HomePojok MadrasahOpiniSurau Parabek, Literasi, dan Intelektualitas Kita?

Surau Parabek, Literasi, dan Intelektualitas Kita?

Opini Pojok Madrasah Refleksi 0 1 likes 67 views share

Februari ini menandai 2 tahun perjalanan Surau Parabek, dan sudah sejawarnya kita melakukan meluangkan waktu sedikit merenungi perjalanan kita dua tahun dan di tahun kedua ini. Wa-ltanẓur nafsun ma qaddamat lighad, seru al-Hasyar ayat 18. Hendaklah Surauparabek melihat apa yang telah berlalu, untuk menghadapi masa depan.

Surau Parabek bukanlah sebuah website (semata). Surau Parabek adalah sebuah cita-cita. Surau Parabek adalah sebuah gerakan. Ada begitu banyak bayangan masa depan yang hendak digapai. Tentu saja seribu langkah dimulai dari langkah pertama. Website ini hanyalah langkah pertama. Dan sejatinya kita telah menjalani langkah kedua, ketiga, dan seterusnya.

Surau Parabek adalah lautan ide. Ia berisi letupan-letupan ide yang sangat potensial untuk ditindaklanjuti. Tentu saja istilah ‘potensial’ masih terlalu ringan. Sejatinya, letupan-letupan ide tersebut harus ditindak lanjuti. Dari sekian ide tersebut, sebagiannya mewujud, sebagian lagi membentuk wacana, dan sebagian lainnya masih terabaikan. Kita masih menunggu kelanjutan info tentang Pojok Syaikh Ibrahim Musa yang ketika itu mulai dibicarakan secara lebih kongkrit oleh Kanda Khairul Ashdiq.

Surau Parabek juga telah mendapatkan status hukumnya sebagai yayasan, sudah berhak dan telah menerbitkan buku. Meskipun hingga saat ini buku Surau Parabek Menapak Sejarah masih belum terdistribusi secara baik. Itu adalah beberapa langkah terstruktur dan tidak terstruktur yang dijalani Surau Parabek. Tapi memang, langkah-langkah itu masih sangat seret.

Tapi, mari kita layangkan refleksi terhadap langkah yang paling kongkrit yang kita jalankan, yaitu ide pemberdayaan kebudayaan berliterasi.

Tahun kedua ini berat, lebih berat dari tahun pertama, bahkan mungkin, lebih berat dari bayangan Dilan tentang rindu. Indikatornya jelas; tulisan yang dimunculkan tahun ini jauh menurun dari segi kuantitas. Terhitung Februari 2017, hanya 61 tulisan yang termuat di Surau Parabek hingga saat sebelum tulisan ini. Itu hanya sekitar 40% dari kuantitas tulisan di tahun pertama. Penurunan yang sangat drastis. Ini rapor merah.

Tapi, masih ada yang bisa kita senyumkan. Meskipun secara kuantitas jauh menurun, secara kualitas tulisan-tulisan di Surau Parabek di tahun kedua ini cenderung mengalami peningkatan, baik dari segi teknis maupun isi. Peningkatannya mungkin tidak begitu signifikan jika diacu dari tulisan-tulisan yang telah ditampilkan. Tapi dari segi naskah mentah yang masuk ke meja editor, peningkatan tersebut terlihat jelas.

Surau Parabek juga masih bertahan dengan satu idealisme untuk tidak menjadi platform yang sekedar berburu traffic. Surau Parabek tidak mau jatuh menjadi platform klikbait. Surau Parabek tetap dengan jalurnya menghindari judul-judul bombastis yang tidak substansial demi meraup klik. Oke saja buat blog-blog pemburu traffic, tapi tidak untuk Surau Parabek, apalagi untuk web resmi sekolahan. Bahkan, indeks kunjungan menurun tidak merusak idealisme itu.

Baca juga:  Tuan Guru Bajang di Masjid Jami’ Parabek

Idealisme itu juga dijaga dengan menghindari repost konten-konten viral dari web lain, apalagi plagiasi. Lebih baik libur penayangan tulisan daripada mengambil konten dari web lain demi meningkatkan traffic website; secara transparan atau culas, sama saja. Surau Parabek hanya ingin menarik pembaca dari isi tulisan, bukan hal-hal artifisial dan semu di luar itu. Mengapa? Karena Surau Parabek adalah ide, bukan perburuan traffic.

Demikian tentang rapor Surau Parabek di tahun kedua. Tapi, rapor bukan segalanya. Evaluasi kita masih menyisakan beberapa poin refleksi lainnya.

Pertama, pengalaman dua tahun Surau Parabek memperlihatkan bahwa menulis dan literasi seharusnya bukanlah semangat, tugas, atau profesi, tetapi habit. Sebagai semangat, ia bersifat fluktuatif; kadang naik, kadang turun. Dalam konteks dunia pergerakan, yang lebih sering muncul justru naik sekali, turun, lalu tak pernah muncul lagi. Begitulah Surau Parabek. Ia adalah platform yang diniatkan sebagai sebuah gerakan. Dua model semangat itu ada di perjalanan Surau Parabek.

Kegiatan berliterasi sejatinya juga bukanlah tugas. Ia bukan paper kelas 6 sebagai yang telah dikembangkan dan dipertahankan di sekolah. Ia juga bukan tugas mata kuliah, skripsi, tesis, atau disertasi yang dipenuhi karena kewajiban tugas. Tentu saja semua itu melibatkan praktik membaca dan menulis, tapi berliterasi yang sejati melebihi ranah pertugasan itu.

Berliterasi juga bukan profesi. Ia tidak bermakna ‘menjadi penulis’ yang bekerja meniti karir dan menghidupi diri dan keluarga dengan menulis. Bukan semua itu! Berliterasi adalah menjadikannya sebagai habit; ia seperti bernafas, tak pernah putus hingga penghabisan. Apapun aktifitas dan kesibukan professional yang dijalani, kita tidak berhenti bernafas. Sejatinya, begitulah menulis jika telah menjadi habit.

Hal demikian tentu tidak bisa dilepaskan dari iklim literasi kita di Indonesia secara umum. Indeks baca dan literasi kita sangat rendah. Dari 61 negara yang diukur, Indonesia menempati urutan ke 60. Pelajaran bahasa Indonesia kita lebih banyak memperhatikan hal-hal kebahasaan yang teknis daripada membaca. Berapakah buku wajib baca yang ada di kurikulum pendidikan kita? Meskipun kita memiliki prestasi sebagai salah satu negara dengan intensitas tertinggi di media sosial berplatform tulisan (facebook, twitter), sayangnya hal ini tidak berbanding lurus dengan kualitas literasi kita.

Iklim Indonesia secara umum ini melayangkan kita kepada renungan kedua, yang lebih luas dari Surau Parabek, yaitu lingkungan Sumatera Thawalib Parabek secara umum. Iklim literasi seperti ini mengacungkan pertanyaan ke dalam: bagaimana dengan iklim kita di Sumatera Thawalib Parabek? Seberapa kuatkah intensitas kita dalam berliterasi. Karena Sumatera Thawalib Parabek adalah lembaga pendidikan yang mencita-citakan intelektualitas (lihat visi misi), maka salah satu jalan paling asasi untuk menjawab pertanyaan itu adalah dengan mengukur sejauh mana intelektualitas yang dikembangkan di Sumatera Thawalib Parabek.

Baca juga:  Tuan Guru Bajang di Masjid Jami’ Parabek

Mungkin tanpa perjelasan berbelit, kita bisa katakan tradisi intelektualitas di Sumatera Thawalib Parabek masih sangat rendah sekali.

Perlu digaris bawahi, bahwa tradisi intelektualitas perlu dibedakan dari tradisi pedagogis. Yang pertama adalah tradisi ‘ilmiyyah, sementara yang kedua adalah tradisi tarbiah.

Pedagogis adalah peristiwa pendidikan. Dalam hal ini, seorang aktor, guru, berbicara kepada murid. Apapun dan bagaimanapun cara kita menjelaskan ‘berbicara’—apakah transfer ilmu, menginspirasi, membuat peserta didik menjadi belajar, —atau bagaimanapun metode yang digunakan—baik MIS ataupun metode klassikal konvensional—poin paling utama dalam tradisi pedagogis adalah perbincangan antara guru dan murid. Oleh karena itu, penekanan utama di sini adalah memberikan dasar-dasar pengetahuan kepada murid sebagai bekal hidupnya kelak, yang dalam bahasa visi Sumatera Thawalib Parabek adalah sebagai kader ulama, umara, intelektual. Istilah ‘dasar-dasar pengetahuan’ perlu digarisbawahi di sini.

Sebaliknya, dunia intelektual bukanlah pembicaraan seorang aktor dengan para murid untuk memperkenalkan kepada mereka dasar-dasar pengetahuan. Kegiatan intelektual adalah seorang aktor berbicara kepada ilmu dan sejarah ilmu. Perbincangannya di sini bukan lagi tentang dasar-dasar pengetahuan, tetapi pengetahuan dalam nuansa kedalaman.

Ambil satu contoh dalam disiplin fiqh, perbincangan intelektual adalah perbincangannya dengan Imam al-Syafi’i dan semua tulisan-tulisan Imam al-Syafi’i. Bukan hanya itu, perbincangannya juga harus mencakup semua orang lain yang membaca dan berbicara dengan Imam al-Syafi’i di dunia ini. Bukan hanya membaca, mengetahui, dan memahami peninggalan keilmuan Imam al-Syafi’i, ia juga harus membaca, mengetahui, dan memahami orang-orang lain yang juga membaca, dan memahami karya beliau. Lebih lanjut, ia juga harus menghadirkan sesuatu—produk ilmu—yang dengan itu para pembaca Imam Syafi’i lain bisa berdialog dengannya. Tentu saja ini harus mewujud dalam sebuah buku. Tidak ada aktifitas intelektualitas yang tidak berdiri di atas sebuah karya.

Jika tradisi tarbiah/pedagogis membutuhkan media berupa kelas, materi ajar, meja, papan tulis, dsb, tradisi intelektual membutuhkan pena dan kertas, atau alat tulis lainnya, buku, dan uzlah. Jika tradisi tarbiah outputnya adalah siswa yang cakap, tradisi intelektual ini outputnya adalah sebuah produk ilmu. Jika dalam tradisi tarbiah seorang murid bertanya kepada seseorang, dalam tradisi intelektual, seorang intelektual lain membaca, memahami, dan menanggapi karya seseorang.

Dalam dua model ini, dimanakah Sumatera Thawalib Parabek? Terkait tradisi pertama, tentu kiprah Sumatera Thawalib Parabek tidak bisa diragukan lagi. Tapi bagaimana dengan tradisi kedua? Satu hal yang pasti, terkait tradisi kedua ini bukanlah ekspektasi yang diarahkan kepada para murid, melainkan para guru. Sejauh apakah aktifitas intelektual para guru? Ma’had Aly, bagaimana?[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *