Syaikhul Madrasah: Buya Deswandi

Buya Deswandi lahir pada tanggal 27 Mei 1964 di Bukittinggi. Beliau adalah putra tunggal dari ayahanda Harmaini dan ibunda Mardiyah. Ia bersuku Simabua Parabek. Sejak kecil, ia belajar Al-Quran di bawah bimbingan ayahnya. Menginjak usia remaja, sebagaimana remaja Minangkabau lainnya pada masa itu, ia tinggal di surau. Di surau, ia mengaji dan menimba berbagai macam ilmu yang kemudian menambah pengalaman dan memperluas wawasannya.

Pada usia 12 tahun, tepatnya tahun 1976, ia memulai pengembaraan intelektual baru di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek. Selama enam tahun, hingga tahun 1982, ia belajar dan ber-tafaqquh fi al-dīn sebagaimana yang dicita-citakan oleh Syekh Ibrahim Musa. Selama belajar di Sumatera Thawalib Parabek, ia belajar kepada Syekh H. Muchtar Said, Syekh H. Imam Suar, Syekh H. Abdul Ghaffar, Syekh H. Syahruddin Abbas, Syekh H. Ibrahim Djalil dan Syekh H. Khatib Muzakkir.

Dalam enam tahun pendidikan di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, beliau telah mendalami ilmu Manthiq, Balaghah, Nahwu, Sharf, Tasawuf dan Fiqh. Pada awal-awal masa studinya, ia telah hafal kitab fiqh Matan Taqrib.

Selepas lulus dari Sumatera Thawalib Parabek, Buya Deswandi melanjutkan perkuliahan Fakultas Syari`ah Bukittinggi IAIN Imam Bonjol yang saat ini berubah menjadi IAIN M. Djamil Djambek Bukittinggi. Akan tetapi, ia tidak puas dengan pendidikan kampus saja. Oleh sebab itu, selain aktivitas perkuliahan, ia juga mengikuti takhassus Ushul Fiqh rutin bersama Inyiak Mukhtar Said.

Pengabdian intelektualnya di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek dimulai pada tahun 1987. Angka 30 merupakan bilangan masa abdinya di sekolah ini hingga saat ini. Pulang ke almamater yang ia cintai, ia telah mengampu sejumlah disiplin ilmu, seperti ilmu Manthiq, Balaghah, Nahwu, Sharf, Tarikh, Fiqh, Tasawuf, dan Kalam.

Di masa kepengurusan Yayasan Syekh Ibrahim Musa (YASIM) periode H. Achyarli Abdul Djalil pada tahun 1998, Buya Deswandi diangkat menjadi sekretaris yayasan. Setahun setelah itu, beliau diamanahkan dan diangkat menjadi kepala sekolah tingkat Aliyah hingga tahun 2007.

Pada tanggal 8 Juli 2007, struktur organisasi kepengurusan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek dirombak. Ketika itu diperkenalkan struktur Pimpinan Pondok. Ketika itu, Inyiak Khatib Muzakkir yang memegang jabatan tertinggi di lingkungan pondok pesantren ini. Ketika itu, Buya Deswandi menjadi wakil pimpinan pondok. Jabatan sebagai Kepala Sekolah Aliyah yang ia tinggalkan digantikan oleh Ustaz Drs. H. Zulfahmi.

Buya Deswandi telah menjadikan Pondok Pesantren Sumatera Thawalib sebagai nafas hidupnya. Di sana pula lah ia menemukan tambatan hatinya, yang kemudian ia nikahi, Ustazah Elfera. Saat ini, ia telah dikaruniai tiga orang anak, Qurratul `Ainii, Ibadurrahman, dan `Abid al-Faraby.

 

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: