Tentang “Jangan Abaikan Sejarahmu” (lagi)

Istilah sejarah dalam bahasa arab dikenal dengan tarikh, dari akar kata arrakha(a-r-kh),yang berarti menulis atau mencatat; dan catatan tentang waktu serta peristiwa sebagaimana yang dikemukan oleh Ahmad Warson Munawir dalam kamus Al-Munawwir : Kamus Arab – Indonesia, Akan tetapi menurut  Sidi Gazalba, dalam Pengantar Ilmu Sejarah, istilah tersebut tidak serta merta hanya berasal dari kata ini. Malah ada pendapat bahwa istilah sejarah itu berasal dari istilah bahasa Arab syajarah, yang berarti pohon atau silsilah. Makna silsilah ini lebih tertuju pada makna padanan tarikh tadi; termasuk kemudian dengan padanan pengertian babad, mitos, legenda dan seterusnya. Syajara berarti terjadi, syajarah an-nasab berarti pohon silsilah.

Dalam istilah bahasa-bahasa Eropa, asal-muasal istilah sejarah yang dipakai dalam literatur bahasa Indonesia itu terdapat beberapa variasi, meskipun begitu, banyak yang mengakui bahwa istilah sejarah berasal-muasal, dalam bahasa Yunani historia.   Dalam bahasa         Inggris dikenal dengan history, bahasa Prancis historie, bahasa Italia storia, bahasa Jerman geschichte, yang berarti yang terjadi, dan bahasa Belanda dikenal gescheiedenis. Menilik pada makna secara kebahasaan dari berbagai bahasa di atas dapat ditegaskan bahwa pengertian sejarah menyangkut dengan waktu dan peristiwa.

 Menurut Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah, Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu, yaitu merekonstruksi apa saja yang sudah dipikirkan, dikejakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami oleh orang. Namun, perlu ditegaskan bahwa membangun kembali masa lalu bukan untuk kepentingan masa lalu itu sendiri. Sejarah mempunyai kepentingan masa kini dan, bahkan, untuk masa akan datang.

Oleh kerenanya, orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya. Kenyataannya, sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan disepanjang waktu. Hal ini, sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah itu perlu. Sejarah merupakan suatu dialog yang tiada akhir antara masa kini dan masa lalu. Ini dapat dilihat berdasarkan kerangka keragaman (diversity), perubahan (change), dan kesinambungan (continuity) melalui dimensi waktu sebagaimana yang dikemukakan oleh Nur Huda dalam bukunya Islam Nusantara.

Dari petunjuk Al Qur’an, pengertian “syajarah” berkaitan erat dengan “perubahan”. Perubahan yang bermakna “gerak” kehidupan manusia dalam menerima dan menjalankan fungsinya sebagai “khalifah” (Q.S. 2: 30). Maka tugas hidup manusia dimuka bumi adalah :” menciptakan perubahan sejarah” (khalifah). Oleh karena itu, untuk dapat menangkap pelajaran dari pesan-pesan sejarah di dalamnya, memerlukan kemampuan menangkap yang tersirat sebagai ibarat atau ibrah di dalamnya. Seperti yang tersurat dalam Q.S. 12: 111, “laqad kana fi qashasihim ‘ibratun li ulil albab”. Sesungguhnya dalam sejarah itu terdapat pesan-pesan sejarah yang penuh perlambang, bagi orang-orang yang memahaminya.

Mengapa Allah memberikan rumusan, untuk memperoleh masa depan, harus menoleh kemasa lalu? Ada apa kisah dalam sejarah dalam Al-Quran dapat digunakan sebagai pedoman “Mengubah Sejarah” ditempat berbeda, dan waktu yang tidak sama? Sejarah memberikan Mau’idzah (pelajaran) yang membuat umat Islam dzikra (sadar) sebagai actor sejarah, untuk menciptakan sejarah yang benar.

Sejarah tidak akan berfungsi kalau tidak dihayati serta dipahami akan makna dan nilai dari setiap peristiwa sejarah. Banyak ayat al-Qur’an yang memerintahkan untuk melakukan penelitian (tandzirun) terhadap peristiwa sejarah. (Qs. 47 : 10 ; 12 : 109; 12 :46). Melalui pengkajian sejarah maka tidak akan ada setiap peristiwa besar atau kecil menjadi sia-sia tanpa tujuan. Aktifitas tandzirun tidak akan melahirkan zikra (peringatan),  jika tidak dilandasi tadabbur (membaca ayat Kalamiyah Al-Qur’an).

Bagi Madrasah Sumatera Thawalib, sangat sedikit ditemukan sejarahnya yang dituliskan. Tidak banyak literatur yang dapat dijadikan rujukan. Baik tentang pendirinya dan orang-orang hebat lainnya yang telah mencurahkan ilmu dan ketauladanan bagi anak didiknya. Satu-satunya sumber rujukan tentang perjalanan Madrasah ini yang saya pernah temui hanyalah Ustad H. Abdul Gaffar.

Beliaulah orang yang sering menceritakan tentang Inyiak serta para guru-guru yang pernah mengajar di Parabek semasa hidup. Bagi generasi yang sekarang, mereka hanya lebih mengenal sosok-sosok guru yang pernah mereka temui saja, mungkin sebahagian besar tidak mengenal Inyiak H. Abdurrahman orang kedua setelah Inyiak Syekh di Madrasah ini. Ustad Gaffar pernah menceritakan kepada penulis bagaimana keahlian dari Inyiak H. Abdurrahman dalam berdiplomasi. Salah satu cerita itu adalah Inyiak H. Abdurrahman mampu mengubah perbedaan khilafiah tanpa menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat yang masih sangat kuat dilanda oleh persoalan tersebut saat itu.

Tidak juga banyak yang mengenal tentang kepemimpin dari Pak Moeis, begitulah ia akrab disapa, yakni Kepala Madrasah setelah sepeninggal Inyiak. Pak Abdul Moeis adalah menantu Inyiak yang berasal dari Padang Lua. Pak Moeis tidaklah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama, namun berhasil dalam melanjutkan perjalanan Madrasah sepeninggal orang yang mendirikannya. Pak Moeis meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi anak-anak didiknya yang pernah bertemu dan belajar dari beliau. Penulis masih ingat cerita tentang kewibawaan beliau ini dari Ustad Firdaus Riva’i alumni Madrasah ini yang aktif di DDII Bukittinggi. Begitu juga misalnya dengan Inyiak H. Abdul Jalil, Inyiak Imam M. Noer Idris, Mukhtar Luthfi, Inyiak Gaffar Ismael, Inyiak Dt. Palimo Kayo dan banyak lagi yang lainnya.

Tokoh-tokoh yang dilahirkan itu sangat berpengaruh dan mempengaruhi dinamika kehidupan beragama dan bermasyarakat di tingkat lokal yang sarat degan keteladanan. Mereka mampu menjadi rujukan nilai dalam menahan gempuran-gempuran idologi dan dinamika kehidupan. Namun sayangnya tidak ada satupun catatan-catatan tertulis yang bisa dibaca dan dipelajari oleh generasi-generasi berikutnya.

Mungkin Madrasah ini tidak sengaja ingin melupakan sejarahnya. Tetapi, banyak faktor yang membuat  sejarahnya tidak begitu terperhatikan. Salah satu penyebabnya mungkin adalah arus perubahan politik dan sistem pendidikan yang berlansung di negeri ini.  Sudah selayaknyalah Madrasah ini memberikan sedikit waktu dan energi yang dimilikinya untuk kembali menelusuri orang-orang yang pernah berkontribusi dalam membesarkan Madrasah ini yang dengan segenap jiwa dan ketulusannya mengabdikan dirinya bukan hanya untuk keberlansungan Madrasah, namun berkontribusi dalam meneruskan risalah kenabian.

Sejarah bukan subjektif. Sejarah adalah sesuatu yang objektif. Ia tetap akan membuka kebenarannya seiring dengan waktu. Berikan pelajaran bagi siapa saja yang mau mempelajari, memberikan petunjuk dan arah yang harus dilakukan oleh generasi berikutnya. Untuk keobjektifan sejarah ini, Soekarno pernah mengatakan “jangan pernah sekali-kali meninggalkan sejarah atau akan digilas oleh sejarah”. Jadi, bagi kader dakwah yang lahir di Madrasah ini harus mulai memikirkan sejarah lahirnya Madrasah Sumatera Thawalib dan perjalanannya, supaya generasi dakwah yang lahir berikutnya tidak berjalan zig zag membawa  Madrasah ini ke depannya dalam tantangan dan ruang waktu yang berbeda. Sejarah itu menikam jejaknya . Wallahu ‘alam [].

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: