Syekh Ibrahim Moesa: Sudahkah Kita Mengenalnya?

Beberapa kali surauparabek.com menampilkan tulisan yang mengupas sosok seorang guru yang kharismatik, humoris dan sangat fenomenal. Sosok itu adalah Mamanda al-Ustadz H. Imam Khatib Muzakkir. Sosok yang sudah saya kenal sejak kecil karena memang saya lahir dan dibesarkan di Karatau Parabek. Kebetulan, pimpinan institusi beberapa dekade yang lalu, Mamanda H. A. Kamal S.H,  memberikan kesempatan bagi saya untuk mengenal beliau lebih dekat. Sosok ini meinggalkan kesan mendalam bagi anak didik yang sempat belajar dan bertemu dengan beliau di tingkat ‘Aliyah. Tanpa mengurangi rasa hormat atas tulisan yang dituliskan tentang sosok beliau, ada hal yang mengelitik di kepala saya apakah mereka yang menyauk ilmu di madrasah mengenal sosok pendirinya seperti mereka mengenal baik guru-guru yang mereka jumpai.

Saya yakin dan percaya, tidak banyak yang mengenal sosok pendiri madrasah ini, termasuk para guru, pengurus yayasan, dan pelajar yang menimba ilmu di madarsah yang beliau dirikan (semoga pendapat ini salah). Argumentasi saya sederhana saja. Ketika website ini diluncurkan sampai hari ini belum ada satu pun tulisan yang memuat tentang sosok Sang Pencerah ini. Setahu saya, sosok Inyiak Syekh dikupas dalam disertasi DR. Burhanudin Daya yang telah dibukukan dengan judul “Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam Kasus Sumatera Thawalib”. Konon kabarnya, juga sudah ditulis oleh Jayusman, alumni tahun 1993, namun saya lupa apakah dalam bentuk tesis atau disertasi. “Syekh Ibrahim Moesa: Sang Inspirator” yang ditulis oleh Subhan Afifi, serta kabar yang terakhir adalah Khairul Ashdiq. Memang, untuk mengetahui kiprah Inyiak Syekh butuh perjuangan ekstra karena tidak banyak sumber ataupun tulisan yang bisa ditemui yang menceritakan tentang sosok beliau ini.

Sebenarmya, saya bukanlah orang yang bertemu langsung dengan beliau semasa hidupnya. Saya lahir sepuluh tahun setelah Inyiak wafat. Beruntungnya, saya mendengar kisah tentang Inyiak dari Ustadz H. Abdul Ghafar yang pernah belajar lansung dengan beliau. Cerita dari Ustadz Ghafar inilah yang sampai hari ini masih segar dalam ingatan saya. Ketokohan Inyiak sebagai seorang ulama pembaharu bukan hanya tersiar ditingkat lokal. Kiprahnya yang berawal dari sebuah jorong yang terletak di Nagari Ladang Laweh Banuhampu mampu menembus ruang regional bahkan internasional. Parabek tidak akan dikenal seperti saat ini seandainya Inyiak tidak memulai kiprahnya dari jorong itu.

Mengenal sosok Inyiak Syekh merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga lembaga yang beliau dirikan agar terus berjalan pada koridor yang seharusnya. Inyiak mempunyai visi besar dengan melahirkan institusi pendidikan ini. Logikanya sangat sederhana, tidaklah sekolah ini akan didatangi oleh banyak orang dari berbagai pelosok negeri, jika beliau tidak memiliki visi yang besar. Toh pada saat yang sama, tidak hanya Sumatera Thawalib saja tempat untuk memimba ilmu agama. Lagi pula, pemilihan nama Thawalib bukanlah serta merta lahir begitu saja. Thawalib merupakan sebuah simbol gerakan tersendiri yang telah mampu mewarnai sejarah negeri ini dalam pemikiran Islam. Thawalib adalah kesatuan pemikiran beberapa ulama yang berdiri di tengah-tengah. Karena itulah, kita mengenal adanya Thawalib Padang Panjang, Thawalib Gunuang, Thawalib Padusunan, Thawalib Padang Japang, dan Thawalib di Bangkinang. Penamaan lembaga pendidikan dengan Thawalib tentu saja merupakan wujud sebuah cita-cita besar yang tidak pernah dibahas oleh generasi sesudahnya.

Menyadari betapa pentingnya pendidikan, Inyiak sebetulnya sudah meletakkan dasar kelanjutan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yang dinamakan “Kuliayatuddiayanah”. Sayangnya, sampai hari ini tidak lagi ditindaklanjuti oleh penerus yang mengurusi lembaga yang beliau tinggalkan. Inyiak juga terlibat aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beliau juga tercatat sebagai anggota Konstituante. Beliau juga terlibat dalam perjuangan mengembalikan negeri ini kepada cita-citanya ketika ketimpangan kekuasaaan absolut masa  Sorkarno. Ustadz H. Abdul Ghafar juga pernah menceritakan bagaimana Inyiak dilarikan dalam pegolakan daerah. Bahkan dulunya beliau juga mendapatkan ancaman pembunuhan baik pada zaman pendudukan Jepang, agresi Belanda, dan PRRI.

Tentu saja menurut saya ini sangat penting untuk disampaikan kepada generasi berikutnya. Saya sedikit terenyuh ketika mencoba searching dan mencari tulisan tentang sosok Inyiak di Wikipedia. Ternyata informasi yang tercantum sangat minim. Padahal kiprah Inyiak tidak kalah hebat dibandingkan dengan K.H Achmad Dahlan, K.H Hasyim al-‘Asyari dan tokoh lain yang lebih dikenal. Kenapa seakan-akan kiprah Inyiak tidak terlihat? Ini karena tidak banyak yang menceritakan keleteladanan dan perjuangan beliau. Bukanlah bermaksud untuk mengkultuskan, tetapi menurut saya Inyiak juga sudah selayaknya diperjuangkan untuk mendapatkan penghargaan dari negara. Sudah selayaknya pula, seluruh santri yang pernah menyauk Ilmu dari madrasah yang beliau dirikan berjuang untuk itu.

Mengenal visi Inyiak Syekh menurut saya sangat penting bagi pengelola madrasah. Visi beliau bisa dijadikan acuan pengembangan madrasah ke depannya. Salah satunya tentu saja adalah bagaimana melanjutkan perjuangan beliau untuk mendidirkan pendidikan yang lebih tinggi sampai ke tingkat universitas. Inyiak, semasa hidupnya, telah meletakkan dasar tersebut. Hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil karena saat ini sumber daya manusia untuk memperjuangan cita-cita ini tersebar dimana-mana. Banyak profesor, doktor, dan sarjana yang telah lahir dari rahim madrasah ini. Semoga, sebuah kesadaran tumbuh kembali untuk menggali pikiran dan cita-cita Inyiak Syekh Ibrahim Moesa, sehingga madrasah ini tetap melahirkan para ulama dan kaum intelektual di negeri ini. Wallahu ‘Alam.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: