Surau nanko Virtual

Adalah surau, yang konon kisahnya merupakan tempat beribadah bagi  umat muslim. Sering ia disebut begitu Tuan, di beberapa nagari di Minangkabau dan semenanjung Malaya.  Ia hanyalah bangunan kecil saja. Jika Tuan pergi berpelesir ke negeri Minangkabau, tak syak lagi Tuan akan temui surau-surau yang dekat dengan mesjid besar. Ya, ia dekat dengan mesjid. Jikalau mesjid sering digunakan untuk sembahyang Jumat atau sembahyang Raya (‘Ied), tak sekalipun Tuan bakal jumpai surau dengan fungsi demikian. Meskipun fungsi aslinya sama, sebagai tempat beribadah, namun surau zaman dahulu acap juga dijadikan sebagai lembaga pendidikan masyarakat. Maka terkenallah beberapa surau dengan lembaga pendidikannya yang maju. Sebut saja surau Inyiak Parabek, surau Inyiak Jaho, surau Inyiak Djambek dan lainnya.

Bukan Cuma tempat sembahyang atau mangaji, Tuan, surau juga tempat kaum muda mencari kata mufakat, memulai kerjasama bisnis, belajar kitab kuning, belajar pencak silat, bahkan tempat tidur. Dahulu, aib bagi seorang pemuda di Minangkabau yang belum beiristri untuk tidur di rumah. Malu rasanya jika diolok-olok kawan sepermainan “masih manyusu ka induak”. Maka, jadilah surau juga berfungsi sebagai rumah kedua. Petang hari sudah keluar anak-anak muda itu dari rumahnya membawa kain sarung. Paginya baru pulang  untuk bersantap pagi. Lalu pergi lagi. Begitulah dahulu surau dengan segala fungsinya. Ia adalah tempat ibadah, ia juga tempat bermuamalah.

Jika Tuan pernah membaca gubahan A. A. Navis berjudul Robohnya Surau Kami, Tuan akan ingat menemukan sekelumit cerita tentang surau dan bagaimana nasibnya kini. Ya, hampir roboh surau-surau di Minangkabau itu Tuan. Sudah jarang anak muda yang tidur di surau. Jangankan lagi seperti surau Inyiak Parabek, pengajian-pengajian pun sudah mulai malu didengar. Orang lebih asik nongkrong di cafe, warung kopi, sambil menikmati dentuman musik dangdut galau namun berlatar disco. Entah apa saja kerjanya, namun itulah nan terjadi Tuan. Surau di Minangkabau kehilangan ruhnya.

Ibarat “mambangkik batang tarandam”, meresapi rasa akan pentingnya semangat kebersamaan dan rasa haus akan ilmu kaum muda  yang berbasis di surau tempo hari, maka dicobalah untuk berembuk bermufakat mendirikan sebuah surau. Sebuah surau virtual atau apalah namanya. Mengapa virtual? Ia tak berwujud fisik, Tuan. Ia tak punya dua pintu dan daun jendela. Ia tak butuh semen, pasir, kerikil apalagi beton. Ia adalah surau maya, surau yang ada dalam angan kesamaan ide, kesatuan tekad, diilhami dari fungsi surau dahulu sebagai tempat terjadinya segala mufakat, tempat berbaurnya anak muda, tempat bergumulnya ilmu pengetahuan, tempat mengaji dan mengkaji. Bedanya,tak ada sembahyang fardhu yang bisa dilaksanakan di surau ini, Tuan.

Tidaklah usah bermuluk-muluk menjadikan surau ini sebagaimana surau inyiak Parabek atau inyiak Djambek. Nanti dikira panjang angan-angan tak mengukur panjang bayang-bayang. Cukuplah dengan kehadiran surau secara virtual, mengobati kerinduan akan adanya sebuah sarana ilmu pengetahuan, sarana belajar dan mengaji, tempat bercerita dan bercengkrama. Tempat mengenang bernostalgia. Di dalamnya berkumpul anak muda yang progresif.  Darinya muncul ide-ide segar khas anak muda nan liar namun menggiurkan. Darinya juga muncul eksekutor-eksekutor nan cekatan namun tetap sopan dan beradat dalam bertindak.  Ah, sungguh indah membayangkan surau ini, jika dimanfaatkan untuk tujuan yang semestinya.

Kata orang bijak, mimpi memang harus mencapai bintang, namun kaki harus tetap menyentuh langit. Benarlah kiranya kata-kata itu, Tuan. Usahkan sampai terbuai mimpi dengan tegaknya surau virtual ini. Usahkan berkhayal tinggi-tinggi, banyak kerja menunggu di depan. Banyak soalan rumah yang mesti diselesaikan. Namun usah pula rendah hati. Anak muda punya beragam cara. “Tak kayu janjang dikapiang”. inyaAllah, “where  there is a will, there is a way”, begitu agaknya kata orang kampung kami.

 

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: