Syaikh Ibrahim Musa Parabek: Ulama Pembaharu yang Moderat

 

(Ditulis dalam peringatan 1 Abad Madrasah Sumatera Thawalib Parabek 2010, Ismail Novel Blog)

Syech Ibrahim Musa Parabek atau yang biasa disebut dengan Inyiak Parabek, merupakan salah seorang ulama pembaru yang cukup berpengaruh di Minangkabau. Beliau menurut versi Dt. Marajo, sebagaimana dikutip oleh M. Ilham, adalah salah seorang ulama kaum muda yang disebut sebagai “Harimau nan Salapan”. Selain beliau terdapat nama-nama DR.Haji Abdul Karim Amrullah (Iyiak DeEr), DR.H. Abdullah Ahmad, Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Muhammad Thaib Umar, Syekh Daud Rasyidi, Syekh Abbas Abdullah Padang Japang, dan Syekh Mustafa Abdullah Padang Japang.

Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek pada hari Ahad 12 Syawal 1301 H., yang bertepatan dengan tahun Miladiah 1882 M. Pada masa kecil diberi nama oleh orang tuanya dengan Luthan. Beliau merupakan keturunan hartawan dan dikenal sebagai keluarga yang taat menjalankan syari’at Islam. Ayahnya, Musa bin Abdul Malik Al­-Qarthawi seorang ulama yang cukup dikenal dan sangat dihormati masyarakat di Parabek. Ayahnya berasal dari suku Jambak sedangkan ibunya, Ureh, berasal dari suku Pisang. Ibrahim Musa memiliki satu orang adik perempuan bernama Kamariah dan seorang kakak bernama Abdul Malik. Ibrahim Musa Parabek atau “Luthan Kecil” mempunyai karakter yang lemah lembut, konsisten dan tidak mudah dipengaruhi oleh siapa pun, penuh pertimbangan, dan tidak mau memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa.

Sebagai tokoh ulama pembaruan Islam, selain memiliki gagasan dan pemikiran baru tentang Islam, beliau memiliki lembaga pendidikan tempat dimana ia bisa menyampaikan gagasan-gagasan pembaruannya. Dalam aspek pembaruan pemikiran, dijumpai salah satu pemikirannya yang cukup penting yakni ijtihad. Dalam bidang ini, beliau terkenal sangat ‘alim. Ia dikenal sebagai seorang ulama ahli ushul fiqh (metodologi hukum Islam) dan pernah menulis sebuah buku yang berjudul Ijabah al-sul. Ijabah al-Sul, Dicetak pada tahun 1934 oleh percetakan Badezt di Padang Panjang. Buku ini merupakan syarah (penjelasan) kitab Usul al-Ma’mul, karangan M. Shiddiq Hasan Khan Bahadir, kitab Ushul Fiqh yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi sehingga untuk memahaminya diperlukan pengetahuan ushul fiqh yang baik.

Sebagai seorang yang ‘alim, beliau sangat mengerti bagaimana artinya sebuah ijtihad. Berkenaan dengan ini, ada ungkapan yang sangat popular yang pernah ia ucapkan, “matangkanlah satu-satu, lalu ambillah yang lain untuk jadi perbandingan dan jangan menutup diri pada satu mazhab saja”. Dari ungkapannya ini dapat dipahami bahwa Inyiak Parabek menginginkan murid-muridnya menguasai suatu mazhab terlebih dahulu (dalam hal ini mazhab Syafi’i yang merupakan mazhab yang dianut oleh mayoritas muslim di Indonesia) sebagai pemahaman dasar bagi mereka tentang suatu masalah, selanjutnya mempelajari mazhab-bazhab yang lain guna memahami dan membandingkan mana yang lebih kuat dalil dan alasannya.

Sebagai upaya untuk mencapainya, pada tingkat awal dari majlis pengajian yang diadakan di suraunya, Surau Parabek, beliau hanya mengajarkan fiqh mazhab syafi’i. Kemudian, pada tingkat lanjut baru beliau ajarkan fiqh mazhab-mazhab lain. Sistem pengajaran fiqh yang semacam ini, tampaknya tetap berlaku pada Madrasah Sumatera Thawalib Parabek sampai sekarang. Di sinilah barangkali kita bisa melihat betapa Inyiak Parabek sangat moderat dalam pemikirannya. Ia tidak membatasi diri dan murid-muridnya untuk hanya mengenal satu mazhab fiqh tertentu saja, melainkan membuka diri untuk mengenal dan memperkenalkan mazhab-mazhab lain kepada murid-muridnya. Kitab-kitab fiqh mazhab Syafi’i yang diajarkan itu adalah kitab Matan Taqrib, Fath al-Qarib karangan Ibn Qayim (w. 918 H), I’anah ath-Thalibin karangan ad-Dimyati (w. 130 H), dan Mazhab karangan al-Firuzabadi (w. 476 H) dan kitab fiqh perbandingan yang dipakai adalah kitab Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid karangan Ibn Rusyd (w. 595 H).
Dalam pengamalan keagamaannya, Inyiak Parabek juga memperlihatkan keluasan pandangannya. Misalnya dalam masalah qunut, menurutnya boleh diamalkan dan boleh juga tidak diamalkan. Karena, Rasulullah pun kadang-kadang mengerjakan qunut dan kadang-kadang tidak.

Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya, selain memiliki ide-ide pembaruan, Inyiak Parabek juga memiliki sebuah lembaga pendidikan yang bernama Sumatera Thawalib Parabek. Lembaga pendidikan ini, telah dimulai oleh Inyiak Parabek tahun 1910 M, yakni ketika ia kembali dari Mekah untuk pertama kali. Hanya saja pendidikan tersebut belum dalam bentuk klasikal, melainkan dalam bentuk halaqah di Parabek.

Pada tahun 1914 beliau pergi ke Mekah kali yang kedua untuk menambah Ilmunya bersama istri beliu Syarifah Ghani dan anak beliau Thaher Ibrahim. Beliau pulang ke Bukittinggi tahun 1916. Sementara kepergian beliau ke Mekah selama dua tahun itu, beliau mempercayakan pengajian di Parabek kepada murid – murid beliau. Pada tahun 1918 beliau menyatukan murid – muridnya itu dalam satu organisasi diberi nama Muzakaratul Ikhwan dan terakhir diberi nama Jamiatul Ikhwan. Akhirnya pada tahun dua puluhan, bersama sama dengan Dr. Syekh H. Abdul Karim Amarullah ( Inyiak De-er ), beliau sepakat mendirikan Sumatera Thawalib. Di Padang Panjang didirikan oleh Inyiak De-er, sedangkan di Parabek didirikan oleh beliau sendiri dan diubahlah organisasi pelajar Jamiatul Ikhwan menjadi Sumatera Thawalib.

Berdirinya lembaga pendidikan Sumatera Thawalib Parabek ini bertujuan untuk meningkatkan kreatifitas pelajar. Untuk itu, Syekh Ibrahim Musa Parabek membuka sistem muzakarah atau diskusi secara sistematis agar murid kelak mampu hidup mandiri dan mampu untuk secara dinamis mengeluarkan pendapat dengan disertai argumen yang argumentatif. Sistem ini merupakan sistem “yang mendahului zaman” ketika itu. Sistem konvensional atau konservatif yang menekankan belajar satu arah, oleh Syekh Ibrahim Musa Parabek diberi improvisasi dengan sistem muzakarah di atas.
Disamping itu, Syekh Ibrahim Musa Parabek juga mentradisikan latihan olah raga, mengajar murid-murid dalam manajemen dan kewiraswastaan melalui koperasi dan membuat perpustakaan untuk mengkondisikan agar murid-murid rajin membaca. Untuk memperkuat kemampuan argumentasi murid lembaga Sumatera Thawalib Parabek ini, Syekh Ibrahim Musa Parabek juga membuka debating club, sebagai wahana murid-murid memberikan apresiasi terhadap perbedaan-perbedaan pendapat. Kemudian Syekh Ibrahim Musa Parabek juga meningkatkan pengembangan potensi para murid Sumatera Thawalib Parabek di bidang estetika dengan membentuk grup fonil atau sandiwara.

Syekh Ibrahim Musa Parabek juga menanamkan kepada murid-­muridnya untuk tidak taqlid pada satu mazhab saja. Tidak menganggap sebuah perspektif sebagai perspektif yang paling benar. Syekh Ibrahim Musa Parabek mengajarkan kepada murid-muridnya untuk tidak memakai “kaca mata kuda”. Dalam setiap kesempatan, Syekh Ibrahim Musa Parabek selalu mengatakan “ambillah yang lain sebagai studi perbandingan”. Ini tersirat sebuah anjuran bahwa pendapat yang kita miliki harus kita pertahankan secara argumentatif, sedangkan pendapat lain tidak harus kita mentahkan, akan tetapi harus kita jadikan sebagai perbandingan karena dari pendapat tersebut kita bisa belajar tentang kelebihan dan kekuranagan pendapat kita, demikian kata Syekh Ibrahim Musa Parabek.

Dalam proses pendidikan di Sumatera Thawalib Parabek, Syekh Ibrahim Musa Parabek langsung mengontrol perkembangan lembaga pendidikan ini. Ia berkeinginan agar para murid-muridnya serius dalam mengikuti pelajaran, oleh karena itu secara kelembagaan, lembaga pendidikan Sumatera Thawalib harus “serius” pula dalam mengelola lembaga ini. Secara kuantitas, lembaga pendidikan Sumatera Thawalib tidak disangsikan lagi. Banyak murid-murid yang berdatangan ke Parabek untuk menuntut ilmu. Ketenangan dan keterkenalan ilmu dan pribadi Syekh Ibrahim Musa Parabek menjadi faktor yang sangat signifikan dalam menarik para murid-murid untuk belajar di lembaga ini. Secara kualitas, Sumatera Thawalib Parabekpun cukup baik. Hal ini terlihat dari output lembaga pendidikan ini yang mampu melahirkan ulama-ulama besar seperti Prof.DR. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), Mantan Ketua MUI dan ulama besar Indonesia, Mansoer Daud Dt. Palimo Kayo (Mantan Ketua MUI Sumatera Barat), Tamar Jaya (Pengarang religius terkenal), HM. Yunan Nasution (Tokoh Muhammadiyah, Muballigh Nasional clan mantan Ketua Majelis Dakwah Islamiyah), Adam Malik (Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia) dan banyak lagi tamatan dari Sumatera Thawalib Parabek yang “menjadi orang”, minimal di kampung halaman mereka. Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam, Sumatera Thawalib Parabek berusaha untuk cenderung beradaptasi dengan perkembangan zaman selagi tidak mencabut substansi dan filosofi lembaga tersebut. Dalam perjalanannya, lembaga Sumatera Thawalib Parabek telah mengalami berbagai perubahan dan adaptasi sistem pendidikan. Tujuan dari adaptasi dan perubahan sistem pendidikan ini adalah agar output lembaga ini mampu beradaptasi dengan kebutuhan dan tantangan dari lingkungan dan zamannya.

Terhitung sejak dimulainya pendidikan dengan sistem halaqah di Parabek pada tahun 1910 M, Sumatera Thawalib Parabek sekarang sudah genap berusia 100 tahun. Sentuhan lembut “Sang Alim Besar, Sjech Ibrahim Musa Parabek, dan ketulusan hati guru-guru sebagai pewaris beliau tampaknya menjadi penentu bagi eksistensi Parabek sampai saat ini. Begitu juga tangan-tangan dingin dari pengurus yayasan Sjech Ibrahim Musa Parabek beserta pimpinan pondok, menjadi factor penting pula bagi peneguhan eksistensi Sumatera Thawalib Parabek sampai saat ini.[]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: