HomeArtikelTahun Kedua: The Empire Strikes Back

Tahun Kedua: The Empire Strikes Back

Artikel 0 1 likes 72 views share

Ingatkah anda kawan, ketika Surau Parabek pertama kali di-aqiqah-kan, pelbagai macam reaksi positif muncul dari pembaca yang tidak hanya civitas akademika Sumatera Thawalib Parabek, sebagai basis utama penulis-penulis surau maya ini, tetapi juga dari khalayak ramai yang merasa ada harapan baru yang ditampilkan oleh surau parabek. Sebagai sebuah media literasi, Surau Parabek –meminjam istilah Fadhli Lukman- konsisten dengan idealisme untuk tidak menjadi platform yang sekedar berburu traffic. Surau Parabek tidak mau jatuh menjadi platform klikbait. Surau Parabek tetap dengan jalurnya menghindari judul-judul bombastis yang tidak substansial demi meraup klik. Dan benar saja, euphoria itu terasa hingga ribuan like, ratusan share bahkan jutaan perbincangan mengatasnamakan Surau Parabek. Surau Parabek berada dalam pusaran ide, terlibat dalam perubahan-perubahan signifikan dalam sejarah.

Surau Parabek menawarkan ide segar. Kumpulan tulisan dari siapa saja yang pernah mengecap pendidikan di surau Inyiak Parabek hingga hari ini. Maka bertebaranlah tulisan nostalgia, tulisan berthema kuliner, sinopsis, cerpen, hingga fiqh, tafsir, hadits, ekonomi dan sebagainya. Penikmatnya pun beragam. Selalu ramai dikomentari setiap kali dibagikan. Surau ini pernah mencapai ranking 2 jutaan dari seluruh web di dunia versi alexa.com.

Tahun pertama begitu luar biasa, seperti Star Wars: A New Hope (1977) yang mengubah peta perfilman dunia. Ada harapan baru dari sebuah kelompok literasi yang mengusung idealisme pergerakan, keinginan untuk menunjukkan eksistensi gerakan hingga dinamika reformasi kontra reformasi. Sebenarnya saya ingin bermain dengan analogi “si bayi” (seperti sambutan tahun sebelumnya), apalah daya telah didahului oleh Tulisan Tuanku Bandaro Putiah. 😉

Baca juga:  Kids Jaman Now dan Daya Kritis yang Tergerus

Tahun kedua tidak ingin saya katakan lebih berat, apalagi lebih berat dari “rindu”-nya Dilan. Agaknya tahun kedua lebih tepat dikatakan masa di mana persoalan idealisme diuji oleh berbagai macam faktor. Ada sisi emosional mendalam yang berperan (bukan baperan), kelemahan literasi hingga factor krusial berupa organisasi komunitas yang belum baik membuat surau ini tertatih-tatih. Di sini, kita kembali pada titik semula, kawan. Seperti Star Wars, tahun ini adalah sekuelnya yang berjudul The Empire Strikes Back (1980). Sekuel yang paling minim adegan perang-perangan, tetapi dipenuhi dengan dinamika emosi antar tokoh sebagai jembatan menuju sekuel selanjutnya.

Tahun kedua, kita diserang oleh kelemahan kita sendiri, kelemahan mengorganisir kelompok, kelemahan literasi, kelemahan sikap dan emosi. Saya pikir barangkali ada kejenuhan atau pendekatan yang kurang tepat dalam menyikapi persoalan-persoalan internal yang terjadi. Ke depan hal seperti ini sebelum menjadi duri di dalam daging, harus disikapi dengan bijaksana. Di samping itu, tantangan yang kita hadapi jauh lebih kompleks. Antara mempertahankan idealisme dan mengikuti tren kejar klik ala blog-blog amatir. Kita sempat “dirayu” oleh itu, kawan, seperti Darth Vader merayu Luke Skywalker bergabung dengannya dalam barisan The Empire dan menguasai semesta Star Wars.

Memasuki tahun ketiga, tentu saja saya tak mampu meramal kita bakal bertemu di kantin seperti Dilan, namun selalu ada resolusi untuk sebuah awal yang baru. Harapan ketika memasuki tahun ketiga ini adalah seperti judul terakhir dari trilogy pertama Star Wars: Return of The Jedi (1983). Di dalam galaksi Star Wars, Jedi adalah para anggota sebuah organisasi biarawan kuno dan luhur. Mereka memiliki kemampuan atau bakat dalam menggunakan dan menghormati The Force (kekuatan utama) untuk hal kebaikan. Pahlawan yang mampu menyeimbangkan sisi baik dan sisi hitam.

Baca juga:  Selamat Milad Kedua Surau Parabek

Tugas Surau Parabek adalah seperti para Jedi, memberikan keseimbangan bacaan bagi para “netijen-netijen latah” agar tidak terjebak dalam prejudice apalagi menghakimi seseorang atau kelompok orang hanya setelah membaca judul tulisan yang bombastis. Tulisan-tulisan di Surau Parabek adalah mencerdaskan, memberikan paradigm dan mengajak pembaca untuk berfikir kritis. Kembalinya Surau Parabek ke khittah-nya akan membuka sekuel-sekuel selanjutnya dari perjalanan sejarah ini. Tentu kita tidak mau perjalanan sejarah ini hanya sampai pada titik ini. Masih banyak sekuel franchise yang bisa dibuat, bahkan spin off yang bisa dikembangkan.

Tidak lupa, seperti biasanya, menyambung lidah Sang Pimpinan Redaksi yang disibukkan dengan tugas disertasi dan agenda hidup barunya, Surau Parabek menerima tulisan dari siapa saja yang pernah meminum aia kran Inyiak Parabek, baik berupa tulisan ilmiah, fiqh, tafsir, hadits, ekonomi, sosial politik, hingga tulisan ringan seperti cerpen, puisi, synopsis, nostalgia dan sebagainya.

Pada akhirnya tibalah waktu untuk mengucapkan tahniyah untuk tahun kedua Surau Parabek. Semoga apa yang disemogakan bisa disegerakan dan Surau Parabek kembali menjadi gerbong perubahan menuju budaya surau dan literasi, seperti motto-nya “Kembali menulis, kembali ke surau”

Bukittinggi, 2 Februari 2017

Selepas menikmati subuh yang indah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *