Tentang Istilah-istilah

“Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi karena basically, aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya. Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan. Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga…”

Masih ingat dengan bahasa-bahasa ini? Saya yakin, masih. Selain kontennya yang menarik, sebagai sebuah fenomena, gaya Bahasa ini kemudian juga diberi istilah tersendiri, vickynisasi.

Beberapa orang gerah dengan gaya bahasa seperti itu, karena memang digunakan secara serampangan. Mahasiswa baru yang sedang mencari jati dirinya, misalnya, suka show off dengan istilah-istilah berat dan nama-nama kawakan; meskipun yang disampaikannya nihil. Terkadang, (oknum) akademisi menggunakannya dalam khutbah jum’at atau ceramah di masjid kampung, yang dapat dipastikan jama’ah tidak paham dengan yang disampaikannya. Tapi paling tidak jama’ah tau (atau dikondisikan menjadi tahu), bahwa yang berbicara sepertinya orang beken.

Akan tetapi terkadang sebagian orang lainnya tetap gerah mendengar/membaca istilah-istilah tersebut hanya karena ia tidak paham. Di sini, forum menjadi penting. Tentu tidak cocok berbicara paradigm shift, renaissance, epistemology kiri, dan semacamnya di masjid kampung atau rapat RT. Ini lah si oknum yang disebut di atas. Tapi jika istilah-istilah tersebut digunakan di kampus atau dalam tulisan-tulisan yang menggunakan sudut pandang akademik, hal itu sah-sah saja.

Perlu juga diketahui, setingkat di bawah bahasa teknis yang memiliki makna-makna rumit itu juga ada namanya istilah akademik populer. Jika yang pertama digunakan di perkuliahan, jurnal-jurnal,  atau presentasi akademik, yang kedua digunakan dalam media massa yang memiliki segmen pembaca lebih luas. Istilah ini juga lah yang digunakan dalam esai-esai atau artikel-artikel ringan yang diedarkan di media sosial.

Kegerahan seseorang terhadap istilah-istilah teknis ini memiliki dua kemungkinan. Pertama, pengguna memakainya secara serampangan, baik dari sudut pandang tempat/forum maupun istilah yang digunakan tanpa pemahaman yang baik terhadap artinya. Kedua, pengguna telah menggunakannya dengan tepat (dalam forum yang sesuai atau penggunaan dengan makna yang pas), tapi pendengar/pembaca tidak memahaminya karena keterbatasan wawasan.

Pendengar pantas gerah dengan skenario pertama, tapi ia semestinya introspeksi diri pada skenario kedua. “Jangan-jangan saya aja yang tidak paham dengan apa yang ia sampaikan.”

Perlu juga untuk disampaikan, bahwa pada dasarnya penggunaan istilah-istilah itu tidak bisa dihindari (oleh sebab itu tidak perlu disesalkan selama digunakan secara pantas). Mengapa demikian? Karena sebuah istilah merepresentasikan sebuah konsep, dan hidup ini dipenuhi dengan konsep-konsep. Itulah yang setiap hari menjadi bahan pembicaraan manusia.

Umpamanya, hubungan kekeluargaan terdiri dari sejumlah konsep, dan karenanya memiliki istilah-istilah. Bapak, ibu, anak, kemenakan, sepupu, suami, istri, menantu, mamak, sumando, pambayan, dan sebagainya, semua itu adalah istilah-istilah dalam relasi kekeluargaan.

Setiap ilmu juga memiliki istilah-istilah tersendiri. Ilmu biologi memiliki ekosistem, habitat, spesies, dan sebagainya. Fisika memiliki bayangan, daya, dimensi, gaya, gerak, dan sebagainya. Meskipun ia terdengar kata-kata yang umum, sebagai istilah maka ia memiliki cakupan makna sendiri.

Mungkin yang lebih rumit ada dalam disiplin filsafat, karena memang sifatnya yang teoretis. Umpamanya, ‘bahasa’ dalam perdebatan filsafat bisa memiliki beragam pengertian. Meskipun ia kata yang populer digunakan setiap hari oleh masyarakat awam, ketika masuk ke ranah filsafat ia menjadi istilah teknis. Lebih asing lagi istilah epistemologi, ontologi, ideologi, materialisme, dan sebagainya.

Ilmu-ilmu dalam Islam juga memiliki istilah-istilah. Ada muhkam-mutasyabih, muthlaq-muqayyad, ‘am-khass, ijtihad, taqlid, ittiba’, tafsir, ta’wil, syarh, jarh-ta’dil, tahammul wa ada’, semuanya adalah istilah. Bahkan kata-kata yang sudah sangat populer seperti shalat, zakat, puasa, haji, halal, haram, wajib, sunnah, mubah, dan sebagainya juga istilah-istilah.

Dari itu, ada skenario ketiga yang memungkinkan kegerahan terjadi terhadap istilah; pembicara/penulis dan pendengar/pembaca tidak berada atau berbicara dalam disiplin ilmu yang sama. Di situlah terjadi kesimpang-siuran memahami istilah-istilah yang mengemuka. Sebagaimana pada skenario kedua, jika kita terlibat dalam kejadian seperti ini, sejatinya tidak perlu ada kegerahan. Hanya diperlukan introspeksi dan kebijaksanaan. Menjadi lucu kan ketika seseorang enjoy menggunakan istilah muhkam-mutasyabih, dan semacamnya, lantas ketika mendengar holistic, falsifikasi, discourse, ia menjadi gerah?

Ya, introspeksi dan kebijaksanaan. Jika salah satu kita tidak paham dengan istilah-istilah tertentu, mungkin kita belum membaca buku yang dibaca kawan; mungkin saja bacaan kita berbeda, atau mungkin saja kita yang kurang membaca sehingga kita berwawasan rendah. Karena, penggunaan istilah sejatinya memperlihatkan dua kemungkinan makna, baik bagi pendengar/pembaca maupun pembicara/pembaca. Bisa jadi karena mereka memang benar-benar mengerti, atau justru tidak sama sekali.

Itulah mengapa dibutuhkan introspeksi dan kebijaksanaan. Di atas semua itu, kallim al-nas biqadr ‘uqulihim.[]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: