Takdirku

“Takdir semacam apa ini?” tiap kali aku menanyakan apa yang telah terjadi pada diriku, mungkin keluhku tak pernah sampai kepada Tuhan, hingga aku tetap merasakan penderitaan yang seperti ini, aku tertakdir menjadi secarik kertas buram yang lusuh dan kumuh, kini aku tergeletak diantara kaki-kaki meja, kursi dan bahkan kaki-kaki bau terasi  yang sesekali menginjakku tanpa perasaan.

Dulu aku adalah pinus yang megah, berdiri kokoh dibantaran bukit barisan, tempat bernyanyinya burung-burung kecil dan tempat berjuntai monyet-monyet bahkan tupai kecil bersarang diantara dahanku yang rindang. Sesekali aku menjadi tempat bersandar si kakek tua pencari ranting dan para pemburu liar.

Aku lebih senang menjadi pinus setelah ku saksikan teman dan kerabatku yang menjadi kertas yang di isi oleh penulis handal yang terukir diatasnya ilmu pengetahuan dan cerita keren lainnya, ada juga yang menjadi kertas foto para pahlawan dan bahkan ada yang di rancang seindah mungkin menjadi bahan bunga kertas dan origami untuk pajangan di suatu ruangan. Sementara aku kini pasrah dengan takdir yang menetapkanku menjadi secarik kertas buram yang menjijikkan. Aku malu pada diriku dan kecewa pada mereka yang telah menelantarkanku seperti ini.

Dulu aku senang ketika aku diolah oleh mesin-mesin yang sangat menakjubkan dan canggih itu menjadi ketras putih dan bersih, namun setelah sekian lama aku tersusun dalam tumpukan kertas putih dan tempatku pun berada di toko buku yang wangi dan sejuk.

Setelah tangan-tangan berganti memilihku aku di beli oleh sepasang tangan yang entah tangan siapa, rasaku bertanya-tanya, akankah ia menjadikanku buku tulisnya yang akan digunakannya untuk pelajarannya dan menyimpan ilmu pengetahuan di dalam tubuhku ini?. Ternyata tidak, aku ingin lari bahkan menjerit ketika ia mulai mencorat-coret tubuhku dengan angka-angka dan menggoreskan kata-kata gombal dan galau yang sangat basi itu, setelah ia merasa tak ada celah lagi untuk mengotori tubuhku, dengan senang hati ia mencampakkanku kelantai. Bahkan untuk membuangku ke tempat sampah pun ia enggan, walau aku tak ingin hal itu terjadi, karena tak bisa ku bayangkan aku akan bertemu dengan seonggokan sampah-sampah makanan.

Namun aku pasrah akan takdirku, walau banyak sesal yang ku tanggung setelah Tuhan menciptakanku menjadi kertas buram. Disisi lain aku senang, karena pada awalnya aku menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang, bahkan aku rela menampung ratapan yang mereka ukir dengan tinta. Sungguh aku bertanya “apa salahku? Hingga aku kini kalian telantarkan tanpa belas kasihan?” dulu aku bermanfaat, tapi kini aku di campakkan, sedih memang, tapi inilah takdirku.

 

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: