Syair Kebakaran Sumatera Thawalib Parabek

Syaikh Ibrahim Musa membangun Sumatera Thawalib Parabek dengan semangat perjuangan dan konsistensi. Bukan sekedar konsistensi, tetapi konsistensi yang tahan banting. Bisa dihitung berapa rintangan besar yang beliau hadapi semenjak tahun 1910 hingga akhir hayatnya: tensi antara ulama kaum muda dan kaum tua, kolonialisme Belanda, kolonialisme Jepang, PRRI, dan sejumlah bencana alam.

Pada tahun 1926, gempa bumi meluluhlantakkan Sumatera Thawalib Parabek. Setiap bangunan runtuh, kecuali masjid Jami`. Meskipun demikian, hanya delapan hari berselang, beliau berdiri kembali melanjutkan kegiatan belajar mengajar. Pada tahun 1937, giliran kebakaran besar yang menghadang. Beliau bangkit lagi. Lima tahun berselang, kebakaran sekali lagi merintangi.

Rekaman peristiwa kebakaran tahun 1937 salah satunya bisa kita lihat dalam gubahan syair “Moesnahnja S. Thawalib Dimakan Api Pada Petang Ahad Malam Senin” yang diterbitkan dan didistribusikan sebagai salah satu upaya fund-raising. Syair ini cukup detail menceritakan kejadian-kejadian pada bencana tersebut. Penggubah juga menyebutkan bahwa rumah Syaikh Ibrahim Musa dan Masjid Jami` selamat dari bencana besar itu.

Berikut kami tulis ulang syair tersebut apa adanya:

 

Moesnahnja S. Thawalib Dimakan Api Pada Petang Ahad Malam Senin

13-14 Sja`ban 1356 / 17-18 October 1937

 

Sebagai pembatja soedah mema`aloemi

Diachir tahoen oedjian berdiri

Oentoek naik kekelas tinggi

Begitoelah poela ditahoen ini (1936)

 

Tetapi wahai pembatja boediman

Ditahoen ini diboelan Sja`ban

Tinggal sehari lagi oedjian

Dimalam itoe terdjadi kebakaran

 

Malam ketiga belas ketika itoe

Kira2 poekoel setengah doea belas, soedahlah tentu

imtihan[1] jang achir paginja berlakoe

Taboeh berbunji bertaloe taloe

 

Pekik manoesia amat hebatnja

Kaoem iboe meretap dengan derasnja

Anakkoe! Anakkoe boenji tangisnja

Sambil memekik api katanja

 

Sebentar kedengaran soeara jang lantang

Dengan boenjinja api lah gadang

Negeri Parabek soedahlah terang

Karena tjahaja api jang garang

 

Sumatra Thawalib dikeloeboenginja

Dengan girang api memakannja

Semendjak kelas satoe sampai ketoedjoehnja

Moelai dari internaat doea tingkatnja

 

Banjak moerid diam disitoe

Lebih koerang Sembilan poloeh satoe

Mereka bekerdja satoe persatoe

Tetapi setengahnja masih beradoe[2]

 

Banjak moerid hampir tjelaka

Melarikan barang teroetama djiwa

Setengah melompat dari djendela

Karena takoet dapat bahaja

 

Banjak barang dimakan api

Boekoe dan kitab berkodi-kodi

Kain dan badju berpeti-peti

Sepeda, oeang, tjintjin, arlodji

 

Begitoe poela perkakas sekolah

Tiada tinggal barang sebilah

Semoeanya itoe habislah moesnah

Keroegian kira2 doea belas riboe roepiah

 

Tetapi Alhamdoeli lah kita oetjapkan

Kehadrat Allah kita poehoenkan

Majid raja Toehan peliharakan

Tidak toeroet mendjadi korban

 

Kiranja mesdjid toeroet terbakar

Barangkali tak dapat lagi ditoekar

Karena kerdjanja soelit dan soekar

Bahkan toekangnja djarang jang pintar

 

Begitoe poela kita iringi

Mengoetjap sjoekoer kepada Ilahi

Roemah Beliau[3] Toehan djagai

Tiada djadi dimakan api

 

Bermatjam moerid kena bahaja

Ada jang pingsan setengahnja loeka

Mengeloearkan auto dari kandangnja

Keroemah sakit teroes dibawa

 

Sebabnja pingsan soedahlah tentoe

Mengeloearkan auto dengan terboeroe

Karena kandangnja didekat itoe

Bahkan api soedah menjerboe

 

Kalau diriwajatkan serba pandjang

Tentoe pembatja akan tertjengang

Merasa sedih hati dan toelang

Mengenang nasib moerid jang malang

 

Sewaktoe api hampirlah rada

Baroelah pompa datang ke sana

Sesoedah diberi tahoekan dengan segera

Oleh seorang moerid jang setia[4]

 

Sekalipun pompa telat datangnja

Riboean terima kasih djuga kepadanja

Karena boekan sebab lengahnja

Konon kabarnja sesat djalannja

 

Setelah hari beroepa pagi

Dikoempoelkan barang disana sini

Ada jang hilang diambil pentjoeri

Karena koerang pendjagaän dimalam tadi

 

Kaoem Moeslimin banjak jang datang

Ketempat itoe ketjil dan gadang

Serta berderma beras dan oeang

Sama2 soeka boeat menoendjang

 

Dihari itoe Comite berdiri

Oentoek meoeroes pekerdjaan ini

Memoengoet derma disana sini

Agar sekolah lekas terganti

 

Kepada Tuhan kita berdo`a

Kerdja beliau lekas hasilnja

Dipimpin Ilahi sampai achirnja

Djadi `amal salèh kemoedian harinja

 

Sekarang lagi kami berseroe

Kepada Moeslimin segenap pendjoeroe

Soedi menolong serta membantoe

Soepaja sekolah itoe teroes dan madjoe

 

Memang Moe`min `ibarat toeboeh

Kaki sakit semoea mengeloeh

Tangan mengobat dengan bersoenggoeh

Agar penjakit lekaslah semboeh

 

Selandjoetnja Qoerän djoega menjeroe

Soepaja Moeslimin bantoe membantoe

Batjalah ajat ta`awanoe

Begitoe djoega ajat wa`tashimoe

 

Sekarang wahai iboe dan bapa

Karib kirabat serta soedara

Tolonglah dengan barang kadarnja

Balasnja nanti berlipat ganda

 

Lebih2 lagi kaoem saoedagar

Soedi menolong barang sekadar

Meoendjang sekolah jang soedah terbakar

Igama Allah moesti dipagar

 

Riwajat ini saja simpankan

Sekian hanja saja ma`loemkan

Kepada wahai pembatja semoea ichwan

Mana jang djanggal harap ma`afkan

 

Karena waktoe menjoesoen berita ini

Hatikoe sedih boekan terperi

Meingatkan sekolah jang sangat berbakti

Hantjoer leboer dimakan api

 

Itoelah poela sebab gerangan

Dengan sja`ir kebakaran, saja namakan

Karena sedih tak terperikan

Moga2 lekas diboedjoek Toehan

 

Hormat penioesoen

Ahlan Nasir

Air Bangis

Peladjar S. Thawalib Boekit Tinggi

Parabék 18 Sja`ban 1356-23 October 1937

 

[1] Imtihan = oedjian

[2] beradoe=tidoer

[3] Ibrahim bin Moesa

[4] Kamaroeddin El Kisai kl VI A

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: