Tentang Penulisan Paper

Ponpes Sumatera Thawalib Parabek memiliki program tugas akhir bagi para santri berupa penulisan paper. Sebagaimana mahasiswa S1 ditugasi menulis skripsi, begitu pula lah para siswa di tahun terakhir. Itulah masa-masa dimana ‘masalah’ adalah sesuatu yang sangat dicari-cari.

Saya juga mengalami itu pada tahun ajaran 2007/2008. Saya galau. UN semakin mendekat, paper juga harus digarap, tapi masalah yang akan dikaji belum jua ditemukan. Suatu ketika, dalam perjalanan Padang-Bukittinggi, di atas sebuah bus ukuran menengah, hujan cukup deras bagi pemotor, dan saya melamun sambil melihat pemandangan bukit dan jurang. Dingin, tenang, dan hijau; tetiba datanglah masalah itu, “bagaimanakah puasa pengidap asma yang menggunakan inhaler?”; kira-kira begitulah momen eureka saya ketika itu.

Segera setelah lulus dan memasuki dunia baru, setiap tahun selalu ada adik kelas yang bertanya, “bang, apo judul piper nan rancak bang?”; sebuah pertanyaan rutinan hingga saat ini.

Penulisan paper memang menjadi salah satu tradisi di Sumatera Thawalib Parabek. Entah sejak kapan, tapi saya yakin tradisi ini sudah sangat tua.

Saya tidak tahu pasti apa tujuan yang diinginkan dengan penulisan paper ini, terutama jika dirujuk kepada nomenklatur yang dipegang oleh Sumatera Thawalib Parabek. Akan tetapi, sebenarnya itu hanya tebakan gampang. Sudah barang tentu, penulisan paper tidak akan jauh dari cita-cita untuk mengkader para mutafaqqih fi al-dīn.

Artinya, tugas penulisan paper paling tidak berkaitan dengan dua hal: kompetensi dan produktifitas. Salah satu kompetensi terpenting di Sumatera Thawalib Parabek adalah kompetensi keulamaan. Para siswa diajarkan ilmu alat (Naḥw, Ṣarf, Manṭiq, dan Balāghah) untuk menggali tradisi keilmuan Islam dari Fiqh dan Uṣūl Fiqh, Tafsīr-Ḥadīṡ dan Uṣūl/Ulūm keduanya, Kalām dan Taṣawuf.

Kompetensi tersebut kemudian harus diwujudkan dalam produktifitas menulis. Tidak sulit untuk mencari landasan teologis tentang pentingnya menulis. Selain bi al-ḥifẓ, Al-Quran juga dijaga bi al-kitābah. Kemunculan Al-Quran dan penulisannya lah yang ketika itu melahirkan serta menumbuh-kembangkan budaya literasi yang begitu intens dalam sejarah Islam, dibuktikan dengan ribuan jilid buku yang ditulis untuk mengungkap dan menjelaskan makna dari pesan Al-Quran dan hadis Rasulullah SAW.

Dengan demikian, kompetensi seorang lulusan Parabek juga bisa diukur dengan kemampuan mereka untuk meramu ilmu yang mereka gali dalam produktifitas tulisan. Mereka dituntut untuk bisa menjelaskan bacaan-bacaan dari literatur sejarah intelektual Islam ke dalam bahasa Indonesia untuk dikonsumsi publik yang lebih luas. Itulah mengapa judul-judul paper yang masuk ke ruangan munaqasyah, dapat dilihat bahwa istinbāṭ al-aḥkām adalah feature penting dalam hal ini.

Memang sejauh ini penulisan tugas akhir paper lebih fiqh oriented. Sangat wajarlah kiranya jika ketika itu, tahun 2007 itu, ketika Ust. Zulfahmi mengumpulkan siswa kelas VI, beliau menegaskan, “kalian boleh merujuk ke buku apapun, tapi jika sudah berkaitan dengan istinbāṭ al-ḥukm tidak boleh tidak merujuk kepada kitab (kuning)!”

Teknologi informasi memberikan tantangan besar terhadap tradisi penulisan paper ini. Sudah menjadi rahasia umum, para mahasiswa di kampus lebih memilih jalan instan dengan jurus copy+paste dari internet daripada melakukan penalaran dan deskripsi secara pribadi. Saya yakin, begitu juga para pejuang paper di Sumatera Thawalib Parabek. Jika bukan copy+paste, paling tidak nyalin buku.

Gaya copy+paste dan nyalin buku ini sejatinya merusak cita-cita penulisan paper. Karena, tidak ada dari dua tujuan di atas yang ditempa lewat copy+paste. Kompetensi keulamaan tidak akan mengalami kemajuan dengan copy+paste internet. Praktik plagiasi ini mengurangi intensitas pembacaan kitab turaṡ dan latihan penalaran istinbāṭ al-aḥkām.

Plagiasi juga mengurangi tempaan pengalaman kepenulisan. Seorang siswa yang berjuang dengan penulisan paper tidak akan mendapatkan pengalaman kepenulisan jika ia memplagiasi tulisan dari internet. Begitu juga jika ia memiliki kecenderungan menyalin.

Terlepas dari itu, menulis paper itu ibarat bermain sepak bola. Butuh latihan yang panjang. Semakin sering seseorang latihan menendang bola, maka ia akan semakin matang baik dari segi teknik, akurasi, maupun power. Semakin sering ia latihan dribbling bola, ia akan semakin tau kemana membawa bola dan bagaimana. Lebih penting dari itu semua, ia semakin tau sisi-sisi mana yang bisa ia latih untuk terus berkembang.

Penulisan paper juga demikian. Semakin dini dan sering kalian belajar menulis, maka beban paper akan terasa semakin ringan. Semakin sering kalian latihan, kalian akan semakin matang dari segi teknik, sistematika, dan penalaran.

Dengan demikian, untuk para santri kelas VI yang saat ini sedang berjuang dengan paper, ada sedikit pesan dari saya. Memang benar bahwasanya penulisan paper adalah tugas akhir; akan tetapi sungguh kalian telah terlambat jika memulai menulis baru di bangku kelas enam. Tapi tidak mengapa, better late than never. Tapi saat ini kalian punya tanggung jawab; jangan sampai adik kelas kalian melakukan kesalahan yang serupa. Gugahlah mereka untuk berlatih menulis dari sekarang.

Satu lagi, sungguh sia-sia jika kalian melakukannya dengan rumus plagiasi dan menyalin semata. Tidak satu pun cita-cita penulisan paper yang tercapai dengan rumus itu. Jangan plagiasi, ya![]

Fadhli Lukman

Fadhli Lukman adalah seorang pelajar Studi Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Sosial Keagamaan. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek angkatan 2002-2008. Ia pernah kembali ke Parabek menjadi tenaga pengajar pada tahun 2012/2013.

Baca jugaclose
%d blogger menyukai ini: