Surau Parabek Sebagai Penjaga Cultural Heritage

Syekh Ibrahim Musa, dilahirkan di salah satu desa dekat Kota Bukittinggi pada 12 Syawal 1301 H bertepatan dengan 15 Agustus 1884. Beliau adalah putra tunggal pasangan Musa bin Abdul Malik, atau lebih dikenal dengan Inyiak Gaek, dan ibu Maryam Ureh yang secara genetik berasal dari suku Pisang. Syekh Ibrahim Musa, putra dari bernama lengkap Muhammad Musa bin Abdul Malik al-Qarthawiy yang juga merupakan ulama yang amat terkenal di kampung halamannya, yaitu Karatau yang terletak lebih kurang 1 km dari Desa Parabek.

Sejauh ini paling tidak ada dua jenis bentuk informasi mengenai Syekh Ibrahim Musa. Yang pertama adalah tulisan-tulisan akademis. Ada beberapa penulis yang pernah mengulas tentang Syekh Ibrahim Musa dan Sumatera Thawalib. Subhan Afifi dengan bukunya Syekh Ibrahim Musa: Inspirator Kebangkitan merupakan biografi ekstensif tentang sosok Syekh Ibrahim Musa dan Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Burhanuddin Daya membahas dalam konteks yang lebih luas, yaitu Sumatera Thawalib dalam konteks pergolakan pemikiran Islam di awal abad 20 dimana Inyiak Parabek dan Madrasah Sumatera Thawalib Parabek merupakan salah satu bagian penting. Abuddin Nata dengan Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia dan Badiatul Roziqin dengan 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia menyajikan biografi sederhana. Dari pihak orang dalam, dalam arti orang-orang yang merupakan bagian dari keluarga besar Sumatera Thawalib Parabek juga muncul beberapa tulisan seperti oleh Jayusman Djusar, Khairul Ashdiq, dan Zaim Rais.

Informasi kedua bersifat oral yang diceritakan dari mulut ke mulut secara turun temurun. Cerita demi cerita mungkin kadang diperdengarkan. Syekh Ibrahim Musa dulu adalah kyai kondang di Parabek. Pengajian-pengajian yang digelar selalu ramai didatangi orang dari seluruh penjuru. Namun, keterangan kapan hari rutin pengajian beliau tidak ada yang bisa menjelaskan. Begitupun dengan isi pengajian yang disampaikan, tak ada yang menuliskan. Informasi-informasi yang bahkan sangat sederhana semacam itu sangat  mungkin diremehkan begitu saja tanpa disadari arti pentingnya sebagai sebuah strategi untuk menjaga ingatan tentang sebuah tokoh besar.

Tidak jarang, cerita-cerita oral ini bernuansa mistik, atau yang dalam tradisi Islam disebut sebagai karāmah atau ma`unah yang dikaruniakan kepada hamba istimewa. Umpamanya, suatu ketika Syekh Ibrahim Musa pernah dijadikan sebagai sasaran percobaan guna-guna. Dicoba berulang kali oleh sang dukun, tapi tidak pernah berhasil. Ia kemudian penasaran, datang ke Parabek, hendak melihat siapa sebenarnya Syekh Ibrahim Musa. Sesampai di Parabek, ia menanya seseorang, dimana ia bisa menemui Syekh Ibrahim Musa, tanpa dia sadari bahwa yang ia tanya adalah beliau sendiri.

Cerita-cerita yang bertentangan dengan data sejarah juga berkembang. Diceritakan bahwa suatu ketika Syekh Ibrahim Musa pernah mancilam. Konon, semenjak saat itu beliau hilang dari kampung dan beberapa tahun kemudian kembali ke kampung dengan keterangan bahwa beliau telah pergi ke Makkah untuk mengaji. Informasi historis yang tertulis, jelas keberangkatan beliau ke Makkah baik yang pertama maupun yang kedua tidak sedemikian.

Perjuangan Syekh Ibrahim Musa dalam mendirikan sebuah pondok pesantren sungguh tidak mudah. Jika dibayangkan perjuangan beliau untuk mendirikan sebuah perguruan Islam tentu tak semudah sekarang. Hambatan demi hambatan ditempuh hingga akhirnya terbayar dengan semakin kokohnya Muzakaratul Ikhwan setelah bermetamorfosis menjadi Sumatera Thawalib Parabek. Sungguhpun telah ada tulisan-tulisan maupun rekaman verbal tentang kisah hidup dan peran beliau dalam dunia pendidikan di Sumatera Barat, masih sangat banyak yang belum kita ketahui tentang beliau.

Salah satu yang paling penting adalah seputar kepengarangan beliau. Subhan Afifi menyebut setidaknya Syekh Ibrahim Musa memiliki tujuh bahkan lebih karya tulis. Diantaranya Izhar Zughal Al-Kazibin yang merupakan kitab yang membahas tentang tarekat; Al-Da’i Al-Masawi fi Al-Radd ‘ala yuwaritsu; Ikhwan Al-Aulad Al-Akhwat ma’a Wujud Al-Ushul wa Al-Furu’, kitab yang membahas tentang waris, Daww Al-Siraj, kitab yang mengupas peristiwa Isra’ Mi’raj; Al-Riyadh Al-Wardiyah, kitab yang membahas tentang ushul; Al-Manhaj Al-Masyru’, Al-nafahat kitab yang membahas fikih, dan lain sebagainya. Semua judul tersebut tidak ditemukan lagi wujudnya saat ini, kecuali Hidāyat al-ibyān dan Ijābat al-Sul yang masih tersimpan, namun dalam kondisi memprihatinkan.

Ini merupakan sebuah kenyataan pahit. Semestinya, wujud fisik dari buku-buku karangan Syekh Ibrahim Musa harus dijaga. Bukan hanya itu, buku-buku tersebut juga seharusnya telah diteliti dan dipelajari secara ekstensif. Sebagai tokoh yang berpengaruh, dan lembaga pendidikan yang juga berpengaruh, buku-buku tersebut semestinya menjadi warisan intelektual yang sangat berharga. Tanpa dilakukan penelitian yang layak, tanpa dijelaskan peran dan fungsinya dalam konteks perkembangan pemikiran Islam di Minangkabau khususnya dan di bumi Nusantara (atau juga disebut wilayah jāwi dalam konteks jaringan intelektual Islam wilayah Asia Tenggara), keberhargaan warisan-warisan tersebut menjadi hilang.

Surau Parabek sebagai Sumatera Thawalib Corner

Inilah yang tidak bosan-bosannya disuarakan oleh Surau Parabek. Beberapa artikel dalam website surauparabek.com yang juga diterbitkan dalam buku ini menyuarakan kesadaran sejarah. Sumatera Thawalib Parabek tidak boleh melupakan sejarahnya. Sejarah bukan hanya dalam konteks narasi dan kronologi perjuangan Syekh Ibrahim Musa dalam perjuangannya, melainkan juga artefak-artefak historis yang wujud hingga aspek pemikiran yang beliau wariskan dalam buku-buku beliau.

Surau Parabek menyuarakan bahwa Sumatera Thawalib Parabek adalah aktor utama yang bertanggung jawab penuh untuk menjaga warisan sejarah tersebut. Dalam hal ini, Surau Parabek berupaya mulai dari mengumpulkan informasi-informasi terkait Syekh Ibrahim Musa. Bukan hanya Syekh Ibrahim Musa, informasi-informasi seputar figur-figur penting lainnya dalam derap langkah Sumatera Thawalib Parabek juga harus dilestarikan. Ada yang tahu bagaimanakah pertalian Syaikhul Madrasah semenjak Syekh Ibrahim Musa hingga Buya Deswandi dan Inyiak Masrur Syahar saat ini?

Corner yang berarti pojok. Pojok Syekh Ibrahim Musa ini nantinya akan berisi semua kajian, tulisan, foto, karya, bahkan setiap saksi bisu yang menemani perjuangan Syekh Ibrahim Musa semasa hidupnya. Kajian dan tulisan yang dimaksud tidak tertutup pada karya yang dituliskan oleh santri, alumni, masyarakat Parabek saja. Namun, kajian dan tulisan ini mencakup kepada semua coretan yang menjelaskan napak tilas beliau. Begitu juga dengan foto. Tercatat dari tahun 2002 atau 2003 atau bahkan jauh sebelumnya, foto Syekh Ibrahim Musa adalah foto beliau dalam keadaan berdiri, miring ke kiri dengan tangan kanan memegang tongkat kayu. Syekh Ibrahim Musa ini nantinya memungkinkan untuk menyimpan bahkan men-display foto Syekh Ibrahim Musa atau keadaan Parabek masa itu.

Yang terpenting di atas itu semua tentu saja karya tulis beliau. Sebagaimana yang telah disebutkan Subhan Afifi bahwa setidaknya terdapat tujuh bahkan lebih karya dari Syekh Ibrahim Musa. Namun, yang menjadi pertanyaannya adalah dimana keberadaan kitab-kitab karya beliau ini? Bagaimana pemeliharaannya?

Kitab-kitab karya Syekh Ibrahim Musa ini seharunya dipelihara sebagaimana mestinya sehingga dapat dimanfaatkan dan dibaca isi kandungan di dalamnya. Pemeliharaan kitab-kitab ini bisa dilakukan dengan menduplikatnya dengan tanpa mengopi kitab tersebut. Maksudnya adalah pemeliharaan dapat dilakukan dengan mengetik ulang sebagai proses digitalisasi. Hal ini dilakukan karena kertas yang digunakan Syekh Ibrahim Musa tersebut diprediksi sudah berumur puluhan tahun sehingga kertas tersebut sudah rapuh. Sebagai bukti sejarah, kitab-kitab tersebut setelah di diketik ulang dapat dipamerkan dengan lemari display khusus dan menghindarinya dengan sengatan matahari langsung. Itu baru satu, Syekh Ibrahim Musa sendiri. Hal serupa juga harus dilakukan bagi figur-figur penting lainnya. Dengan itu semua, barulah warisan-warisan kultural Sumatera Thawalib Parabek terjaga dengan baik.[]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: