Surat dari Masa Lalu

Jauh di masa depan, akan ada banyak hal yang berubah dari dunia manusia. Gedung-gedung tinggi pencakar langit akan dirubuhkan, dibangun rumah teori baru yang tak menimbulkan lagi efek rumah kaca. Begitu pula dengan kendaraan yang mengotori paru-paru bumi tiap detiknya, para ilmuan seluruh dunia bekerjasama membuat kendaraan baru yang ramah lingkungan. Bahkan tiada diperlukan lagi jalan-jalan tol yang semerawut. Setiap kota ditata agar memiliki saluran air besar layaknya sungai buatan, bersih dan terawat. Perahu-perahu kecil mengalir mengikuti arus, tak perlu lagi minyak bumi.

Tak hanya lingkungannya saja yang berubah, manusia itu sendiri pun ikut berubah. Banyak sekolah telah menerapkan standar baru dalam pendidikan. Tak ada lagi murid yang tertekan dan guru yang galak, semuanya dirancang agar menyenangkan dan produktif. Pemerintahan juga telah dipersatukan demi mencegah peperangan. Jadi di masa depan, tak ditemui lagi daerah terpinggir. Dan juga dunia sudah semakin dipersempit dengan akses komunikasi mendunia. Bahkan para lansia saja tak ada gaptek. Yah, disitu masalahnya bagi lelaki paruh baya itu.

Jauh di masa depan, pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan yang mencengangkan bagi dunia. Dunia sudah terlalu berisik. Setiap menit, bahkan hitungan detik saja, selalu ada bunyi yang diiringi dengan getar. Entah suara burung, siulan, bahkan musik-musik yang bertumpuk, mengganggu ketenangan. Ponsel pintar yang bisa menghubungkan setiap sudut dunia dalam hitungan tak sampai detik membuat masyarakat candu. Suara jemari beradu dengan benda kotak layar datar bahkan sampai terdengar. Pemerintah langsung ambil langkah, suara-suara itu sempurna dilarang.

Bagi lelaki paruh baya itu, Borneo, keputusan pemerintah untuk melarang suara-suara itu benar menolongnya. Selalu ia merasa terganggu dengan suara itu. Satu berbunyi dan hampir seluruh orang memegang saku, memastikan. Maupun jelas ia tak akan melakukan hal yang sama, malah ia membuang muka dan mendecih pelan.

Borneo mungkin satu-satunya yang memutuskan tak memakai ponsel pintar itu. Bahkan yang lebih senja darinya saja menggunakan ponsel pintar, namun ia menolak terang-terangan. Biarlah sepanjang jalan dari dermaga sungai buatan itu orang-orang yang melihatnya aneh, bahkan kebanyakan tak peduli dan sibuk dengan bedebah persegi itu. Borneo selalu memanggilnya begitu.

Tak lama berjalan, Borneo menghentikan langkahnya di sebuah kios kecil dengan papan reklame besar bertulisakan ‘POS’ di atasnya. Tangan tuanya merogoh saku celana dan mengambil sebuah kunci yang bentuknya tiada pernah ditemui di jaman-jaman sebelumnya. Segera setelah pintu kios kecil itu terbuka, raut wajah Borneo langsung berubah ceria dan menyenangkan.

Ia membuka jaket yang sama tua dengannya dan langsung merapikan ‘kantor kecil’ kesayangannya. Baginya tempat ini adalah sebuah kantor, ia melayani pengiriman surat di daerah itu. Walaupun orang-orang mengira tempat ini adalah sebuah kios loakan kertas. Jauh di masa depan, manusia mulai tak kenal akan kata POS. Semua hal sudah tersedia di ponsel pintar mereka, Pos tak masuk lagi bagian dari data yang perlu disimpan otak mereka.

“Kau telat sepuluh menit pemuda” ujar Borneo melirik remaja lelaki yang memasuki kantor kecilnya dengan tas selempang. Danu namanya. Ia hanya tersenyum meminta pengertian dari Borneo.

Tanpa banyak cakap, Danu menggantikan duduk Borneo setelah menyapu dan membereskan kursi tunggu yang bahkan belum diduduki seminggu ini. Borneo ganti duduk disebuah kursi terkhusus baginya. Sebuah kursi coklat empuk nyaman yang menghadap dinding. Jika melirik ke kiri, akan didapati Danu duduk sambil tersenyum ramah menunggu ‘pelanggan’, sedang jika Borneo melirik kanan, ia bisa melihat dunia sibuk di luaran sana. Sangat kontas memang.

Tangan Borneo menyisir tanggal-tanggal di kalender yang telah ia silang merah tiap hari baru. Di masa depan jugalah Borneo seorang yang masih menggunakan kalender kertas yang dicetak panjang. Senyumnya makin mengembang melihat tanggal yang akan dicoretnya nanti sore. Tanggal 21, kelipatan 7.

“Kuharap gadis itu kemari lagi hari ini” ujar Danu seolah bisa membaca raut wajah gembira bosnya. Borneo balas mengangguk, semangat layaknya anggukan polos anak kecil ketika menginginkan setangkai permen.

Danu sudah merapikan kertas itu berulang kali. Kertas yang memang sedikit karena tak ada pelanggan. Sedang Borneo mulai mengatuk-ngatukan jemari tangannya. Kaki kanannya goyang atas-bawah atas-bawah. Bahkan ia sudah mengisi kembali perutnya saat matahari setentangan kepala tadi. Namun kini, sampai saat matahari sudah mulai tergelincir ke barat, gadis yang ditunggu belum kunjung datang.

“Mungkin hari ini ia punya jam tambahan. Pelajar sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya belajar, Bos” Danu berujar pelan. Borneo mengangguk.

Bagi Borneo, gadis yang ia tunggu itu amat istimewa. Bukan, bukan berarti ia masih ingin beristri setelah istrinya meninggal saat umur mereka masuk kepala 5. Lebih tepatnya, Borneo terpana akan sinar milik mata sang gadis.

Apa kalian tahu? Jauh di masa depan, dimana seluruh akses komunikasi mudah, terlampau mudah, manusia mulai kehilangan makna dari komunikasi itu sendiri. Setiap hitungan kurang dari detik, mereka bisa saling berkirim pesan, berkirim suara, bahkan berkirim gambar dan video. Tak ada lagi pelajar yang berlinang air mata ketika menulis surat penuh mimpi bagi orang tua mereka di kampung. Begitu pula dengan orang tua mereka, sudah tak ada lagi debar cemas campur senang tiap mereka menanti surat dari perantauan. Muda-mudi juga sudah tak mengerti perasaan camur aduk ketika mengirim surat merah jambu pada pujaan hati mereka. Jauh dari itu, mereka kehilangan makna dari tuturan. Kata-kata yang mereka pilih mulai terang-terangan. Semuanya diucapkan blak-blakan. Bagi Borneo, dunia yang seperti ini amat menyebalkan. Namun gadis itu berbeda.

Gadis itu pertama memasuki kantor kecil Borneo tepat tanggal 7 saat penguhung musim hujan tahun lalu. Dengan langkah cepat dan tubuh agak basah ia memasuki kantor kecil Borneo. Awalnya Borneo dan Danu sama tak peduli, mungkin hanya numpang berteduh layaknya yang lain. Namun langkah gadis itu mantap menuju Danu yang menjaga meja Pos.

“Apa aku bisa menitipkan surat disini?” tanya gadis itu tampak malu-malu.

“Menitipkan?” ulang Danu tak mengerti. Borneo sudah sering menjelaskan bahwa Pos siap mengirimkan surat kemana saja. Mengirimkan, bukan menitipkan.

“Ya, apa aku bisa menitipkan surat disini?” tanya gadis itu lagi, terkesan memelas. Danu menatap Borneo meminta bantuan. Borneo berdiri dari duduknya, menghampiri Danu dan gadis itu.

“Apa maksudmu dengan menitipkan gadis kecil?” tanya Borneo. Gadis itu membalikkan badannya menghadap Borneo.

“Aku menitipkan surat disini, dan aku janji suatu hari akan ada yang menjemputnya” jawab gadis itu melihatkan sebuah surat berlampis amplop putih yang berwangi bak kesturi. Borneo menatap gadis itu lamat-lamat, ada keseriusan dimatanya.

“Baiklah” jawab Borneo akhirnya. Bagaimanapun juga gadis ini lah yang pertama kali menjadi pelanggannya sejak kantor kecilnya buka.

“Terimakasih” ujar gadis itu menyerahkan suratnya pada Borneo.

Lalu setiap tanggal kelipatan tujuh, gadis itu datang dengan mata antusias. Bertanya apakah sudah ada orang yang menjemput suratnya, maupun ia terus menolak tiap Borneo ataupun Danu menanyakan identitas penjemput surat. Tiap Danu atau Borneo menggelengkan kepala, gadis itu tampak kecewa. Namun langsung berubah seketika ia mengeluarkan surat baru, surat lain yang tia titipkan untuk dijemput oleh orang yang sama.

Dan kini, tanggal 21 di pertengahan musim kemarau. Sudah hampir setengah tahun gadis itu tetap menitipkan suratnya. Sudah ada lebih tiga tumpuk yang dijaga Borneo dan Danu baik-baik. Lama kelamaan kelipatan tanggal tujuh menjadi hari paling Borneo tunggu, detik yang paling Borneo nikmati adalah ketika melihat ekspresi penuh harapan sang gadis, dan surat berwangi kesturi adalah benda yang paling ia senangi. Sayang sampai batas waktu tutup kantor, gadis itu tak kunjung datang. Perkataan gadis itu seminggu silam kembali bertengger di pikiran Borneo.

“Pak, kalau minggu depan aku tak lagi datang, itu pertanda ia yang akan menjemput suratku lah yang akan datang” ujar sang gadis, saat itu Borneo mengangguk berat hati. Ia akan kehilangan pelanggan satu-satunya.

Tersadar dari lamunannya, Borneo akhirnya mengeluarkan kembali kunci kantor kecilnya. Ia harus realistis, sudah jamnya pulang. Ia juga tak boleh membiarkan Danu lembur. Namun Danu malah menahan tangan Borneo. “Hari masih tanggal dua puluh satu sampai jarum jam lewat dua belas Bos”. Borneo kembali duduk, sebagian hatinya berterimakasih pada Danu.

Tepat saat garis matahari mendekati horison, seorang lelaki tua bertongkat melangkah masuk. Tuanya bahkan lebih dari Borneo. Raut wajahnya terlihat menyenangkan, mungkin ia lelaki menawan sewaktu mudanya.

“Sudah lama aku mencari Pos yang masih buka di masa ini. Aku harap ia tak bosan menitipi suratku tiap kalinya. Apakah benar ada yang menitipiku surat disini?” tanya lelaki tua bertongkat, nadanya ramah.

“Memang ada yang menitipi surat pada kami, namun bisakah kau meyakinkan kami bahwa memang kau orang yang dituju si pengirim?” tanya Borneo sopan. Lelaki tua bertongkat itu tertawa ringan.

“Ia sudah mengatakannya sendiri padamu. Ia tak akan datang lagi seketika aku datang menjemput surat darinya, dan ia tak datang sampai detik ini bukan?” balasnya. Borneo tertegun. Ia mulai yakin lelaki tua bertongkat ini betul penerima yang dikenhendaki sang gadis.

Danu mengerti akan isyarat Borneo, ia segera mengambil tumpukan surat yang telah ia jaga baik-baik semenjak pertama kali dititipkan sang gadis. Lelaki tua bertongkat itu tampak tersenyum mafhum akan banyaknya surat yang ia terima. Diantara sela tawanya terselip rasa sayang yang dalam. Borneo baru kali itu melihat wajah sesendu itu. Bahagia, namun tetap dominan sendu.

“Terimakasih tuan. Aku amat senang bisa membaca surat dari kekasihku” ujar lelaki tua bertongkat itu berhanjak pergi, meninggalkan kerut kening Borneo dan Danu.

Danu meregangkan tangannya, iris matanya menangkap sehelai surat yang jatuh. Ia segera berlari memungut surat itu, keluar kios dan menyelidik sekitar. Lelaki tua bertongkat itu tak ada. Padahal Danu yakin akan langkah lambat dan lemah tua itu. Ia berbalik badan kembali memasuki toko. Tangannya seketika bergetar menyaksikan surat berketas putih yang telah menguning di tangannya, bertuliskan deretan angka puluhan tahun yang lalu, lengkap dengan gambar perangko masa itu. Danu menelan ludahnya pahit.

“Danu, kupikir kita harus segera menutup kantor kita ini” ujar Borneo mendahului Danu.

Tangan Borneo sama bergetarnya dengan tangan Danu. Jari telunjuknya bergetar menyisir kalender dinding. Coretan merah yang tiap hari ia kerjakan seolah raib. Seketika ia menghentikan matanya pada coretan merah terakhir, bisa ia dapati tepat tanggal 7 dipenghujung musim hujan, tahun lalu. Hari yang sama dengan pertamakalinya gadis itu kemari.[]

Matahari

Matahari adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek lulusan tahun ajaran 2016. Ia dilahirkan di Bukittinggi, 7 Maret 1998. Beberapa karyanya telah terbit di media cetak seperti koran Harian Rakyat Sumbar dan majalah Horison dan media elektronik seperti Suara Pelajar.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: