Tauhid-based Management

Ada dua hal yang dibahas di sini, Manajemen dan Tauhid.

Manajemen bukanlah istilah asing.  Ia berasal dari bahasa Inggris, “manage” yang berarti mengelola/mengurus, mengendalikan, mengusahakan dan juga memimpin. Secara umum, manajemen adalah sebuah proses dalam rangka mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara bekerja secara bersama sama dengan orang – orang dan sumber daya yang dimiliki.

Begitu populernya terminologi ini, banyak pakar yang telah membincangnya. Stoner menyebut ilmu manajemen sebagai proses dalam membuat suatu perencanaan, pengorganisisasian, pengendalian serta memimpin berbagai usaha dari anggota entitas/organisasi dan juga mempergunakan semua sumber daya yang dimiliki. Wilson mendefinisikannya sebagai sebuah rangkaian tindakan yang dilakukan oleh anggota organisasi dalam upaya mencapai sasaran organisasi dengan prosess merupakan suatu rangkaian aktivitas yang dijalankan dengan sistematis.

Dari pemaparan kedua pakar, dapat dilihat bahwa setiap organisasi atau perusahaan sejatinya butuh ilmu manajemen. Dengan manjajemen lah sebuah upaya sistematis bisa dicanangkan untuk menggapai tujuan dan kepentingan bersama/organisasi.

Meskipun management/manage berasal dari bahasa Inggris, sebagai sebuah konsep, ide ini tidak asing dalam Islam. Mari perhatikan surat Al-Baqarah 282:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah (transaksi) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis,…“. (QS.Al-Baqarah:282)

Sungguhpun Al-Quran turun dalam kondisi sosial yang sederhana dan terbelakang, ayat ini mengindikasikan pentingnya administrasi. Administrasi ini merupakan bagian penting dalam penerapan manajemen sebuah organisasi. Artinya, dengan administrasi yang baik, maka setiap aksi dan tindakan dalam organisasi akan terencana, terukur dan bisa dipertanggunjgjawabkan. Inilah fungsi manajemen yang sangat signifikan dalam sebuah perushaan menurut penulis.

Beralih kepada hal kedua, tauhid. Tauhid (tawhid) adalah kata dalam bahasa Arab yang berjenis mashdar (bentuk benda dari kata kerja) dari kata wahhada-yuwahhidu. Apabila yang dimaksud wahhada syai’a, maka yang dimaksud adalah “menjadikan sesuatu benda menjadi satu.” Sementara secara terminologis, kata ini bermakna mengesakan Allah dalam hal yang merupakan kekhususan bagi-Nya, yaitu yang berupa Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’  wa Shifat (Al-Qaul al-Mufid fi Syarh Kitabi At-Tauhid).

Kata Tauhid sendiri merupakan kata yang terdapat dalam beberapa Hadits Nabi SAW, umpamanya di dalam hadits Mu’adz bin Jabal Ra, “Kamu akan datangi suatu kaum Ahli Kitab, maka jadikanlah materi dalam dakwah yang akan kamu sampaikan pertama kali yaitu agar mereka mentauhidkan Allah”.

Lantas, apa hubungan antara manajemen dan tauhid? Kenapa manajemen harus berlandaskan pada tauhid? Apa urgensitasnya? Apa siginifkansinya?

Baiklah, saya sendiri berprofesi sebagai pengusaha, pendidik dan pekerja. Alhamdulillah berbagai pengalaman yang berkaitan dengan urusan dunia (mencari penghidupan), sudah saya coba. Baik pengalaman sebagai pekerja dalam perusahaan dari manajemen lini bawah sampai manajemen atas. Sekarang, sejak tahun 2010 saya mendirikan sebuah perusahaan dari nol dengan modal kebersamaan dan kepercayaan yang diberikan oleh orang lain, serta yang paling penting adalah kompetensi saya.

Saya terpaksa memberikan pencerahan ini dengan membagi pengalaman yang telah saya lalui, berharap bisa menjadi pembelajaran bagi pembaca. Saya tidak bermaksud untuk menggurui, mengajari atau berusaha mengedepankan faktor ke-dirian- saya. Ini hanya sebuah refleksi, semoga bisa menjadi bahan i’tibar bagi kita semua.

Kenapa saya mau mendirikan perusahaan sendiri? apa urgensitasnya dan apa tujuan yang hendak saya capai?

Tujuan Mendirikan Perusahaan: Keluar dari Kubangan!

Pengalaman saya sebagai pekerja selama ini seringkali terbentur antara dunia idealitas dan dunia realitas. Dunia idealitas sebagaimana yang pernah saya pelajari adalah bahwa kita harus mencari nafkah dan rejeki yang berasal dari uang yang halal dan baik. Halal dan baik adalah setiap rejeki yang kita dapatkan halal zatnya, hala caranya dan halal perbuatannya. Sedangkan baik adalah rejeki yang menjamin kebaikan bagi orang yang mendapakatnya sehingga terhindar dari keburukan-keburukan.

Saya pernah menjadi salah satu direktur/Pimpinan sebuah NGO dalam negeri atau NGO plat merah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa NGO plat merah di danai oleh APBN sedangkan struktur APBN menurut saya memberikan celah yang sangat besar untuk seseorang malakukan manipulasi sehingga akhirnya korup. Hal ini pernah saya alami dan saya tidak tenang.

Selain itu, saya juga pernah menjadi pemimpin perusahaan level menengah dengan jabatan manajer marketing. Pekerjaan yang saya lakukan adalah memaksimalkan omzet perusahaan. Segala daya dan upaya harus dilakukan untuk mencapai target penjualan. Akhirnya, cara-cara yang tidak baik pun dilakukan, seumpama suap pimpinan proyek, mengajak karaokean, serta lobi-lobi lain yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu.

Walaupun saya lulusan pesantren, Sumatera Thawalib Parabek, dan UIN Sunan Kalijaga, namun pola pikir saya waktu itu benar-benar telah diracuni oleh nafsu dan syahwat duniawi belaka. Seolah-olah saya tidak akan bisa hidup dan menghidupi keluarga jika saya tidak melakukan semua keburukan itu.

Akhirnya, saya di sadarkan oleh istri. Ketika saya terbuka menceritakan segala hal perihal pekerjaan,  bak petir di siang hari, ia saya marah besar. Ia mengingatkan, upaya selama ini yang saya yakini untuk yang terbaik bagi keluarga, ternyata sejatinya bukanlah hal terbaik. Darah haramlah yang akan mengalir dari sana, bagi istri, anak, dan seluruh keluarga.

Pada saat itulah, saya membuat keputusan besar. Saya harus meninggalkan perusahaan tersebut meskipun telah memiliki kedudukan yang mapan. Sang istri menguatkan; ia siap menerima segala resiko, apapun yang akan terjadi, sekalipun untuk hidup di bawah kolong jembatan, selama nafkah yang kita dapatkan adalah nafkah halal. “Apapun itu, Insyallah saya siap!!!”

Inilah motivasi awal saya keluar dari jeratan pikiran yang sudah bergelimang dengan nafsu dan syahwat duniawi. Saya sadar bahwa selama ini saya tidak pernah mendengarkan suara hati yang murni panggilan Ilahi. Pada saat itu, kami bertekad bahwa hidup kita untuk akhirat, dan menuju akhirat harus dengan kerja keras menghidupi kehidupan kami dan menaikkan derajat kami dengan usaha yang lebih baik berlandaskan pada ilahiah.

Tauhid-based Management

Beranjak keluar dari kubangan, saya mendirikan perusahaan dengan keyakinan Tauhid yang kuat. Saya meyakini bahwa ada katian yang sangat erat antara upaya dan tindakan kita di dunia dengan keimanan kepada Allah. Kita harus kembali bertauhid dengan cara yang benar; bertauhid dengan keyakinan dan kepercayaan utuh bahwa Allah satu Sang Maha Penguasa dan Maha Segalanya. Kembali ucapkan dengan lisan penuh khidmat, diiringi perilaku sehari-hari dengan keyakinan bahwa Allah selalu memonitor kita dan setiap aktifitas kita.

Perusahaan yang saya bangun bergerak dari tenaga SDM 2 orang dan berkembang menjadi 30 orang. Semua terlibat dalam ilmu manajemen yang pernah saya pelajari. Penerapan manajemen yang baik dan benar berlandaskan pada keyakinan ilahiah akan memberikan quantum hasil yang luar biasa. Saya menekankan pada tim, bahwa setiap upaya dan ikhtiar kita ini adalah sebuah jalan menuju jalan Allah. “Ini adalah jihad fi sabilillah!!” Menyelamatkan perekonomian pribadi, keluarga inti, keluarga beasr dan kaum dhu’afa adalah orientasi dan cita-cita luhur. Cara inilah yang akhirnya akan membangkitkan kejayaan Islam pada suatu masa.

Perencanaan adalah sebuah proses dimana kita harus selalu memiliki gambaran tentang apa yang harus kita capai, bagaimana cara mencapainya dan siapa yang harus melakukannya. Perencaan yang baik tidak akan berhasil tanpa skema ‘organizing’ yang baik. Siapa melakukan apa, siapa bertanggungjawab kepada siapa, siapa berkomunikasi dengan siapa. Selanjutnya,  rencana diikuti dengan bertindak, yaitu  mengeksekusi semua perencanaan yang sudah di buat dan dengan cara yang baik, terukur dan terarah.

Setelah tindakan selalu ada evaluasi yang menjadi instrumen untuk melakukan penyempurnaan-penyempurnaan.

Nah, perencanaan dalam perusahaan adalah sebuah keharusan, namun itu bukanlah harga mati dan final. Perencanaan manusia tidak pernah sempurna karena manusia hanya menggunakan akal dalam melakukannya. Selanjutnya, kuasa hasilnya kembali pada sang Maha Pengatur dan Pemutus. Inilah yang menjadi paradigma berpikir yang dalam membuat perencanaan. Tidak ada perencanaan terbaik, yang ada hanyalah keputusan terbaik kembali pada Kuasa Allah.

Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam perusahaan merupakan perwujudan dari perencanaan yang dibuat. Tahap ini harus sama maksimalnya dengan perencanaan. Namun begitu, selama aksi ini berjalan, setiap SDM selalu dituntut untuk memperbaharui kompetensi-kompetensi kita sebagai manusia yang telah diberikan anugerah oleh Allah sebagai makhluk terbaik. Kita harus yakin bahwa kita adalah makhluk terbaik yang diberikan akal yang baik untuk selalu berfikir dan bertindak dengan norma yang digariskan. Maksimalisasi tindakan adalah bagian dari tanda syukur kita kepada Allah yang telah memanfaatkan anugrah yang diberikan kepada kita.

Ada konsep zalim yang perlu diingat selamamemaksimalkan perencanaan ini. Maksudnya, zalim seorang bos apabila tidak memberikan balasan yang setimpal kepada bawahannya. Begitu juga sebaliknya, zalim bagi seorang bawahan yang sudah digaji tapi tidak memberikan kemampuan terbaiknya untuk perusahaan. Allah maha melihat, Allah maha mengetahui baik yang tersembunyi dan yang tersurat. Kita harus selalu awas terhadap itu.

Selalu harus ada koreksi, evaluasi dan penyempurnaan. Kenapa kita harus melakukannya? Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, tim yang terlibat dalam manajemen harus memberikan kemampuan yang terbaik yang dia miliki. Evaluasi ini merupakan perwujudan kita sebagai manusia yang penuh dengan “kesalahan”, “kealpaan” dan”kekhikalafan”. Tidak ada sebuah tindakan terbaik, yang ada hanyalah tindakan berlandaskan pada keyakinan pada Allah sang maha pemberi nikmat dan anugerah. Keyakinan ini kemudian diturunkan dengan keterbukaan dan sikap saling maaf antara SDM di segala lini, termasuk kepada klien.

Saya yakin, jika pola pikir ini dijalani oleh SDM di segala lini dalam struktur manajemen perusahaan, maka akan terjadi harmonisasi dan kesepahaman yang menciptakan quantum hasil yang luar biasa. Bayangkan apabila semua lini manajemen meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa setiap upaya yang dilakukan adalah bagian dari ikhtiar dan jihad fi sabilillah, sedangkan hasil akhirnya akan dikembalikan pada Sang Maha Pengambil Keputusan, maka setiap orang akan memiliki semangat yang membara dalam dadanya. Hal ini akan memberikan dorongan positif bagi perusahaan.

Tauhid-based Management yang saya gagas di perusahaan ini, terinspirasi dari guru kami di Sumatera Thawlaib Parabek, yakni Inyiak Ibrahim. Betapa beliau selalu menekankan bahwa “Laa Ilaa ha Illallaah” sangat penting dalam mengarungi kehidupan kita kelak. Karena dunia ini hanyalah sementara, dunia ini hanya tempat labuhan sementara, dunia ini hanya persoalan “makan-cirik-minum-kanciang”.

Makan-cirik-minum-kanciang. Filosofi ini begitu menggelikan pada awalnya; saya tertawa terpingkal-pingkal ketika Inyiak Ibrahim menyampaikannya, lagi dan lagi. Barulah sekarang saya menyadari makna dari filosofi tersebut.

Makan-cirik-minum-kanciang. Hidup ini butuh makan; kita harus memperhatikan kesejahteraan ekonomi. Yang kita makan hanyalah nasi satu piring dan nantinya juga akan pergi entah kemana, dan yang kita minuman hanya melapas dahaga, dan selanjutnya toh akan pergi entah kemana. Oleh sebab itu, jangan lupa untuk berbagi kepada orang lain, karena hidup mereka juga butuh makan dan minum.

Genggamlah duniamu jangan masukkan dalam hatimu, genggamlah duniamu dan berikanlah yang terbaik kepada orang-orang yang ada disekitarmu. Dan genggamlah duniamu, tapi jadiukan dia sebagai jembatan kamu untuk menghadapi akhiratmu kelak.”

Yogyakarta, 25 Januari 2016

Adri Syahrizal

Adri Syahrizal adalah Presiden Direktur Ritelteam Indonesia; sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang Konsultan manajemen Ritel dan UKM, Software ritel, Penjualan Rak Gondola supermarket dan Perlengkapan kasir. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 1991-1997.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: