Tak Mengenal Kata Lelah

Tidak banyak sosok yang seperti beliau. Di tengah usianya yang sudah senja, dimana orang-orang yang sebaya dengannya tidak lagi melakukan aktifitas berat,  beliau tetap enerjik dan sangat segar dengan pemikiran yang sarat dengan kepedulian. Rumah beliau yang tak pernah sepiselalu ada tamu yang datang silih berganti, seolah menjadi pertanda betapa banyak kehidupan yang menjadi perhatian beliau.

Beliau adalah Bapak Drs. Suardi Mahmud. Nama yang tidak banyak orang tahu, tapi cukup populer di kalangan aktivis. Lahir di Paniang-Paniang Nagari Lasi Kec. Canduang, 23 Maret 1943. Sudah sepuh, 73 tahun bukanlah usia yang muda lagi! Banyak orang tua yang seangkatan dengannya tidak lagi terlibat dengan urusan-urusan pelik. Mereka lebih memilih untuk menghabiskan usia senja dengan anak-anak dan cucu. Tetapi beliau tidak!

Beliau adalah seorang Bapak, Guru, Mamak, Kawan dalam berbagi. Mengenal beliau adalah sebuah anugerah. Berhubungan dengan beliau berarti mendulang petuah yang sarat nilai dan pengalaman. Beberapa orang beretorika tentang hidup, tapi beberapa orang lainnya bercerita tentang pengalaman. Beliau ada di posisi kedua. Karena itulah pola pikir, cara pandang, petuah, dan refleksi hidup beliau begitu padat makna. Tidak heran, karena beliau telah hidup melintasi sejarah Indonesia, dari zaman pemerintahan Soekarno sampai Jokowi. Pengalaman beliau adalah catatan sejarah perjalanan negeri ini.

Sebagai anak muda yang masih sangat mentah dengan pengalaman, terus terang penulis menyimpan kekaguman tersendiri terhadap beliau. Beliau tidak pernah lelah bersuara; konsisten memperjuangkan kaum-kaum yang termarginalkan, baik dalam ranah pemikiran maupun tindakan. Beliau tegas dalam bertindak, dan bersih dari gaya-gaya pragmatis apalagi oportunis.

Saya adalah salah seorang yang rajin bertamu ke rumah beliau di Gulai Bancah, Bukittinggi. Pun saya juga orang yang rajin beliau marahi dalam setiap diskusi. “Palawan…Kareh mariah…!”, misalnya. Itu hanya beberapa lontaran yang sering beliau ungkapan dengan suara tinggi setiap kali saya membantah apa yang beliau kemukakan. Saya justru sangat senang membuat beliau marah, karena saat itulah semua petuah beliau keluar. Ibaratkan cawan, ketika itulah kita bisa menampung apa yang beliau ungkapkan.

Beliau adalah salah seorang alumni Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau melanjutkan pendidikannya ke Parabek pada tahun 1955. Masa belajarnya di Parabek termasuk cukup singkat, hanya sampai tahun 1958. Pergolakan daerah yang dikenal dengan PRRI menyebabkan seluruh aktivitas pendidikan terhenti di Parabek pada waktu itu. Selesai pergolakan beliau akhirnya meneruskan ke PGA di Koto Tuo IV Angkek dan menamatkannya di SMA Gajah Tongga. Selesai disana akhirnya beliau melanjutkan pendidikan ke IKIP Padang.

Sekolah ke Parabek pada awalnya tidaklah muncul dari tekad pribadi beliau sendiri. Inyiak Parabek, begitulah nama yang populer untuk Syekh Ibrahim Moesa yang waktu itu, merupakan tokoh pergerakan yang berafiliasi ke Masyumi. Orang tua beliau adalah pengagum Inyiak dan merupakan anggota Partai Masyumi waktu itu. Ketokohan Inyiak yang sangat berpengaruh itu, mendorong orang tua beliau untuk menyekolahkannya ke Parabek. Bukan itu saja, orang tua beliau bahkan juga menanggung biaya dua orang anak asuhnya untuk belajar di Parabek.

Inyiak Parabek, menurut Pak Suardi, sebagaimana orang-orang mengenalnya, adalah sosok yang sangat berwibawa dan berkharisma. Inyiak sangat rendah hati, tawaduk. Inyiak tidaklah sosok yang gila hormat yang harus diladeni. “Inyiak selalu mengurus keperluannya sendiri”, kata beliau. Kefiguran beliau sebagai Syaikh al-Madrasah membawa sekolah itu jauh bergerak ke depan. Dari segi materi ajar, Parabek telah membuka diri mengajarkan ilmu umum, sedangkan Canduang, Jaho dan lain-lainya belum. Dari segi jumlah murid, Parabek juga terhitung memiliki peminat yang melebih madrasah-madrasah lainnya ketika itu.

Kepada penulis Pak Suardi juga menceritakan, bahwa guru-guru yang mengajar sangatlah dekat dengan para muridnya. Beliau menceritakan bagaimana Ustad Gaffar, Inyiak Ibrahim, Ustad Labiah, Ustad Munir, Pak Abdul Moeis, begitu dekatnya dengan para murid. Sekolah tidaklah mahal. Orang berdatangan dari seluruh pelosok. Beliau tinggal di Parabek Ateh bersama dengan teman-temannya dari Jambi, Banjarmasin, dan Bengkulu. Menurut beliau, Parabek adalah sekolah pergerakan. Pelajaran Parabek inilah yang menurut beliau menjadi peletak dasar pemahamannya tentang ke Islaman.

Keteladanan dari guru-guru yang mengajar meninggalkan kesan yang mendalam bagi Pak Suardi. Cita-cita dan perjuangan Inyiak menjadi salah satu inspirasi baginya. Pak Suardi juga menceritakan bagaimana orang-orang Masyumi memegang teguh prinsip kepartaiannya. Sebagai orang yang haus  dengan pengetahuan, beliau telah mempelajari semua pemikiran idiologi perjuangan yang akhirnya beliau sampaikan kepada penulis bahwa Islamlah sebetulnya yang benar.

Karena itulah, ia berpesan, “Belajarlah berpolitik dari Nabi Muhammad, galilah sejarahnya,  karena Nabi adalah ahli politik, strategi, militer, pemimpin yang pro rakyat, bahkan ketika ajalpun akan datang beliau masih memikirkan urang banyak, ummaty-ummaty……”. Selain itu beliau terus mengingatkan pentingnya arti perkawanan dan persaudaraan. Beliau selalu menekan pentingnya keikhlasan dalam melakukan aktivitas apapun. Persahabatan aka terjalin erat jika itu selalu di bangun dengan ke ikhlasan itu, terang beliau.

Kapitalisme yang begitu menggurita manjadi buah kerisauan beliau. Hari ini dengan usianya yang sudah senja beliau terus menggerakkan para petani untuk tidak terjebak dengan cengkaraman kapitalisme. Beliau gerakkan pertanian organik. Beliau dirikan sebuah komunitas yang yang sarat dengan nilai. Komunitas Selaras Alam namanya.

Beliau juga melakukan penghijauan dengan memanfaatkan lahan tidur di lereng gunung Marapi. Di sana beliau menggerakkan penanaman kopi. Saat ini, kebun kopi di sana sudah lebih dari 30 Ha. Semuanya akan diberikan gratis bagi mereka yang mau memanfaatkan lahannya untuk itu. Saat ini, kopi yang telah ditanam sejak 2013 itu telah berbuah dan telah mengangkat nama Nagari Lasi sebagai salah satu produsen kopi yang terbaik. Kopi tersebut telah sering mengikuti sejumlah festival kopi. Berita ini bahkan pernah dimuat oleh media kelas nasional Kompas.

13063885_10204793814364019_1895881686_o

Hari-hari beliau tidak ada yang sia-sia. Selain Komunitas Selaras alam, beliau juga membangun sebuah kamp yang dinamakan dengan ISTANA RAKYAT di tanah kelahiran beliau, Paniang-Paniang Nagari Lasi Canduang. Setiap hari Sabtu beliau mendaki lereng gunung Marapi memimpin penanaman dan pemeliharaan tanaman kopi. Setiap Minggu mengadakan kajian dan diskusi yang diikuti oleh orang-orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Bayangkan, dalam usia yang telah berkepala tujuh! Saya secara pribadi bahkan tidak sanggup untuk itu.

Jiwa pelopor beliau tidak perlu diragukan lagi. Ketiga contoh di atas sudah lebih dari cukup menjadi bukti. Tapi, saya masih punya bukti lainnya. Beliau mendorong lahirnya Persatuan Walinagari di Agam (PERWANA) ketika kembalinya ke Pemerintahan Nagari. Beliau adalah Walinagari Lasi yang pertama di zaman Reformasi ini.

Beliau adalah orang berani menentang arus jika bertentangan dengan nilai-nilai kemanusian dan keadilan yang tidak berpihak kepada kepentingan orang banyak. Beliau pernah menolak pengaspalan jalan di Nagarinya karena motif kepentingan politik tertentu. Ketika dipercaya sebagai anggota DPRD Agam pada zaman Orde Baru, beliau bahkan berani menentang kebijakan partainya. Hal yang sangat riskan pada waktu itu.

Sebagai orang yang peduli terhadap pendidikan beliau juga pengayom di SMA Pembangunan Bukittinggi dan Ketua Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Ashhabul Yamin Lasi Canduang. Hal lain yang sangat luar biasa yang sangat menyentuh hati adalah betapa beliau sangat menghargai istri  beliau yang kurang sehat. Beliau begitu sabar menjaga dan merawat. Saat ini, istri beliau setiap hari harus diterapi ke rumah sakit. Tidak pernah mengeluh dan selalu tersenyum. Tidak pernah merasa cukup dengan pengetahuan, setiap waktu selalu ditemani oleh buku dan koran.

Beliau benar-benar luar biasa. Semangatnya yang tidak pernah padam, memancarkan energi yang luar biasa. Seorang yang sangat demokratis dan menghargai siapapun yang menjadi lawan bicaranya. Sangat sederhana dalam keseharian.

Tulisan ini hanyalah sebahagian kecil dari apa yang penulis kenal tentang dirinya. Penulis sadar, jika beliau tahu, sudah dapat dipastikan beliau akan marah besar karena sangat tidak suka dengan ini. Namun bagi penuls ini memang perlu untuk dituliskan supaya bisa menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.[]

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: