya pada Ibu.

Nah, mengenai alat komunikasi yang kusebut smartphone tadi, Kita tidak hanya bisa menghubungi siapapun yang dikenal. Dengan alat itu, kita bisa mengetahui seluruh informasi dunia. Ibu hanya tinggal mengetik kata apa saja, akan muncul informasi tentang itu dalam hitungan detik. Dunia pun menjadi semakin sempit, hingga kendaraan transportasi pun membelah dunia ini hanya dalam hitungan jam.

Selain itu, kita juga sudah menikmati yang namanya “media sosial”. Melalui smartphone tadi, Ibu bisa memiliki profil akun di media sosial, sehingga bisa membuka pertemanan virtual dengan siapapun dan dari negara mana pun. Tak bisa kubayangkan jika alat itu di tangan Ibu sekarang. Jika Ibu mahir mengoperasikannya, sahabat pena Ibu tentu akan semakin banyak dan mesti cerita-cerita yang Ibu tuliskan di beranda “media sosial”, akan mendapatkan banyak like, komentar dan dibagikan ke banyak orang. Mungkin Ibu akan betah berlama-lama di dalam kamar, apalagi kalau koneksi smartphone Ibu lancar. Saya yakin Ibu tidak hanya disebut seorang perempuan yang melampaui zamannya, bahkan sebutan perempuan yang menguasai berbagai zaman pun pantas Ibu sandang.

Jujur, Aku kagum padamu Bu. Meski Aku mengenalmu dari orang lain. Terutama dari surat-surat yang Ibu kirimkan ke sahabat-sahabat pena itu. Aku memang bukan orang yang pantas untuk membalas surat-surat itu, karena bukan dialamatkan padaku. Hanya saja Aku mengintip isi surat itu, kemudian ingin menjadi sahabat pena Ibu juga. Aku pun insaf akan diriku yang masih kering dalam menulis, orang yang piawai dalam menulis tentu memamah bacaan apa saja yang ada, selama menambah nutrisi untuk otaknya.

Akan tetapi, kata yang selalu terngiang di kepalaku setelah menonton film Kartini tadi siang di bioskop adalah, Ibu menemukan kebebasan dalam membaca buku, namun ada satu hal yang diajarkan Mas Ayu Ngasirah yang tidak tertulis dalam buku, yaitu kebaktian. Bakti kepada orang tua memang di atas segalanya. Allah pun meridhoi itu. Aku pun mulai paham, kenapa Ibu berusaha menekan sedikit ajaran-ajaran kebebasan yang ada dalam buku dan tetap menerima risiko dari pernikahan itu. Jawabannya, tidak lain karena rasa bakti pada orang yang dicintai. Yaitu orang tua, terutama Ibu.

Selamat Hari Ibu Kartini

Yogyakarta, 21 April 2017

 

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: